Dua minggu setelah kejadian yang memilukan tersebut, Nyai Margoloyo yang jatuh sakit tiba-tiba meninggal menyusul suaminya, lagi-lagi hanya Surodipo lah yang membantu menguburkan Ibunya Retno tersebut. Tinggalah Retno Jumini yang hanya ditemani oleh Warsiah yang masih setia menamaninya. Retno benar-benar merasa tidak punya siapa-siapa lagi. Semua orang Banyu Urip benar-benar memusuhi Retno dan Warsiah.
Seluruh warga Desa bertindak seolah tidak mengenal Retno dan mengucilkannya, sesuai dengan anjuran Ki Demang. Seolah Retno adalah segumpal najis yang menjijikan yang harus dijauhi, mereka menatap Retno dengan tatapan jijik, bahkan sahabat-sahabat Retno pun ikut memusuhinya.
Tidak hanya sampai disitu, Retno pun kesulitan jika ia membutuhkan sesuatu, tidak ada seorang penjual pun di pasar maupun di warung yang bersedia menjual barang dagangan mereka meskipun Retnoi memohon dan bersedia membayar lima kali lipatnya. Belum lagi mulut-mulut warga yang sangat tajam menggunjing Retno tiap kali gadis cantik berkulit hitam manis ini berbelanja ke Pasar atau berjalan di hadapan umum. Sungguh Retno berasa hidup seperti di neraka!
Retno sudah tidak tahan lagi dengan keadaan yang sangat menyiksa bathinnya, tiap hari kerjanya hanya menangis di makam kedua orang tuanya yang terletak di belakang rumahnya, bahkan ia tidur di sebelah makam kedua orang tuanya. Sampai pada suatu saat ia tidak dapat menahan derita hatinya lagi, ia sempat berniat untuk bunuh diri dengan menikamkan keris peninggalan ayahnya ke dadanya. Namun sebelum ujung keris tersebut menikam dadanya, tiba-tiba terdengarlah suara Ki Margoloyo terngiang di bathinnya.
“Jangan lakukan perbuatan pengecut itu Ndhuk! Kau harus tetap hidup! Jalanmu masih panjang, kau masih bisa menggapai kebahagiaan yang pantas kau dapatkan! Kalau kau sudah tidak sanggup hidup disini, tinggalkan rumahmu, tinggalkan orang-orang yang memusuhimu!” Setelah mendengar bisikan ghaib dari ayahnya tersebut, Retno pun membatalkan niatnya untuk bunuh diri, ia pun menangis sejadi-jadinya sambil memeluk nisan kedua orang tuanya.
Warsiah yang sudah tidak tahan melihat penderitaan putri majikannya tersebut segera memberi tahukan keadaan Retno pada Surodipo yang dikurung ayahnya karena terus-terusan nekat untuk menjalin hubungan dengan Retno, padahal dua hari ke muka, ia harus ikut dengan ayah dan ibunya pergi ke rumah Ki Pemanahan di Pajang untuk kemudian pindah ke Mataram. Dengan susah payah Warsiah menyelinap ke gudang belakang rumah Ki Wirojoyo, dan memberi tahu keadaan Retno pada Surodipo. Dengan nekat Surodipo pun berhasil meloloskan diri dari kurungan di gudang rumahnya untuk kemudian pergi ke rumah Retno.
“Retno!” panggil Surodipo ketika sampai dan melihat Retno sedang menangis sambil memeluk nisan kedua orang tuanya. Pemuda ini pun segera berlari dan memeluk Retno. Untuk beberapa saat lamanya Retno menangis di pelukan Surodipo, Surodipo pun hanya terdiam sambil memeluk Retno dengan erat.
“Aku sudah tidak tahan lagi Kakang…” rintih Retno sambil terisak, air matanya pun membasahi baju Surodipo.
“Sabarlah Retno…” bisik Surodipo ke telinga gadis pujaan hatinya ini, “Retno… Bagaimana kalau kita pergi dari Desa laknat ini? Kita berdua bisa pergi ke tempat yang jauh, ke tempat yang tidak mengenal siapa kita.” ajak Surodipo.
“Tapi bagaimana dengan keluarga Kakang? Aku dengar dari Warsiah besok lusa keluarga kakang akan pergi dan pindah ke Mataram?” tanya Retno.
“Biarkan Ayah, Ibu, dan Adikku yang pergi ke Mataram, aku akan tetap bersamamu.” Ucap Surodipo sambil menatap lembut pada dua bola mata Retno.
"Kakang juga harus ingat bahwa aku ini adalah orang Jipang. Musuh dari seluruh negeri Pajang!" Ucap Retno.
"Bukankah sudah aku bilang bahwa aku tidak akan mempermasalahkan darimana kamu berasal Retno?" ucap Surodipo sambil mengelus kepala Retnno.
"Ternyata dahulu ayahku adalah seorang prajurit telik sandi Jipang. Ketika negeri Jipang runtuh, seluruh sisa laskarnya meminta ayahku untuk memimpin seluruh sisa laskar Jipang menjadi kepala perampok. Harta dari hasil rampokannya itu akan dipakai untuk membiayai pemberontakan kepada Kanjeng Sultan Pajang dan membangun negeri Jipang." tutur Retno.
"Hmmm... Begitu rupanya yang sebenarnya..." Bisik Surodipo dalam hatinya.
"Kakang... Bukankah Romo Kakang adalah seorang Ponggawa tinggi Kasultanan Pajang, malah Romo Kakang adalah orang yang telah membunuh Patih Mentahun. Jadi Romo Kakang adalah musuh Romoku..." desah Retno sambil sesegukan.
"Retno... Kalau benar almarhum Romomu menganggap musuh pada Romoku, dulu tidak mungkin beliau akan menerima lamaranku untuk menikahimu bukan?"
Surodipo lalu mengelus kepala Retno. "Sudahlah Retno, kita lupakan saja masa lalu itu, kita lupakan semua itu, kita tinggalkan jauh di belakang. Sekarang saatnya kita melangkah kedepan... Aku akan membawamu jauh dari negeri Pajang dan Jipang. Kita akan ke suatu tempat yang indah untuk mebangun masa depan kita, dimana semua orang disana tidak ada satupun yang tahu masa lalumu."
“Kita mau pergi ke mana Kakang?” tanya Retno.
“Bagaimana kalau kita ke Kulon? Aku dengar di Kulon ada satu negeri yang sangat indah lagi makmur bernama Sumedanglarang. Disana kita bisa menikah lalu memulai hidup baru tanpa ada seorang pun yang mengenali kita.” usul Surodipo. Retno pun mengangguk sambil tersenyum, namun dalam lubuk hatinya ia punya pemikiran lain.
“Baiklah, kamu tentu lelah, beristirahatlah dulu. Kita akan berangkat nanti sebelum adzan subuh saat hari masih gelap biar tidak ada orang yang melihat kita.” ucap Surodipo sambil memegang dagu Retno.
“Kakang juga beristirahatlah di rumah ini saja.” Jawab Retno.
Kemudian mereka semua masuk ke dalam rumah, tanpa sepengetahuan Surodipo, Retno menyuguhkan air minum yang ia campur dengan kecubung yang tumbuh di halaman belakang rumahnya pada Surodipo. Sehingga sang pemuda ini pun langsung terlelap dengan sangat pulas.
“Maafkan aku kakang, aku tidak mau kakang ikut-ikut susah karena aku. Aku tidak mau karena kakang membela aku terpaksa harus bentrok dengan orang tua kakang… Kakang terlalu baik untukku… Kakang sudah terlalu banyak berkorban untukku… Semoga kakang bisa menemukan kebahagian tanpa kehadiranku…” bisik Retno sambil menatap Surodipo dengan air mata berlinang.
Retno pun mengemasi barang-barangnya seperlunya, kemudian bersama Warsiah mereka pergi meninggalkan rumahnya. Yang ada dalam pikirannya saat itu adalah bagaimana ia secepatnya bisa meninggalkan Desa Banyu Urip yang sudah seperti neraka bagi dirinya. Ia terus melangkahkan kakinya meninggalkan desa meskipun ia tidak tahu harus pergi ke mana karena selama ini tidak pernah meninggalkan desa, namun ia memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju ke arah Wetan karena jika ia pergi ke arah Kulon, ia khawatir Surodipo akan mengetahui dan mengejarnya.
Beberapa jam kemudian saat Adzan subuh berkumandang di Desa Banyu Urip. Surodipo terbangun, ia kaget karena tertidur dengan pulasnya. Dengan gelagapan ia mencari Retno ke seluruh penjuru rumah Ki Margoloyo tapi tak ketemu. Bak kesetanan Surodipo pun berlari ke batas Desa sambil berteriak-teriak memanggil Retno, tapi percuma ia tak menemukan jejak Retno. Ia pun jatuh terduduk sambil menangis meratapi kepergian Retno di hutan batas desa.
***
Pagi harinya, Surodipo pun pulang ke rumahnya, ia berniat untuk pamit pada orang tuanya untuk kemudian mengembara mencari Retno Jumini yang lenyap entah kemana meskipun ia tahu bahwa Romonya akan murka kepada dirinya. Di perjalanan ia bertemu dengan Sekar Arum dan beberapa orang pembantunya yang baru pulang dari sungai sehabis mandi dan mencuci baju.
Ketika sampai ke depan gerbang rumah mereka, raut wajah mereka langsung berubah, Surodipo langsung berwajah tegang sedangkan Sekar Arum dan beberapa pembantunya menjadi ketakutan. saat langkah mereka dihentikan oleh sebelas orang berpakaian dan berjubah serba hitam. Muka mereka semua ditutupi oleh kerudung hitam, selain seorang yang memakai topeng wajah setan yang nampak sangat mengerikan.
“Berhenti!” hardik si pria bertopeng wajah setan yang nampaknya adalah pemimpin kelompok ini. “Apakah ini rumah Ki Wirojoyo?!” tanyanya dengan suara yang serak dan dalam. Bagi orang yang memiliki ilmu kanuragan pastilah akan langsung tahu kalau itu bukan suara asli pria itu karena pria itu sengaja menyamarkan suaranya dengan tenaga dalamnya.
Surodipo langsung memeluk adiknya dan balik bertanya dengan lantang. “Siapa kalian?!”
“Jangan balik bertanya! Jawab pertanyaanku kunyuk!” damprat si topeng setan.
Saat itulah Ki Rongkot pembantu rumah Ki Wirojoyo yang melihat kedua anak majikannya dihadang sekelompok orang tak dikenal, langsung menghampiri mereka. “Ada apa ini?!” lelaki tua yang usinya lebih dari setengah abad itu kemudian menepuk pundak Sekar. “Den Ayu dan Den Bagus, ayo cepat masuk!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Thomas Andreas
retno tegar banget
2022-07-19
1
Mahadhian Khaerinta
Jadi inget sama sinetron laga jaman dulu judulnya "Kaca Benggala" Retno Jumini yg jadi Meriam Bellina 😄
2021-09-29
1
khasna aldiyara
terharu thor dg kisah surodipo😥
2021-02-06
2