Dengan wajah agak muram, Ki Wirojoyo masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap. Ia mengganti pakainnya, menyelipkan Keris Pusaka Kyai Blarak pemberian Sultan Pajang yang berwarangka Gayaman ke pingganggnya, dan mengambil tombak pusakanya. Nyai Wirojoyo menatap persiapan suaminya tersebut dengan diliputi firasat yang sangat buruk.
“Hati-hati Kakang…. Serigala Kelabu itu bukan perampok sembarangan. Meskipun dia sudah terluka, tapi menurut kabar dia adalah perampok yang sangat licik.” ucap Nyai Wirojoyo.
“Kamu tidak usah terlalu khawatir Nyai, tugasku hanya memandu para prajurit Pajang untuk mencari serigala itu.” jawab Ki Wirojoyo.
“Tapi Kakang harus tetap hati-hati! Besok kan hari pernikahan putra sulung kita, Kakang harus sangat waspada, jangan sampai Kakang kenapa-napa dan merusak hari bahagia anak kita.” pinta Nyai Wirojoyo yang entah mengapa merasa sangat tidak ketika akan melepas kepergian suaminya. Dia sendiri merasa heran dengan
perasaan tersebut, sebab seperti yang dikabarkan, Serigala Kelabu sudah terluka parah, dan suaminya pun seorang kesatria yang pilih tanding, akan tetapi entah mengapa wajah Surodipo seolah selalu berkelebat di pelupuk matanya.
Ki Wirojoyo menyimpan tombaknya, kemudian mengelus kepala istrinya sambil tersenyum. “Insyaallah, doakan keselamatan saya Nyai.” jawab Ki Wirojoyo,yang sejujurnya ia pun mendapat firasat tidak enak karena entah mengapa sosok putranya terus terlukis di benaknya.
Ki Wirojoyo kemudian memanggil Surodipo untuk pamit kepada putranya tersebut. “Anakku, aku harus pergi sebentar menemani Ki Bocor dan yang lainnya untuk mencari Serigala Kelabu yang bersembunyi di hutan sekitar desa kita… Kamu tetaplah diam di rumah, jangan keluar!”
“Baik Romo.” angguk Surodipo yang entah mengapa dari semenjak kedatangan rombongan Ki Bocor hatinya merasa tidak enak. Ia menjadi gelisah dan selalu teringat pada Retno Jumini.
“Ada apa ngger? Apa kamu mengkhawatirkan sesuatu?” tanya Ki Wirojoyo yang seolah dapat menangkap firasat di dalam hati putranya tersebut.
“Tidak Romo… Hanya mohon agar Romo selalu berhati-hati…” geleng Surodipo yang tentu saja tidak mau mengganggu pikiran Romonya.
Sebenarnya Ki Wirojoyo pun tidak tahu mengapa ia menjadi punya satu firasat buruk dan menjadi selalu teringat pada Surodipo, tapi tentu saja ia tidak mau merusak kebahagiaan anaknya yang akan menikah besok, ma ia pun segera pamit dan meninggalkan rumahnya bersama rombongan Ki Bocor dan Ki Demang.
***
Sementara itu di dalam goa yang mulutnya tersembunyi karena tertutupi oleh tanaman rambat yang sangat rimbun, Ki Margoloyo terus berusaha untuk bertahan dengan segala daya yang ia punya. Dengan susah payah, ia minum dan mencuci luka akibat sabetan Keris Ki Bocor dari tetesan air yang jatuh memercik dari staklatit-staklatit goa tersebut.
Ia mengerang menahan perih ketika mencuci luka di bahunya. Ia memang telah meminum obat agar racun dari Keris Ki Bocor tidak menjalar ke jantungnya, namun darah hitam dari lukanya tersebut masih terus mengucur, usahanya untuk menahan agar darah tdak terus keluar dengan menotok lukanya tidak berhasil.
Sambil mengerang menahan perih, ia terus teringat pada anak dan istrinya, terbayanglah seandainya ia tidak terbujuk oleh rayuannya Kartono untuk mencuri para Mantri Pamajegan yang ternyata adalah jebakan untuk dirinya tersebut, mungkin sekarang ia sedang berkumpul sambil terus bekerja menyiapkan segala sesuatunya untuk
acara besok. Sungguh amat bahagianya menanti hari pernikahan putri semata wayangnya besok.
Namun itu semua sudah menjadi bubur, ia terlanjur tidak mengindahkan firasat buruknya agar tidak merampok menjelang hari bahagia untuk putrinya tersebut. yang tersisa hanyalah penyesalan dan rasa ingin cepat-cepat pulang ke rumahnya untuk melihat wajah anak dan istrinya. “Nyai… Retno… Maafkan aku…” desahnya.
Dengan susah payah ia mengesot ke mulut goa, disibakannya tanaman rambat yang menutupi goa untuk mengintip keadaan di luar. Ternyata matahari masih bersinar belum sampai ke tengah ubun-ubun, belum memasuki waktu Dzuhur. Ki Margoloyo menghela nafas panjang, karena malam yang diharapkannya segera tiba ternyata masih lama.
“Matahari… Cepatlah pulang… Cepatlah malam… Aku ingin pulang… Ayo malam! Malamlah!” kemudian ia mulai sesegukan menangis, menangisi penyesalannya.
Ia menangis sambil kembali menutup mulut goa dengan tanaman rambat. Entah sudah berapa tahun ia tidak pernah menitikan air matanya dan menangis seperti ini, pria yang tak punya belas kasihan ketika berubah menjadi Siluman Serigala Kelabu ini diserang rasa takut dan penyesalan yang teramat sangat hingga ia hanya bisa menangis sambil mendekap semua kenangan bahagia ia bersama istri dan anaknya.
Sementara itu di luar goa tersebut, di sepanjang hutan di sekitar Kali Laweyan, Rombongan prajurit Pajang yang dipimpin oleh Ki Bocor dan dipandu oleh Ki Wirojoyo terus berusaha mencari jejak Serigala Kelabu. “Bagaimana Kakang? Kami ingin sebelum hari gelap, kita sudah berhasil meringkus Serigala ompong itu!” tanya Ki Bocor yang semakin gemas pada Serigala Kelabu yang belum berhasil mereka temukan.
“Meskipun daerah sini masih hutan perawan, tapi tempat yang aman untuk bersembunyi tidak banyak… Ada sebuah goa yang cocok untuk menjadi tempat persembunyian yang cukup sulit dan berbahaya untuk dijangkau. Ki Coba kesana Dimas.” jawab Ki Wirojoyo.
“Baiklah, kita coba kesana Kakang!” angguk Ki Bocor dengan bersemangat.
“Baik, tapi tolong beri tahu prajurit Dimas untuk selalu waspada, karena disana banyak ular berbisa dan mungkin Serigala itu sudah memasang jebakan disana.” ujar Ki Wirojoyo. Rombongan itupun bergerak ke arah yang ditunjukan oleh Ki Wirojoyo.
Beberapa ratus meter kemudian, Ki Wirojoyo mengangkat tangannya sebagai tanda agar rombongan berhenti. Ia kemudian turun dari kudanya dan melihat tetesan-tetesan darah yang sudah menghitam di rerumputan dan semak belukar disana. Tetapi sedang ia mengamati tetesan-tetesan darah tersebut, tiba-tiba terdengarlah jeritan salah seorang tentara Pajang. Ternyata seekor ular berbisa yang melesat dari atas pohon telah mematuk leher si tentara.
Ki Wirojoyo segera menangkap ular itu dan membunuhnya, namun sayang nyawa si tentara langsung melayang saat itu juga. “Brengsek! Apakah ini jebakan serigala ompong itu?” maki Ki Bocor.
“Saya kira ini memang jebakan Dimas, lihat ekor ular ini yang telah dipotong dan dikaitkan pada tali ini, sehingga apabila ada yang menginjak tali ini, si ular akan bangun dan melompat menyerang!” jawab Ki Wirojoyo sambil menunjuk ekor ular yang dipotong dan diikat pada tali tambang kecil/
“Semuanya, turunlah dari kuda kalian! Kita akan teruskan dengan berjalan kaki agar bisa lebih waspada apabila ada jebakan dari buruan kita!” seru Ki Wirojoyo. “Dia memang bukan perapok sembarangan, saat terluka masih bisa menyiapkan jebakan!” pikir Ki Wirojoyo.
Di dalam goa, Ki Margoloyo yang mendengar suara jeritan tentara Pajang tadi segera mematikan satu-satunya obor yang menyala di dalam goa tersebut. Dengan susah payah ia meraih busur dan anak panahnya, kemudian bersembunyi di tempat yang terlindungi sambil merentangkan busur serta anak panahnya ke arah mulut goa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Bang Roy
ketahuan dech
2022-09-19
1
Thomas Andreas
penyergapan
2022-07-19
0
@elang_raihan.Nr☕+🚬🐅🗡🐫🍌
Mantaaab ☕
2021-01-27
2