Di rumah Juragan Margoloyo, Ki Margoloyo dan istrinya resah menanti kepulangan Retno Jumini, putri semata wayang mereka. Ki Margoloyo dengan wajah merah padam berjalan berputar kesana kemari mengelilingi ruang keluarga, sementara Nyai Margoloyo duduk terdiam dengan menundukan kepalanya. “Kita sudah membagi tugas
Nyai… Aku mencari nafkah, dan kamu mengurus rumah tangga serta menjaga putri kita. Tapi sekarang sudah malam begini Retno Jumini belum pulang dan kamu tidak tahu kemana perginya!”
Nyai Margoloyo menghela nafas berat, dengan wajah murung dan kepala tetap tertunduk karena takut melihat wajah suaminya, ia menjawab. “Aku memang salah Kakang, aku tidak tahu kalau Retno pergi. Wong tadi aku lihat dia masih memetik sayur di kebun sama Warsiah.”
Ki Margoloyo mendesah berat, sebenarnya yang ia khawatirkan bukan hanya keselamatan putri semata wayangnya saja, tapi seluruh anggota keluarganya karena baik ia dan istrinya menyembunyikan satu rahasia besar yang tidak boleh seorang pun tahu, bahkan Retno Jumini putri mereka pun tidak boleh tahu, apalagi Warsiah yang hanya pembantu mereka.
Nyai Margoloyo pun memahami akan kekhawatirn suaminya karena ia senidiri pun sebenarnya khawatir akan keselamatan keluarga mereka apabila rahasia besar yang telah mereka simpan rapat-rapat selama belasan tahun terbongkar. Ia hanya bisa menundukan kepalanya sambil memegangi dadanya seolah berusaha menghentikan degupan jantungnya yang berdetak amat kencang.
Ki Margoloyo termenung sambil menatap langit-langit rumahnya. Teringatlah ia pada peristiwa beberapa belas tahun silam saat ia disuruh untuk menghadap Raden Aryo Penangsang di Keraton Jipang. Saat itu atas siasat dari Patih Mentahun, Raden Aryo Penangsang hendak untuk mengerahkan seluruh pasukan telik sandinya untuk memata-matai seluruh wilayah Pajang dengan menyamar menjadi para pedagang. Ki Margoloyo menjadi sedikit dari sekian mata-mata Jipang yang berhasil menyusup masuk ke Kota Pajang dengan menyamar menjadi seorang pedagang hasil bumi.
Namun belum lama ia melaksanakan tugasnya di Pajang, tiba-tiba tersiar kabar bahwa Aryo Pengsang dan Patih Mentahun telah gugur akibat serangan pasukan Pajang yang dipimpin oleh Ki Pemanahan. Maka Ki Margoloyo pun buru-buru kembali ke Jipang untuk membawa istrinya serta anaknya yang masih balita untuk mengungsi ke Pajang. Di Pajang ia membuang semua masa lalunya sebagai prajurit telik sandi Jipang dan merubah profesinya menjadi pedagang sungguhan dan membaur bersama para penduduk Kota Pajang. Namun begitu, tetap saja ia dan istrinya masih sering diliputi oleh rasa cemas dan takut, jika suatu saat akan ada orang yang mengenali dan mengetahui identitas mereka yang sebenarnya, bahwa mereka adalah orang Jipang, dan Ki Margoloyo adalah mantan prajurit telik sandi Jipang.
Setelah terdiam beberapa saat karena dipermainkan oleh bayangan-bayangan masa lalunya, sang Juragan paruh baya yang masih nampak kegagahan dan ketampanannya ini menatap pembantunya, seorang gadis sebaya Retno yang ditugasi menjadi pembantu sekaligus menjadi pengasuh dan pendamping Retno. “Sama siapa Retno pergi?” tanyanya dengan halus namun menyiratkan ketegasan.
Warsiah menjawab tergagap dengan menundukan wajahnya dan ketakutan. “Sam… Sama…”
“Sama siapa? Jawab yag jujur, aku tidak akan marah!” ucap Ki Margoloyo.
Tetapi baru saja Warsiah hendak membuka mulutnya kembali, tiba-tiba pintu rumah itu terbuka dari luar, masuklah Retno yang sekujur pakaiannya basah kuyub dengan kepala tertunduk. Sang Juragan dan istrinya pun langsung menoleh dan menatap tajam Retno.
Karuan saja Ki Margoloyo langsung hendak melangkah menghampiri Retno, namun langsung ditahan oleh istrinya. “Kakang! Tolong jangan dimarahi, kasihan!” pintanya.
Kembali terdengar suara erangan nafas berat dari Ki Margoloyo, wajahnya nampak merah padam, kemudian jari telunjuknya menunjuk putri semata wayangnya tersebut. “Aku hanya mau tanya, darimana dia dan pergi dengan siapa?! Retno ini anak perempuan! Dia anak kita satu-satunya! Sebab apapun yang dia lakukan, dia membawa nama keluarga! Mengerti kamu Ndhuk?!”
Dengan mata melotot dan wajah merah padam, sang Juragan berjalan perlahan menghampiri putrinya yang masih berdiri di palang pintu rumahnya. “Tentunya kamu tidak ada niat untuk memalukan seluruh keluarga bukan? Sebab kau tahu, betapa tidak adilnya kalau seluruh keluarga ini cemar cuma gara-gara perbuatanmu! Kau tahu tho Nduk?!”
“I… Iya…” Jawab Retno dengan tergagap dan menundukan kepalanya.
“Darimana kamu?!” tanya Ki Margoloyo dengan tegas.
“Kakang…” Nyai Margoloyo langsung menengahi dan merangkul Retno yang nampak jelas sedang ketakutan mendapati kemarahan ayahnya. “Mungkin Retno sedang ketakutan, kita kan bisa tanyai dia besok. Biar dia mandi dulu dan beristirahat dulu!”
“Ganti dulu bajumu ya Ndhuk, nanti masuk angin!” ucap Sang Nyai, sambil mengelus lembut kepala Retno.
“Iya…” jawab Retno perlahan sekali sehingga mirip berbisik, kemudian melangkah masuk menuju kamarnya dengan kepala tertunduk.
“Jangan suka membela anak kalau sedang dimarahi, nanti jadi tidak benar! Aku yakin kalau Retno sedang menyembunyikan sesuatu! Aku marahi dia bukan demi keluarga kita saja, tapi juga demi masa depan dia!” gerendeng Ki Margoloyo dengan nafas berat.
Dengan wajah muram, Ki Margoloyo duduk. Matanya kemudian menatap ke atas langit-langit rumahnya seolah sedang menerawang masa lalu. Di pelupuk matanya terlukis sosok Retno yang masih kecil, dengan penuh kasih sayang Sang Juragan menggendong anaknya. “Romo paling sayang sama anak yang nurut, anak yang baik dan tidak pernah bohong. Kalau sudah besar nanti, jadilah orang baik yang selalu jujur ya Ndhuk” ucapnya saat itu sambil mengecup kepala Retno kecil.
Bayangan tersebut menari-nari di pelupuk mata Sang Juragan, berkali-kali terdengar suara elahan nafasnya yang berat diantara suara derasnya hujan dan angin di luar. “Duh Gusti… Betapa aku merindukan saat-saat Retno masih kecil dulu… Ternyata memang benar apa yang dikatakan orang-orang, punya anak perempuan, rasanya lebih berat
daripada punya anak laki-laki.” desahnya.
Mendengar itu istrinya pun memegang bahu suaminya, dengan nada sedih ia berujar. “Maafkan saya Kakang… Saya merasa menjadi seorang ibu yang tidak berguna…” desahnya.
Karena tidak tega menyaksikan kesedihan majikanya, akhirnya Warsiah pun berbicara terus terang meskipun dengan ketakutan. “Maafkan saya juragan… Sebenarnya… Sebenarnya saya tahu dengan siapa Den Retno pergi…”
“Pergi dengan siapa dia?” tanya Sang Juragan dengan halus namun disertai tatapan tajam pada pembantunya tersebut.
“Dia pergi bersama… Raden Surodipo, putranya Raden Wirojoyo.”
“Begitu…. Hmm…” Ki Margoloyo mengangguk-ngangguk.
“Sekarang kita sudah tahu dengan siapa pergi, sekarang jangan marahi lagi putri kita Kang…” pinta Nyai Margoloyo.
Ki Margoloyo menggelengkan kepalanya perlahan. “Aku tidak akan memarahi dia Nyai… Daripada memarahi dia, ada hal yang lebih penting untuk kita lakukan.”
Ki Margoloyo kemudian masuk kedalam kamar Retno. Dia bertanya apakah Retno mencintai Surodipo, mula-mula Retno hanya diam saja karena takut ayahnya akan makin marah. Tapi setelah Ki Margoloyo mengancam akan menghajar Surodipo kalau ternyata Retno tidak mencintainya dan hendak memperkosanya, karena perbuatan si
pemuda yang membawa Retno pergi tanpa izin, itu akan dianggap mencemarkan nama baik keluarga Sang Juragan, maka cepat Retno mengangguk dan memohon ayahnya agar tidak menghajar Surodipo.
Retno memang benar-benar mencintai Surodipo, karena saat itu memang Surodipo lah satu-satunya lelaki yang ia kenal dan mampu merebut hatinya. Baru sekali itulah Retno disentuh lelaki. terus terang, ia sangat takut Surodipo akan dicelakakan oleh ayahnya.
Tapi di luar dugaannya, Ki Margoloyo tidak marah sedikit pun kepadanya, ia juga tidak marah pada Retno. Ia hanya berkata bahwa ia harus melakukan apa yang harus dilakukan olehnya. Meskipun saat itu Retno masih sangat muda, namun zaman itu gadis-gadis yang sudah aqil baligh seperti dia sudah pantas untuk dinikahkan, maka Ki Margoloyo pun bermaksud untuk meminta pertanggung jawaban dari Surodipo.
Nyai Margoloyo tersentak hatinya ketika mengetahui Ki Margoloyo hendak meminta lertanggung jawaban dari Surodipo. "Kakang... Apakah Kakang yakin akan meminta Surodipo untuk menikahi putri kita? Bukankah Ki Wirojoyo adalah Ponggawa tinggi Kasultanan Pajang? Bahkan ayah Surodipo itulah yang membunuh Gusti Patih Mentahun." Tanya Nyai Margoloyo dengan setengah berbisik agar ucapannya tidak terdengar orang lain selain suaminya.
Ki Margoloyo mendesah berat. Ia memahami kekhawatiran istrinya tersebut yang khawatir jika kelak Ki Wirojoyo akan mengetahui bahwa Ia dan keluarganya adalah orang pelarian dari Jipang. Namun ia punya pemikiran lain, maka ia pun menjawab. "Sebaiknya hal itu tidak perlu kita ungkit demi krbahagiaan putri kita Nyai. Karena negeri Jipang sudah lama runtuh dsn sekarang kita sudah menjadi rakyat Pajang. Aku yskin Ki Wirojoyo pun akan maklum jika memang suatu saat nanti dia mengetahui semua tentang kita."
***
Di saat yang sama di rumah Ki Wirojoyo. Sang Ponggawa Kasultanan Pajang ini sedang berdiri sambil mendengus dan menatap tajam pada Surodipo yang berdiri dihadapannya sambil menundukan kepalanya. “Apakah kau pantas kau meyebut dirimu lelaki kalau kau tidak mau mengakui apa yang sudah kau perbuat?”
“Maafkan saya Romo… Sa… Saya….” ucap Surodipo dengan terbata-bata.
Nyai Wirojoyo menghela nafas berat. Sekar Arum, adiknya Surodipo pun menundukan kepalanya karena ketakutan pada ayahnya. “Ndhuk, masuklah ke dalam kamarmu.” perintah Nyai Wirojoyo dengan lembut kepada anak gadisnya yang cantik dan berkulit langsat tersebut.
“Bicaralah yang jujur ngger… Darimana saja kamu…” bujuk ibunya.
“Sa… Saya… Dari Bukit Pengantin… Sam… Sama…”
“Sama siapa?!” bentak Ki Wirojoyo dengan mata melotot.
“Sam… Sama… Retno Jumini…” jawab Surodipo pada akhirnya.
“Apa?!” bukan main marahnya lelaki berkumis melintang ini. Dia mengangkat tangannya dan… Plakkk! Satu tamparan keras mendarat di pipi Surodipo, pemuda idaman Desa Banyu Urip yang banyak disukai gadis-gadis di desa tersebut itupun terjatuh saking kerasnya tamparan sang ayah. Ia pun mengaduh-ngaduh sambil memegangi bibirnya yang pecah sampai berdarah akibat tamparan ayahnya tersebut.
"Tadinya Romo mau menyampaikan kabar baik padamu, akhirnya Gusti Sultan telah memenuhi janjinya untuk mmberikan tanah Mataram pada Ki Pemanahan, kita akan segera pindah ke Mataram. Dan Romomu ini dipercaya untuk menjadi pemimpin kesatuan Prajurit Mataram! Tapi apa yang aku dapati sekarang?! Aku malah dibuat terkejut dengan kelakuanmu yang tak tahu adat dan memalukan keluarga kita itu!" semprot Ki Wirojoyo.
"Maafkan saya Romo..." Ujar Surodipo dengan suara pelan mirip orang berbisik.
"Sebagai seorang lelaki keturunan Selo kamu tahu bukan apa yang harus kamu lakukan?!" tanya Ki Wirojoyo sambil menatap wajah Surodipo yang masih meringis kesakitan.
"Saya paham Romo.." Jawab Surodipo perlahan.
"Bagus! Besok pagi kita berangkat ke rumah Ki Margoloyo untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu!" tegas Ki Wirojoyo sambil menepuk keras pundak putra sulungnya tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Bang Roy
kawin dong
2022-09-19
2
Thomas Andreas
keraas
2022-07-17
1
khasna aldiyara
ceritanya keren,tak kalah dg wasiat iblis
2021-01-29
3