Sementara itu di barisan inti pasukan Pajang, Ki Juru Mertani melihat bahwa taktiknya telah berhasil untuk memancing Arya Penangsang dan seluruh induk pasukan Jipang memusatkan perhatiannya ke bagian tengah induk pasukan Pajang. Ia pun segera memberi aba-aba pada Ki Pemanahan. “Kakang Pemanahan, sekaranglah saatnya!”
Ki Pemanahan mengangguk, ia kemudian bersuit menggunakan tenaga dalamnya sehingga suaranya bergema kemana-mana dan terdengar oleh telinga Ki Surokerti dan Ki Penjawi yang berada di ujung sayap kiri dan kanan kekuatan Pajang. Kedua jago kerabat Selo itu segera memberi aba-aba agar pasukan mereka yang berada di sayap, segera bergerak ke tengah untuk menjepit kekuatan Jipang.
Lagi-lagi taktik Ki Juru Mertani berbuah gemilang, kekuatan Jipang berhasil dijepit dari kedua sisi sayap, dalam sekejap saja mereka langsung terdesak akibat jepitan kekuatan Pajang dari kedua sayap tersebut. Hal ini membuat Aryo Penangsang semakin geram dibuatnya. “Jahanam! Taktik licik!” makinya.
“Wahai seluruh prajurit Jipang! Jangan ada yang berani mundur! Siapapun yang mundur akan kutebas lehernya! Terus gempur cecungunguk-cecunguk dari Pajang itu sampai tetes darah kalian yang terakhir!” perintah Arya Penangsang sekaligus mengancam seluruh pasukannya. Sementara Arya Mataram hanya bisa terdiam karena ini adalah kesalahan taktiknya, apalagi sekarang mereka sudah terlajur menyebrangi sungai Bengawan Sore yang sebenarnya dipantang untuk seluh keluarganya.*
*Konon sewaktu Raden Kikin yang bergelar anumerta Pangeran Sekar Seda Ing Lepen tewas terbunuh oleh orang suruhan Raden Mukmin (kelak bergelar Sunan Prawoto) putra Sultan Trenggono dengan distusuk oleh Keris Kyai Setan Kober, darahnya mengalir melewati Sungai Bengawan Sore sehingga timbulah kepercayaan bahwa bagi Arya Penangsang dan seluruh keturunan Raden Kikin serta keluarganya dipantang atau dilarang untuk menyebrangi Sungai Bengawan Sore.
Sementara itu di sebrang Bengawan Sore, perang berkecamuk tak kalah dahsyatnya. Pasukan berkuda Pajang yang dipimpin Ki Wirojoyo terus merangsek maju, mendesak buntut induk pasukan Jipang yang masih berada di sebrang sebelah timur sungai Bengawan Sore. Ki Wirojoyo terus mengamuk dengan hebatnya, pedang pusakanya berkelbat kian kemari membabat tubuh para pasukan Jipang.
Tak terhitung jumlah pasukan musuh yang nyawanya melayang akibat amukannya ini. Hal ini membuat Patih Mentahun berang, Sang Patih Jipang pun segera memacu kudanya dan mengadang Ki Wirojoyo. “Ternyata jagoan Selo macam kau beraninya hanya pada prajurit kecil Wirojoyo! Ayo hadapi aku!”
Ki Wirojoyo menyeringai mendapati sindirian Patih Mentahun tersebut. “Aha Gusti Patih Mentahun! Kalau begitu majulah tuan Patih besar!” ejeknya.
“Kurang ajar! Hiaaaa!!!” Ki Mentahun segera melompat dari kudanya dan menerjang Ki Wirojoyo dengan tombak pusakanya. Yang diserang tak tinggal diam, dia palangkan pedang pusakanya untuk menahan ujung tombak Ki Mentahun. Kemudian ia pun melompat dari kudanya dan balas menyerang Ki Mentahun, terjadilah duel yang amat seru diantara dua jago berilmu sangat tinggi tersebut.
Semua hal ini tak luput dari pandangan Ki Juru Mertani. Menurutnya sekaranglah saatnya untuk mengakhiri perang ini. Ia menoleh pada Sutowijoyo, putra sulung Ki Pemahan sekaligus putra angkat Sultan Hadiwijoyo, yang sudah menunggangi kuda betina yang bulu di buntutnya sudah dipotong sehingga memperlihatkan “Bagian Kewanitaan” dari kuda betina tersebut.
“Kakang Pemanahan, sekaranglah saatnya untuk memancing Arya Penangsang!” ujar Ki Juru.
Ki Pemanahan mengangguk, kemudian menatap putra sulungnya yang sudah siap siaga dengan tombak Kyai Pleret di tangannya tersebut. “Sutowijoyo anakku.”
Sutowijoyo mengangguk takzim. “Ya Romo.”
“Lakukan tugasmu sesuai dengan rencana Adi Juru! Dan jangan lupa, tombak Kyai Pleret jangan sampai lepas dari tanganmu!” perintah Ki Pemanahan.
“Sendiko Romo!” jawab Sutowijoyo.
Ki Juru pun menatap Sutowijoyo dengan tatapan penuh harapan, kemudian senyum kecilnya merekah. “Hati-hati Ngger!”
“Baik Paman! Hiaahhh! Hiaah!” Sutowijoyo mengangguk kemudian memacu kuda betinanya ke tempat dimana Arya Penangsang berada.
Ki Juru Mertani mahfum bahwa Arya Mataram, adik Arya Penangsang selalu berada disisi kakaknya, maka ia pun memanggil salah satu jagoan Selo lainnya, yakni Ki Surokerti. “Adi Surokerti!”
“Saya Kakang Juru.” jawab Ki Surokerti.
“Sutowijoyo akan memancing Arya Penangsang seperti yang kita rencanakan, namun adinya Arya Mataram selalu berada disisinya. Kamu hadapilah Arya Mataram agar dia menjauh dari Arya Penangsang!” perintah Ki Juru.
“Baik Kakang Juru! Hiaaahhhh!” Ki Surokerti menjura kemudian memacu kudanya untuk menghampiri Ki Arya Mataram.
Saat melihat penguasa Jipang yang sedang mengamuk mengobrak-abrik pasukan Pajang, Sutowijoyo langsung berteriak dengan lantangnya seraya mengacungkan tombak Kyai Pleretnya. “Aryo Penangsang! Tunjukan keberanianmu! Hadapi aku, putra Romo Kanjeng Sultan Hadiwijoyo! Sutowijoyo!”
Arya Penangsang menghentikan amukannya dan menatap tajam pada Sutowijoyo. Nafasnya memburu, dadanya bergemuruh dahsyat, matanya melotot bagaikan hendak keluar ketika mendapati tantangan dari Sutowijoyo yang ia anggap masih anak kemarin sore tersebut. “Bocah Edan! Berani dia menantang aku!”
“Hati-hati akan kelicikan si Juru Mertani dan orang-orang Selo itu Kakang!” bisik Arya Mataram.
Namun Arya Penangsang tidak menggubris peringatan dari adiknya tersebut. “Hoi anak sableng! Suruh ayahmu Hadiwijoyo datang kemari sesuai surat tantangannya! Suruh dia adu kesaktian sampai mati denganku!” bentak Arya Penangsang yang suaranya menggema kemana-mana.
Sutowijoyo menyunggingkan senyum meledek seolah meremehkan Arya Penangsang untuk memancing kemarahan lawannya. “Kau tidak pantas menjadi lawan Ramanda Sultan! Cukup aku yang mejadi lawanmu!”
Bukan main marahnya Arya Penangsang mendapat penghinaan demikian rupa dari pemuda tanggung tersebut, dia langsung menghunus Tombak pusakanya yang bernama Kyai Muntab. Arya Mataram segera menahannya. “Jangan pedulikan dia Kakang…” namun belum selesai Arya Mataram berucap, tiba-tiba Gagak Rimang, kuda yang dinaiki Arya Penangsang menjadi binal, dan sekonyong-konyong berlari mengejar kuda Sutowijoyo. Ternyata Sutowijoyo sengaja membalikan kudanya sehingga “Bagian Kebetinaan” kuda betina yang ditumpanginya terlihat oleh Gagak Rimang, karuan saja kuda tumpangan Arya Penangsang tersebut menjadi amat bernafsu, terpancing hasrat libido untuk menuntaskan naluri kejantanannya.
“Kakang!” seru Arya Mataram seraya hendak mennyusul kakaknya, namun tiba-tiba… Wushhh!!! Sebatang tombak menyergap dari arah samping kiri Arya Mataram dengan secepat kilat, terpaksa adik Arya Penangsang tersebut melompat dari kudanya, berjumpalitan di udara demi menghindari serangan yang membokongnya tersebut.
“Arya Mataram! Akulah lawanmu!” seru si pembokong yang tak lain adalah Ki Surokerti sambil mengacungkan keris pusakanya di hadapan Arya Mataram.
“Sial!” maki Arya Mataram. Ia tak punya pilihan lain, maka menerjanglah ia dengan hebatnya pada Ki Surokerti agar bisa secepatnya menyusul kakaknya. “Akan kutumpahkan darah kalian orang-orang Selo untuk memerahkan air Bengawan Sore ini!” maki Arya Mataram seraya menusukan keris pusakanya mengarah dada Ki Surokerti.
Ki Surokerti membalas dengan tak kalah geramnya. “Kita lihat darah siapa yang akan memerahkan kali ini! Hiaatttt!” Ki Surokerti mengelak dan balas menyerang, maka terjadilah duel dahsyat yang dipenuhi dengan jual beli serangan-serangan mematikan antara jago Selo melawan jago Jipang tersebut.
Sementara itu Sutowijoyo memacu kudanya ke arah kali Bengawan Sore, Aryo Penangsang terus mengejar Sutowijoyo dengan penuh nafsu. Di tengah kali bagian yang dangkal, sekonyong-konyong Sutowijoyo membalikan kudanya, dan tombak Kyai Pleret dengan secepat kilat menusuk ke arah perut kiri Arya Penangsang!
Di lain pihak, Gagak Rimang kuda yang dinaiki Arya Penangsang kembali menjadi sangat binal ketika melihat **** ********** kuda betina yang dinaiki Sutowijoyo, sehingga menjadi sulit dikendalikan oleh Arya Penangsang. Hal ini pula yang membuat Arya Penangsang sulit untuk menghindari tusukan dari tombak Kyai Pleretnya Sutowijoyo!
Crasss!!! Arya Penangsang masih berhasil mengelak dengan melompat keatas dari punggung kudanya, namun mata tombak Kyai Pleret masih sempat membeset perut bagian kiri Arya Penangsang sehingga perut penguasa Jipang Panolang tersebut robek besar! Lukanya menganga hingga ususnya berbuntai keluar dari dalam perutnya! Ternyata Ajian “Tameng Wojo” miliknya yang membuat tubuhnya kebal terhadap segala jenis senjata, tak mampu menahan keampuhan dari mustika Tombak Kyai Pleret!
Dengan menggeram menahan sakit yang teramat sangat sekaligus menahan amarahnya yang sudah meledak di atas ubun-ubunnya, Arya Penangsang mengaitkan ususnya yang berbusaian keluar ke hulu Keris Kyai Setan Kobernya yang terselip di pinggang sebelah kirinya.
Kemudian ia menggerung dahsyat dan berkelebat secepat kilat, tombaknya menerjang mengarah tubuh Sutowijoyo! Yang diserang terkejut, maka ia pun melompat dari atas kudanya… Bresss!!! Kepala kuda betina yang tadi dinaiki Sutowijoyo tewas, terkena tusukan Tombak pusaka Kyai Muntab milik Arya Penangsang!
“Bocah Setan! Sekarang giliran kepalamu yang kupenggal! Akan kukirim kepalamu pada si Karebet*!” Geram Arya Penangsang setelah melihat Sutowijoyo berhasil menhindar dari serangan mautnya. (*Karebet / Mas Karebet = Nama Asli Sultan Hadiwijoyo)
Sutowijoyo malah berkacak pinggang sambil tertawa meremehkan lawannya. “Ternyata kau hanya becus omong besar seperti dalang wayang saja! Hahahaha!”
“Jahanam! Hiaaahhhh” Arya Penangsang kembali menerjang, menyerang Sutowijoyo. Sutowijoyo terkejut karena melihat Arya Penangsang masih bisa bergerak secepat kilat seperti itu! Tranggg! Sutowijoyo berhasil menahan sabetan mata tombak pusaka Arya Penangsang, kembali ia dibuat terkejut ketika senjata beradu, ternyata tenaga dalam Haryo Jipang tersebut masih sangat dahsyat, malah mungkin berada satu tingkat diatas putra sulung Ki Pemanahan ini.
Sebelum sempat Sutowijoyo berpikir bagaimana langkah selanjutnya, serangan-serangan maut Arya Penangsang keburu menghampiri dirinya. Arya Penangsang terus mencecar seluruh bagian vital tubuh Sutowijoyo dengan beringas sehingga membuat putra angkat Sultan Hadiwijoyo ini kelabakan dan terus mengayunkan tombaknya hanya untuk menangkis serangan-serangan lawannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Thomas Andreas
berasa banget lokalnya...mantap
2022-07-17
1
Anonymous
Keris nagasasra dan keris sabuk inten dan bende mataram.
2021-12-26
1
라벤더(labendeo)
𝚃𝚊𝚗𝚊𝚑 𝚓𝚊𝚠𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚊𝚛𝚒𝚔
2021-11-09
1