Mereka terus mendekati gubug di tengah hutan itu. Gubug ini terbuat dari bambu. Yang bagian sisi nya di pakai papan bambu itu sebagai pelindung sisi. Namun pada dua bagian nya taka da apa-apa sama sekali. Terbuka. Hanya di sisi belakang itu saja yang sengaja di beri penghalang, atau tutup. Dengan bagian tengah ada semacam papan lagi yang dibuat melintang. Cocok sebagai tempat duduk atau rebahan. Juga dari papan kayu saja. Dengan anyaman bambu yang telah rusak. Itu yang membuat duduk sedikit tak nyaman. Namun kalau tengah lelah, bagaimana lagi. Pasti akan nikmat sekali. Apalagi dengan minum air the tawar dalam
Nampaknya memang di buat oleh para pemilik garapan tersebut memang untuk menunggu.
Baik saat selesai memanen hasil hutan semacam kayu dan lain nya atau untuk berteduh saja.
Jika itu untuk menebang kayu-kayu besar yang kemudian untuk di tanami ulang dengan tumbuhan yang menghasilkan, maka kayu
“Kosong yah“
“Masa“
“Ada bekas minum enggak“
“Nggak ada“
“Wah mereka nggak kesini berarti“
“Coba ke sisi lain pondok ini“
“Sama saja orang Nampak dari sini“
“Ya siapa tahu. Ini kan masih siang, barangkali mereka belum pulang.“ Mereka menebak. Sebab memang lumayan siang sih kali ini. Kalau untuk orang sekitar, keluar masuk hutan demikian bisa sangat cepat. Karena sudah terbiasa. Sehingga jalanan lorong sangat mereka kenali, terutama tentang baik buruk nya keadaan. Sehingga sangat minim dalam menghadapi kendala. Beda dengan mereka yang jarang ke tempat tersebut. Belum lagi kalau ada halangan yang jelas mereka mesti hati-hati.
“Atau sedari pagi memang tak ke hutan mereka. Bukti nya kosong.“ Perkiraan memang tak selalu benar. Tapi mengetahui jika hampir tanpa jejak, maka kemungkinan itu bisa saja benar. Apalagi kalau situasi nya memang kurang memungkinkan untuk selalu dating ke situ. Sebab andai tanpa hasil buat apa juga ke situ. Barangkali di rumah lagi banyak keperluan. Atau sawah dan ladang di seputar rumah masih bisa dikerjakan, maka lebih baik untuk tinggal di rumah. Atau bisa juga tengah menemui tamu. Tapi kebanyakan orang hutan begitu akan senang di hutan, walau pulang tanpa hasil, dan kemungkinan taka da apa-apa di ladang mereka, namun seakan menjadi suatu hal yang menggembirakan kalau sudah melihat hasil ladang yang sudah mereka tanami tumbuh dengan baik tanpa ada yang mengganggu. Terutama rumput hijau yang sangat mudah tumbuh nya. Walau tak di harapkan tapi tetap saja bisa memenuhi lokasi tersebut. Itu karena mereka sangat mudah berkembang biak. Hanya mendapat air hujan semalam saja sudah langsung bisa tumbuh subur. Walau ini juga bukan suatu yang fatal. Bahkan beberapa orang yang punya banyak ternak akan menjadikan itu suatu berkat tersendiri. Karena bisa di fungsikan sebagai rejeki terutama bagi peliharaan mereka. Pastinya berbeda dengan petani yang hanya mengandalkan dari benih hasil ladang nya. Yang akan terganggu untuk kesuburannya kalau terjepit oleh tumbuhan liar demikian. Selain itu walau tumbuh namun buah yang dihasilkan tak subur. Bahkan bisa jadi hanya beberapa saja yang menghasilkan, karena mesti berebut segalanya dengan tanaman yang tak dikehendaki itu. Makanya lebih baik menyiangi dan membiarkan yang di harapkan tetap tumbuh dengan hebat.
Di coba nya mengelilingi gubug aneh itu.
Tiba-tiba Lilin berteriak.
“Tolong aku di cakar!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments