“Nah sampai,“ ujar mereka. Mobil memang cepat. Serta sanggup merubah waktu, serta sedikit bisa mengurangi rasa penat itu. Coba bayangkan kalau mereka terus jalan, pastinya masih berpuluh kilo meter mereka dari lokasi sekarang. Sebab langkah kaki begitu memerlukan waktu. Sedangkan asik nya menggunakan teknologi adalah seperti saat ini yang bisa memangkas perjalanan dari semula Nampak jauh sekali menjadi seakan sangat dekat. Sekarang sepertinya sudah taka da kata jauh. Bisa dijangkau dengan cepat. Jangankan hanya untuk satu lokasi. Yang antar benua juga masih bisa ditempuh dalam hitungan jam. Itu karena ditemukan nya alat transportasi yang serba canggih, serta demikian tepat guna menjangkau tujuan dan arah yang sudah direncanakan. Sehingga segalanya dari rencana itu bisa terlaksana jika kendala yang menghambat nya juga tak banyak. Karena jika banyak halangan, niscaya sesuatu yang mudah juga bakalan jadi sulit. Misalkan kalau ada badai, maka pesawat supersonik juga akan sulit melintas. Bahkan jika memaksa, akan langsung jatuh menghujam bumi. Menjadi serpihan-serpihan tak bermakna.
“Yuk turun,“ kata Lilin sembari meraih tangan Aqi.
“Ih, di cakar lagi.“
“Lamban sih lu,“ ujar Lilin yang terus saja menarik si Aqi. Orang ini kalau tak dipaksa begitu. Apa-apa lamban. Kaya keong saja. Makanya sebagai perempuan yang ambis tentu tak sabaran. Dan mesti gerak cepat apa-apa nya, sat-set gitu. Bukan nya buru-buru, namun supaya segalanya bisa memperpendek waktu. Walau waktu tak bisa di perpendek, tapi setidaknya itu ungkapan orang yang memaksa waktu ternyata tak banyak artinya buat orang yang cekatan dana pa-apa serba bisa dilaksanakan dengan cepat. Intinya waktu demikian berharga. Kalau bukan untuk usaha, membuat novel, atau sedikit menghayal, semua itu sangat diperlukan dalam memanfaatkan waktu yang terus melaju. Seakan dunia ini bakal segera bertabrakan dengan galaksi tetangga yang sudah mengincar, maka akan semakin kacau, bahkan tak sempat menyaksikan urusan selesai, kalau segala nya berjalan lelet.
“Eh, kaki kanan apa kiri. Dipikir dulu dong,“ ujar Aqi masih berpikir. Maklum kendaraan kalau masih melaju membuat orang paling kokoh sekalipun bakalan sedikit lengah. Belum lagi selemah Aqi. Bisa saja dia terpelanting hingga terseret dalam luka menyedihkan kalau terjadi. Atau bahkan jika jatuh gedebuk, yang membuat muka hilang arah. Malu yang tak tertahankan. Serta bakalan membuat orag tertawa lebar. Itu bukan main, bukan suatu hiburan namun sangat menghibur buat yang melihat. Dan hal ini yang mesti nya dihindari, supaya segala nya lancer serta bisa melanjutkan urusan dengan posisi sehat senantiasa, dan berhasil di urusan yang di rencanakan itu dengan sukses.
“Lompat saja lah. Nggak penting. Asal sampai tanah juga sudah beres,“ kata Lilin lagi yang merasa kalau omongan Aqi semakin tak karuan. Dia saja bisa segera sampai, dan taka pa-apa. Tapi si lelaki itu malah Cuma bengong saja memikirkan kaki. Kan bisa di pikirkan kalau sudah melangkah. Toh masih pendek ini. Bukan nya masuk ke jurang di sisi jalan yang Nampak itu. Kalau mesti ke sana lah pikir-pikir. Sebab bakalan memerlukan orang banyak untuk mengangkatnya lagi. Seperti kala mobil mereka turun, itu perlu alat berat guna menik kan nya lagi.
“Itu tempatnya,“ ditunjuk nya semacam jurang yang sebenar nya bukan tempat dalam. Disitu tempat mereka dulu berada. Hilang dan kembali. Serta posisi kendaraan yang terjepit di sela-sela pohon besar.
“O.“
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments