“Kan sunyi.“ Dimana-mana tak ada gerakan. Hanya sepoi angin yang berusaha mendorong daun-daun supaya gemerisik mengeluarkan suara aneh yang membuat bulu roma ikut remang. Maklum lokasi terpencil, maka suara lembut juga akan terdengar nyata. Apalagi suara yang demikian kuat maka akan terus membuat getaran nya dalam telinga semakin nyata lagi hingga mengagetkan. Juga dalam kondisi pikiran yang tak enak, hingga suara akan semakin membuat rasa kurang normal terus berkembang. Itu yang membuat kengerian juga demikian berat di terima leh pikiran yang terlanjur terseret ke alam ngeri nya.
“Dimana-mana hanya ada pohon dan semak belukar.“ Semenjak berpindah dari lokasi awal serta meniti jalur-jalur pelintas hutan, semakin tak banyak yang di lihat, apalagi di temui. Bahkan takut nya hanya para penghuni hutan itu saja yang nanti nampak. Semisal ular atau macan yang kerap kali memperlihatkan diri, walau itu hutan sudah banyak di buka serta di tanami dengan tanaman khusus yang menghasilkan, namun ada saja para mahluk liar yang nampak kan diri di saat – saat tertentu. Baik itu kala siang, atau tengah malam. Kalau malam memang biasanya demikian. Para penghuni hutan itu tentu akan meluangkan waktu mencari makan sebagai binatang nokturnal yang suka keluyuran di kala gelap sepi. Sementara mencari pada sarang-sarang penghuni hutan lain yang telah nyenyak. Itulah hebatnya indra tersebut.
“Terus saja.“ Lilin tak perduli. Dia masih khawatir dengan adik nya yang entah di mana kini berada. Kabar dan berita nya belum jelas. Jangankan di media, lewat pintu ke pintu juga tak pernah terdengar kabar untuk keberadaan nya yang memang lenyap belum lama. Namun kalau sudah di beritakan melalui media pribadi di sosmed nya, kalau terlihat pasti bakalan memberi tahu. Sebab kondisi yang tak seberapa misterius akan langsung menampilkan si sosok yang dicari. Semisal tengah mancing, atau mancing keributan dan sebagai nya, akan langsung bisa di lihat serta di kabarkan pada yang menari lewat alat komunikasi yang serba canggih begitu. Namun di hutan ini, alat komunikasi hampir tak ada fungsi nya. Selain tanpa sinyal, juga khawatir ika baterai habis. Maka akan sulit mencari sumber listrik guna mengisi nya kembali. Media paling-paling yang bisa masuk ke situ hanya radio atau tape recorder yang tanpa perlu sinyal. Hanya dengan menenteng alat itu, maka akan langsung bisa di putar di lokasi sunyi sembari mengalunkan kidung dan gamelan seram. Apalagi sekarang juga ada yang lebih praktis dengan alat sebesar bungkus rokok, dan baterai kotak, akan bisa di bawa dengan cukup masuk kan ke saku, lalu memakai memory card yang kecil, akan di putar musik MP3 sembari menyanyi dan menari di ladang hutan. Bahkan TV juga ada yang kecil. Jadi bisa di tonton sembari menenteng nya. Namun kalau itu mesti sinyal yang kadang menjauh atau mendekat seperti hantu saja.
“Eh, nanti kena duri-duri yang menyayat hati lo,“ ujar Aqi mengingatkan. Nanti bakalan kena lagi duri yang disangka cakar seram yang membuat menjerit-jerit lagi.
“Kulit kali...“ ujar Lilin. Mana ada duri menyayat hati. Kalau menembus dada baru ini kan Cuma di bagian luar nya saja. Ya paling membuat kulit lecet atau gatal hingga menelusup ke dalam hati. Eh...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments