“Ayo kita cari,“ ujar Lilin yang tentu saja merasa kasihan kalau adik yang sangat di cintai nya itu bakalan kenapa-napa karena sudah lumayan lama dia di bawa oleh mahluk bercakar sangat seram itu.
“Kemana?“ tanya Aqi. Ini dunia aneh. Penuh kegelapan. Mesti bertanya sama orang pintar yang pintar akan jurusannya dan dalam urusan mencari benda-benda tak kasat mata begitu. Lah ini yang kasat saja belum tentu kelihatan apalagi mahluk astral, akan semakin sulit mereka menemukan nya kalau bukan yang ahli di bidang nya itu.
“Ke tempat dulu kalian hilang paling.“
“Wah, sulit Itu,“ ujar Aqi. Dia merasa mencari nya juga tak bakalan mudah, serta kalau sudah ketemu, bagaimana mau kembali kalau dunia mereka seakan berbeda. Layaknya ada beberapa dimensi, mereka sudah masuk ke lorong waktu. Dimana telah berada pada sistem pusaran yang lain. Bisa juga di galaksi yang berbeda. Yang akan sulit di tembus dalam hitungan waktu. Mesti langsung ke lorong misterius itu. Dan akan sampai pada lokasi tujuan jika tepat putaran nya. Berikutnya bakalan menjadi kesulitan tersendiri kala mesti mencari jalan pulang. Apakah pada lubang putih seperti saat mereka keluar, atau mencari titik hitam guna menuju kembali ke dunia yang kini mereka pijak. Itu menjadi persoalan yang tak kunjung ketemu bila tak mengetahui rahasia nya. Makanya di perlukan orang pintar guna menjangkau lokasi tersebut. Serta sudah paham betul akan seluk beluk perjalanan ke lokasi lain di semesta ini.
“Makanya kita berusaha, serta membawa alat-alat penting buat menangkal para mahluk itu.“
“Apa itu?“
“Bawang atau bunga setaman.“
Segera di bawa alat-alat yang sekiranya bisa buat menangkal setan, demit serta sebangsa nya yang sangat mencekam serta bisa membuat bibir gemeletuk.
“Ini, aku masukkan ke tas,“ kata Aqi setelah terkumpul peralatan yang sekiranya nanti bakalan di butuhkan dalam menghadapi teror manusia bercakar mengerikan di kegelapan sana.
“Lu yang bawa,“ kata Lilin melihat ta situ masih saja tergeletak di lantai.
“Waduh, masa gua,“ ujar Aqi mengeluh panjang pendek.
“Lah, lu kan cowok. Tulang punggung keluarga kan lu,“ kata Lilin. Heran dah kalau punya kepala keluarga banyak komplain demikian. Bagaimana kehidupan bakalan berjalan lancer kalau fungsi tersebut tak di pahami oleh seluruh anggota keluarga yang demikian. Masa mesti mengulang dan mengulang terus. Kan tak sampai-sampai pada pokok yang utama. Dan itu bakalan menjadi suatu yang mengerikan untuk hal selanjutnya. Serta membikin rasa semakin tak nyaman dalam lingkungan yang tak menentu juga. Makanya segenap fungsi yang sudah menjadi adat kebiasaan itu mesti di pahami agar segalanya lancar dan tak perlu tersendat. Layaknya sebuah perjalanan maka bahtera keluarga itu akan lancer kalau semua di dukung oleh anggota nya dalam arah haluan yang pasti juga.
“Cowok, tapi kan nggak tulang-tulang amat,“ kata Aqi yang merasa tengah letih, lesu dan beban sangat berat, kalau suruh membawa tas isi benda yang nggak penting begituan. Mungkin akan lebih baik jika bawang dan sebaginya itu di masak lalu tersaji di tempat yang terindah.
“Cepat ah jangan cerewet!“ ujar Lilin yang mangkel melihat si Aqi kebanyakan mikir. Akhirnya di Tarik saja tangan kuat si lelaki berbahaya itu.
“Yah di cakar lagi gua,“ keluh Aqi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments