“Yuk naik kendaraan, capek kan jalan terus,“ ujar Lilin yang sudah keringatan semenjak dari rumah tadi sampai di jalanan. Mana jalan nya tak lewat jalan utama lagi. Jadi menerobos-nerobos jalan tikus supaya cepat sampai alias potong kompas. Maklum kalau melalui jalan besar memang memutar. Apalagi kalau jalan kaki bakalan terasa jarak yang demikian panjang. Karena jalan utama itu mengikuti jalur umum yang dahulu mudah di lewati, kemudian menjadi jalan utama akibat sudah sangat banyak yang memfungsikan nya menjadi jalur buat mereka melakukan kegiatan yang bersifat bisa meringankan tugas mereka. Antara lain memudahkan pengangkutan hasil panen ke lokasi yang di tuju.
“Namanya mencari hal yang hubungannya sama mistis, ya mesti jalan kaki lah,“ jelas Aqi. Memang lumayan jauh. Sudah potong kompas juga. Jalan ini memang rimbun. Beberapa diantaranya bahkan mesti melalui jalan setapak yang hampir hilang karena tertutup oleh semak belukar yang belum dipangkas. Akibat sedikit lama tak dilalui oleh orang-orang. Maklum daerah itu sepi. Meskipun belum masuk hutan dan masih di wilayah pedesaan. Tapi sudah jarang rumah penduduk. Kalaupun ada hanya satu dua. Bahkan terkadang hanya gubug saja yang sesekali di pakai buat istirahat tidur siang para pemilik kebun. Yang enggan bolak-balik ke rumah akibat menghabiskan waktu jika pulang dulu untuk makan lalu kembali ke sawah hanya untuk beberapa jam saja. Mendingan mereka di situ dulu sembari membawa bekal, memakannya, lalu istirahat, sekaligus menunggui tanaman yang mulai menguning supaya tak banyak hama seperti burung atau tikus yang merusak tanaman itu. Jalan ini merupakan jarak tersingkat menuju lokasi tempat mereka hilang dulu. Yang dicurigai menjadi lokasi di mana Lalan bakalan bisa ditemukan kembali kalau ke tempat itu dulu. Bayangan mereka, pasti ada hubungannya antara cakar-cakar mengerikan dalam kamar Lalan, dengan mahluk yang juga mempunyai cakar serta gigi seram yang pernah mengejar mereka sampai berhari-hari.
“Kan sama saja, antara naik angkutan sama jalan. Toh akhirnya sampai di lokasi sama, yang bakalan kita tuju nantinya,“ ujar Lilin tak mau tahu. Setidaknya perjalanan mereka sedikit di kurangi kesedihannya kalau mesti mengeluarkan keringat yang sangat deras begini.
“Laku tirakatnya nggak ada kalau begini. mana bisa ketemu,“ ujar Aqi. Biasanya yang berhasil melalui lorong misterius begitu orang yang gentur tapa. Pandai tirakat. Serta sangat kuat menahan lapar. Itu bagian dari salah satu syarat guna menemui mereka-mereka yang tak kasat mata.
“Cerewet lu, kaya mak - mak aja.“
“Dibilangin juga ah….“
Namun pertengkaran mesti berhenti. Dan tak perlu sampai nangis-nangis segala. Akibat sudah sampai nya angkutan di depan mereka pada jalan besar yang memang biasa buat melintas angkutan antar desa antar desa, maupun antar kota yang dekat-dekat saja. Sebab selain bus da juga angkudes yang trayeknya hanya dari desa ke desa. Memang sengaja melewati jalan sulit, namun bisa di lalui guna membawa hasil bumi para petani yang hendak menjual dagangan nya ke tempat lain sesuai dengan jalur angkutan tersebut.
“Tuh naik.“
“Ayo ah…“ Bergegas keduanya naik angkutan yang lewat. Kendaraan besar. Semi bus isi seperempat. Tak pernah penuh. Akibat sudah banyak kendaraan pribadi sekarang. Jadi semua serba longgar dan kosong. Mana biayanya mahal lagi. Tapi asiknya selalu dapat tempat duduk. Itu yang nyaman. Jadi tak kuatir mesti bergelantungan seperti era dahulu. Karena transportasi ni satu-satunya melintasi hutan angker.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments