“Gubug apa sih ini?“
Didekati gubug yang nampak di kejauhan tampak seram. Namun sejauh ini tak berpikiran kalau itu adalah pintu portal menuju ke dunia lain. Sebab bangunan semacam ini sangat banyak jumlah nya di lingkungan hutan. Dan tak hanya di lokasi itu saja. Bisa di luar tempat tersebut. Karena memang sangat di butuhkan.
Apalagi berada dalam keremangan pepohonan hutan. Meskipun masih siang. Namun begitu teduh nya. Membuat pemandangan juga tak begitu nyata. Sinar seakan tak bisa menelusup sampai ke tanah. Itulah yang membuat suram sekali suasana nya. Itu siang, malam apalagi. Sudah gelap, ketambahan sunyi. Maka gemericik suara dedaunan yang saling gesekan tersambar angin pasti akan terdengar dengan nyata.
“Wah, paling hanya untuk tunggu.“
“Tanaman umbi.“
“Ada buahnya tidak ya?“
“Paling liar.“ Semacam pisang. Sebab tanaman itu memang dari hutan. Dengan banyak biji yang terkandung di dalamnya supaya mudah juga untuk tumbuh memenuhi hutan yang memerlukan pepohonan banyak agar bisa di sebut hutan. Sangat tak masuk akal jika hutan tanpa tanaman. Pasti akan seperti lapangan saja. Paling banter Syahbana yang kondisi nya sangat sayang andai tak dilakukan penanaman kembali sehingga tanah yang super luas itu sama sekali tak menghasilkan.
“Siapa tahu ada yang sengaja tanam. Macam durian atau cempedak. Kalau matang kan lumayan.“ Dalam bayangan mereka ada saja tumbuhan enak yang sengaja hidup bebas tanpa ada gangguan karena kesendirian nya itu. Membuat orang-orang jarang melihatnya. Makanya tanaman liar akan semakin banyak jumlahnya di tempat sepi begini. Kalaupun ketahuan ada buah enak, maka tentu akan selalu di datangi oleh mereka-mereka yang sangat menyukai yang enak-enak. Makanya yang tak enak bisa tumbuh dengan suburnya sementara buah enak akan semakin menyusut bahkan hilang karena benih nya yang mampu tumbuh tentu bakalan di pindah sebagai bagian pengamanan atau untuk sekedar kepemilikan yang saat memetik nanti akan semaki dekat jarak nya dari si pemilik. Itulah yang kemudian membuat tumbuhan hutan jarang yang enak. Kecuali ada pada kebun pribadi. Itu juga yang kalau ada barang enak akan dijaga, dipagari dan di datangi setiap saat. Membuat lokasi menjadi sedikit berubah, serta membuat daerah yang tak sepi lagi dengan adanya suatu tanaman yang sangat menarik bagi manusia. Tentunya selain itu akan menyingkir. Termasuk burung-burung yang suka bertengger di dahan nya, atau mahluk lain yang sekedar ingin duduk di bawah akibat rindang nya yang demikian membuat nyaman. Mereka akan beralih ke lokasi lain yang lebih nyaman tanpa gangguan.
“Hus, jangan. “
“Kenapa?“
“Kalau ada.“ Sebab tumbuhan begitu jika di hutan pasti akan sangat mudah tumbuh dengan alami nya karena asupan makanan juga sangat banyak yang sudah di sediakan oleh alam yang begitu menyayangi apa yang bersedia tumbuh di atas nya. Makanya demikian saja makanan itu terus tersedia baik oleh dedaunan membusuk, atau di bantu zat renik yang kemudian mengurai makanan keras menjadi lunak dan sanggup di telan oleh akar serta menyebar ke seluruh penjuru batang tubuh si tumbuhan.
“Ini nggak ada kayaknya.“
“Apalagi durian begitu mahal. Makanya mesti di tunggu kala masak. Sebab akan jadi rebut rebut andai taka da yang tahu. Tahu-tahu hiang saja. Membuat yang punya uring uringan nanti nya.“
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments