“Nyari rumah terdekat saja.” Mereka terus berjalan. Pandangan mereka terus menatap ke kejauhan. Barangkali rumah-rumah penduduk sudah bisa mereka saksikan dari situ. Namun sebagaimana sebelumnya, pandangan mereka tetap hanya hutan dan hijau saja yang merupakan tumbuhan besar serta rapat. Itu kalau pada suatu tanah lapang di tengah hutan, dengan tumbuhan besar yang tak begitu Nampak. Tapi jika mereka berada di tengah tanaman besar, maka hanya sekeliling itu yang kelihatan. Seakan terkepung oleh mahluk-mahluk besar yang tumbuh bebas lepas di daerah yang alami.
“Itu kah?“
“Bukan lagi.“
“Lah masa…“
“Coba kita tengok.“
Di lihat nya dengan seksama sesuatu itu. Namun tak terlampau dekat. Masih berjarak lumayan jauh. Sudah terlihat jelas namun masih tak terlampau kentara. Itu yang membuat tak begitu seksama dalam melihat nya. Masih butuh beberapa langkah lagi untuk bisa lebih jelas. Walau begitu nuansa yang tak mengenakkan begitu membuat kurang yakin untuk ebih dekat. Atau lebih asik jika mengambil jalan lain yang lebih dekat ke titik terjelaskan dari tujuan ke desa terdekat di luar hutan tersebut.
“Kan bukan.“
“Belum mendekat.“
“Tapi sudah nampak itu.“
“Hanya rumpun bambu.“ Memang kalau di lihat dari kejauhan tempat itu seperti segerombolan yang Nampak di huni. Tapi kalau di dekati demikian menyeramkan. Rumpun bambu yang luas. Dan tumbuh liar tanpa di tanami dalam hutan tersebut. Maka tidak jarang jika suatu saat hutan bambu tersebut kemudian di tebang semuanya, tanah-tanah di ratakan untuk kemudian di tanami tanaman yang sekiranya menghasilkan. Semisal jati kroyo atau pinus bahkan karet. Itu yang kemudian bisa menghasilkan pada tiap waktu nya.
“Kan biasanya banyak gendruwo yang bersarang.“ Itu kata orang. Mahluk demikian akan suka pada suatu
“Kata siapa…“
“Kata orang lah. Mereka suka sama rumpun bambu yang lebat.“ Orang juga suka. Jadi tak hanya lelembut. Sebab tempat tersebut sangat mengasikkan dan rindang di kala terik mentari tengah menyengat. Sudah begitu berteduh di bawah nya tentu akan nikmat. Sampai tertidur tak terasa. Ini banyak di alami anak-anak gembala yang sering menjangkau daerah demikian. Apalagi dengan seruling di tangan sudah tanpa terasa waktu sampai sore. Namun ya begitu. Namanya pokok bambu, lama-lama akan gatal. Buluh bambu nya itu bakalan tak bagus untuk kulit. Yang menimbulkan rasa gatal tak menentu. Serta akhirnya menjadi bentol-bentol dengan rasa begitu tersiksa. Itu untuk sebagian orang yang sensitive. Tapi bagi mereka seakan kebal saja. Gatal itu sudah lumrah. Karena di sawah kala tanam padi juga akan menimbulkan gatal. Dan di ladang untuk duri-duri katimusa begitu lekat dengan kehidupan mereka. Seakan tak mampu menembus telapak kaki mereka yang menebal oleh kapal kaki yang keras.
“Nyatanya nggak Nampak.“ Yang terlihat hanya rimbun menghijau Nampak halus dan memanjakan mata. Makanya bisa buat terapi khusus andai tak baik pandangan nya, untuk kemudian lama-lama akan kembali normal ke mata sehat seperti semula yang sudah mulai rusak akibat seharian menatap layar HP dengan hiburan sangat menarik dari tiap waktu nya. Sementara jika di dekati batang-batang menakutkan akan langsung Nampak dan buluh-buluh yang gatal juga bakalan langsung menyerang kulit andai tersenggol.
“Ya gitu, kita coba, kali saja ada lorong portal waktu ke sana.“
“Yuk.“
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments