Setelah dekat...
“Tak ada apapun lagi.“
“Ya sudah. Jalan lagi.“
Mereka terus jalan. Terus menyusuri bagian tersibak oleh tapak-tapak orang yang melintas daerah itu sebelumnya. Jalan setapak yang sangat sulit di tapak i. Karena jarangnya di lewati. Namun mesti dilalui juga supaya menuju satu titik tujuan. Yang jelas dusun terdekat mesti ditemukan. Agar titik terang bisa di awali. Karena memang demikian. Suatu tujuan jelas kalau sudah mulai ada titik terang. Ibarat menuju ke suatu ujung lorong, kalau ada secercah cahaya terang, akan bisa di telusur. Sulit dan jauh nya menjangkau itu, adalah suatu tantangan guna bisa menyelesaikan nya.
“Hug... jauh ya.“
“Tak ada orang lagi.“
Jangankan orang. Di tempat sepi begini tentu banyak kendala dalam menemui satu sosok. Binatang hutan juga tak nampak. Tentunya yang diharapkan. Semisal kijang atau pelanduk. Namun kalau suara-suara serangga hutan masih sayup terdengar. Hanya binatang-binatang itu yang menghiasi keheningan hutan. Serta bintang-bintang yang sebentar lagi nampak. Tentunya akan lebih sunyi lagi jika binatang pun seakan tak sanggup bertahan di hutan yang angker ini. Hanya di gantikan oleh desau angin. Yang terkadang lembut, terkadang kencang. Dalam suatu kesunyian, suara tak nampak seperti itu juga akan menimbulkan bunyi gemuruh. Apalagi kalau memang datangnya sangat besar, akan semakin riuh rendah suaranya. Dan itu menjadikan kengerian tersendiri bagi yang merasakan nya. Tubuh seakan menjadi beku. Dingin tiba-tiba merayap. Walau terkadang hal itu bukan oleh sesuatu, namun oleh kejadian alami saja, yang pasti bisa dirasakan oleh setiap orang yang tengah berada dalam kesendirian. Karena tubuh manusia memang memiliki alat perasa yang hampir di bilang sama untuk kodrat nya serta tak akan sanggup menghalau sesuatu yang di buat alam. Itulah makanya beberapa diantaranya akan merasakan hal serupa jika berada di lokasi yang sama juga.
“Lanjut, barangkali disana ada jawabnya.“
“Nggak ada. Yang ada hanya pohon durian.“
“Mana ada durian.“
“Ini.“
“Bukanlah.“ Memang di hutan banyak pohon. Makanya sangat miri antara yang satu dengan yang lain nya. Belum kalau istilahnya satu genus. Bakalan tak bisa membedakan antara yang satu dengan yang lain nya. Apalagi kala tengah lelah serta banyak pikiran. Pohon liar biasa yang tengah tumbuh dengan subur dikira suatu pepohonan yang sangat di harapkan. Kalaupun ada buahnya bisa di petik, lalu dimakan, maka akan menjadi satu hal yang selain menyegarkan juga bisa menjadi energi kuat dalam melakukan perjalanan panjang yang kali ini nampaknya tak berujung. Mengingat titik terang sama sekali tak di dapatkan. Itulah yang sangat menyebalkan. Akan mudah menari satu jarum diatas tumpukan jerami, andai tahu pasti kalau benda itu jatuh di lokasi itu, walau nampak sama dan akan sulit tapi pasti bakal ketemu. Dibandingkan mencari orang hilang yang tak jelas dimana titik awal nya dalam melakukan pencarian panjang.
“Jadi?“
“Hanya pohon biasa.“
“Tapi mirip.“
“Ya mirip.“
Kembali terlihat, dalam susana pekat karena banyaknya pepohonan yang melingkupi daerah sekitar, serta dedaunan yang rapat menaungi, nampak tak jelas kalau untuk membedakan diantara yang satu dengan lain nya. Itu kendala tersendiri guna mengenal lingkungan yang kini tengah mereka tapak i. Apalagi kalau gelap datang. Dan sekarang sudah mulai nampaknya. Dikala terang sudah surut. Dan matahari sudah tak nampak, karena tertutup punggungan bukit. Walaupun masih ada sinar yang menyelinap diantara daun-daun pohon hutan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments