Hingga makan malam, Richie masih saja tersenyum menatap sang istri yang nampak begitu manis menurutnya.
Dea tengah menikmati makan malamnya. Tapi ia begitu risih karena sejak siang tadi Richie tak hentinya menatapnya dengan di hiasi senyum di wajahnya.
Dea melirik makan malam Richie yang masih tak tersentuh. Bukannya memakannya, suaminya itu malah memandanginya.
"Apa Kau tidak lapar?" tanya Dea memicingkan matanya.
"Lapar," jawab Richie masih dengan tersenyum menatap sang istri.
"Lalu kenapa Kau malah memandangiku dan tidak menyentuh makan malam mu? Apa dengan begitu Kau bisa kenyang?"
"Suapi Aku ya, Sayang?" Richie mengedipkan matanya.
Dea mendelik mendengar permintaan suaminya. Lalu ia pun memperlihatkan kepalan tangannya di depan suaminya. Membuat Richie menatap horor pada Dea.
"Hehehe, iya-iya Sayang. Aku kan hanya bercanda. Ini Aku makan nih." Richie langsung menyendok kan makanan ke mulutnya.
Dea pun juga melakukannya, tapi ia sedikit menundukkan kepalanya karena menahan senyumnya ketika melihat suaminya yang langsung memakan makanannya setelah ia memperlihatkan kepalan tangannya.
Setelah mereka menghabiskan makanannya, Dea hendak beranjak dari meja makan dan hendak menuju ke kamarnya. Namun Richie menghentikan langkahnya dengan memanggilnya.
"Dea." panggil Richie. Dea pun menoleh.
"Kenapa?"
"Duduklah, Aku ingin sedikit berbincang kepadamu, Sayang," pinta Richie. Namun Dea menatapnya jengah. Walau begitu, Dea tetap menuruti kemauan suaminya.
"Kenapa terus memanggil ku Sayang sih, Aku tidak mau Kau memanggilku dengan sebutan itu!"
"Kenapa? Kau tidak suka ya, Sayang? Kalau begitu bagaimana kalau Aku memanggil mu dengan honey, Baby, atau sweetie? Kau suka yang mana, Sayang?"
Mendengar rentetan nama-nama panggilan tersebut membuat Dea menepuk keningnya sendiri.
"Hentikan nama-nama panggilan konyol itu, Richie! Sungguh menggelikan," cibir Dea. Namun malah membuat Richie tertawa. Richie begitu suka menatap wajah cemberut Dea. Karena menurutnya begitu menggemaskan.
"Kalau begitu Aku tetap akan memanggil mu Sayang." Richie semakin mengembangkan senyumnya.
"Memangnya apa yang mau Kau bicarakan. Cepat katakan!"
"Jangan cemberut terus, Sayang," ucapnya sembari meraih tangan Dea. "Aku hanya ingin mengatakan terimakasih padamu, Sayang." Richie mengusap pelan punggung tangan Dea.
"Jangan pegang-pegang tanganku!" Dea menarik tangannya. "Jangan berbelit-belit, Richie. Memangnya Aku melakukan apa sehingga Kau berterimakasih padaku?"
"Terimakasih karena Kau sudah tegas kepada Arsen. Kau tahu? Aku begitu cemburu melihat dia menyentuh tanganmu. Dan sekarang Aku sudah tenang karena Aku yakin bahwa Kau tidak menyukainya."
"Walaupun Aku tidak pernah menginginkan pernikahan dalam hidup ku, Aku tahu tentang batasan seorang istri. Jadi Kau tidak perlu khawatir, memangnya Kau pikir Aku wanita seperti apa." Dea mencebik kesal.
"Iya, Sayang. Kau adalah wanita sempurnaku. Aku memberimu izin untuk Kau berinteraksi dengan semua orang termasuk rekan bisnismu, Sayang. Tapi walaupun begitu, Kau juga harus menjaga jarak. Tidak masalah jika Kau tidak mencintai ku. Karena Kau adalah istri Ku, Kau milikku. Dan Aku tidak mau berbagi dengan orang lain, sekalipun mereka hanya menatapmu, hati ini tak akan pernah rela." tutur Richie menatap dalam kearah mata Dea.
Dea menatap mata Richie. Hanya ketulusan yang ia lihat. Tatapan Richie penuh cinta. "Kau jangan berlebihan, Richie." Dea memalingkan wajahnya. Ia kembali akan melangkahkan kakinya. Namun dengan cepat Richie menarik Dea hingga terduduk di pangkuannya. Bahkan wajah mereka nyaris tak berjarak.
"Aku berlebihan karena Aku mencintaimu, Sayang. Kumohon mengertilah!" tutur Richie. Deg...deg... Entah mengapa setiap Richie mengungkapkan perasaannya, membuat jantungnya hampir keluar karena tak dapat menahan detaknya yang begitu cepat.
"A-apa yang k-kau lakukan? Lepaskan Aku." Dea menjadi begitu gugup ketika wajah mereka begitu dekat. Dea langsung menundukkan kepalanya menghindari tatapan Richie.
Melihat sang istri menundukkan kepalanya, Richie segera menaikan dagu Dea hingga mereka kembali saling berpandangan.
"Jangan menghindari tatapan ku. Kau tahu? Hanya dengan menatap mu saja membuat hidupku terasa begitu indah."
Cup... Richie mengecup kening Dea. Membuat sang empunya terdiam mematung. Hawa panas menjalari seluruh tubuhnya merasakan ciuman hangat Richie pada keningnya. Dea tak dapat berkata-kata.
"Dea Arsyila, Aku sangat mencintaimu." Richie menempelkan keningnya pada kening istrinya. Sementara Dea semakin menahan gejolak saat Richie berkali-kali mengungkapkan perasaannya.
Matanya terpejam merasakan nafas hangat Richie yang menyapu wajahnya. Jantungnya semakin berdetak kencang hingga ia tak dapat mengontrol perasaannya.
Hingga tiba-tiba saja ponsel Richie berdering dan membuat kegiatan keduanya terhenti.
Dea secepatnya turun dari pangkuan Richie di saat perhatian Richie teralihkan pada ponselnya. Dea segera berlari menuju kamar meninggalkan Richie.
Sementara Richie mendengus kesal karena ponselnya berdering di saat yang tidak tepat.
"Sial! Siapa yang menelepon, mengganggu saja." Richie begitu kesal. Ia segera meraih ponselnya. Ternyata itu dari Auntie Rebecca.
"Iya Auntie, ada apa?" tanya Richie dengan nada datar ketika ia mengangkat panggilan tersebut.
"Hye jin sakit. Dia sekarang ada di rumah sakit D. Tolong Kau lihat bagaimana keadaannya. Saat ini Auntie dan Uncle masih berada di Korea karena Nenek juga masih belum sembuh sepenuhnya. Kau bisa kan, Richie?"
Setelah Richie dan Dea menikah, beberapa waktu lalu. Hye jin mengatakan ingin melanjutkan kuliahnya yang sempat terhenti karena pertunangannya dengan Richie. Dan ia ingin melanjutkannya di Singapore.
Sejak saat itu, Richie juga sudah membeli rumah sendiri untuk dirinya dan Dea. Jadi Richie menyuruh Hye jin untuk menempati apartemennya selama tinggal di Singapore. Hubungan mereka juga kian membaik. Terkadang, Dea juga mengajak Hye jin untuk sekedar makan malam di rumahnya.
"Baiklah, Auntie." Richie segera menutup panggilan tersebut. Ia bergegas menuju kamar untuk mengambil jaket dan kunci mobil serta memberitahukannya kepada istrinya.
Richie memasuki kamarnya, namun ia melihat Dea yang sudah terlelap. Tadinya ia akan mengajak Dea untuk menjenguk Hye jin. Tapi karena ia melihat Dea yang terlelap, ia mengurungkannya. Mungkin istrinya itu terlalu lelah bekerja di kantor hari ini.
Kakinya pun melangkah mendekati Dea yang terlelap di ranjangnya. Richie membungkuk dan mengecup kening Dea dengan lembut.
"Selamat tidur Sayang ku. Aku harus keluar sebentar. Semoga mimpi indah," ucap Richie kemudian kembali mengecup kening Dea.
Richie segera mengambil jaket dan kunci mobilnya, setelahnya ia bergegas menuju ke rumah sakit yang sudah Auntie Rebecca instruksikan tadi.
Menyadari Richie yang sudah keluar dari kamar. Dea segera membuka matanya. Ia memegangi dadanya yang berdetak tak beraturan.
"Kenapa Dia musti mengecup kening ku berkali-kali sih! Lihatlah sekarang Aku serasa punya penyakit jantung saja," Dea terus saja bergumam.
"Tunggu, tapi dia mau keluar kemana malam-malam seperti ini? Aih... kenapa Aku jadi kepo sih. Terserah dia mau kemana, Aku tidak perlu memperdulikannya." Ucapan Dea bertolak belakang dengan hatinya. Tiba-tiba ia menjadi gelisah memikirkan kemana Richie pergi malam ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Rosy
Hye jin ternyata di Singapore ya..waah...kalau dea ada arsen dan kalau Richie ada Hye jin...
sebenarnya dari dulu kamu itu sudah jatuh cinta sama Richie Dea...tapi sayang banget gengsi kamu terlalu tinggi untuk mengakuinya...
2022-08-07
0
Vita Zhao
hh gagal deh mesraannya y richie🤭
dea kamu sebenarnya udh cinta sama richie cuma kamu tak menyadarinya ya lebih tepatnya selalu mengelak dgn perasaan itu😒.
ah mulai gelisah ya dea, semoga dea gak cemburu kalau dia tau richie menemui hye jin😌
2022-08-07
0
Widi
Richie kenapa gk bangunin dea aja, nanti jadi salah faham
2022-08-07
0