Richie memutuskan untuk melamar Dea setelah gadis itu bisa menerimanya. Jadi Rebecca memutuskan untuk kembali ke Korea untuk menemani Mamanya. Beberapa hari ini kesehatan Nenek sedikit terganggu.
Sementara Gemal dan Richie berada di Singapore untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.
Tak terkecuali Dea. Dia juga kembali beraktivitas seperti biasanya. Namun Papa Arya tidak mengizinkannya untuk kembali ke Indonesia. Papa Arya menyuruh Dea untuk membantu pekerjaannya yang ada di Singapore. Dea sempat menolak, Dia tidak ingin bertemu dengan Richie. Namun keputusan Papa Arya tak terbantahkan. Entah mengapa Dea merasa seolah Papa Arya dan Mama Zara berusaha untuk mendekatkan dirinya dan Richie.
Papa menugaskan Dea ke perusahaan koleganya untuk melakukan kerjasama. Lagi-lagi Dea berhasil mendapatkan kerja sama tersebut. Itu membuat Papa begitu bangga.
Sebelum pulang, Dea memutuskan untuk singgah di cafe yang berbeda di dekat bandara. Dea menatap langit dengan perasaan yang sulit untuk ia ungkapkan. Saat ini dia berada di lantai dua cafe tersebut.
"Kenapa Aku harus berada dalam kerumitan ini. Ini yang ku takutkan jika Aku harus menikah ataupun mempunyai kekasih," desahnya. Kemudian Dea menghabiskan jus yang telah ia pesan.
Dea memutuskan untuk kembali ke kantor Papa. Namun saat ia berdiri dan hendak berjalan, Dea tidak melihat ke arah sampingnya sehingga menabrak tubuh seseorang hingga seseorang itu terhuyung dan tiba-tiba tergeletak pingsan.
Dea begitu terkejut, ia menjadi sangat panik.
"Tolong...! Ada seseorang yang pingsan...!" Dea berteriak meminta tolong. Saat itu masih pagi. Belum terlalu banyak seseorang yang ada di cafe tersebut. Kebetulan di lantai dua hanya ada Dea sendirian. Dan ia harus berteriak untuk meminta bantuan.
Tak berapa lama karyawan cafe itu segera datang. "Ada apa ini, Nona?"
"Tolong... Aku tidak tahu kenapa wanita ini bisa pingsan. Tolong bawa di ke mobil ku, Aku akan membawanya ke rumah sakit," ucap Dea dan di angguki beberapa karyawan cafe tersebut.
Tak berapa lama kemudian, mobil Dea sampai ke rumah sakit terdekat. Para perawat sudah siap siaga untuk menolong dan membawa wanita yang tengah pingsan itu menuju UGD.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Dea khawatir.
Dokter nampak tersenyum. "Nona ini tidak apa-apa. Dia hanya terlalu lela, Nona." ucap dokter membuat Dea begitu lega.
"Terima kasih dok. Apakah saya sudah boleh menemui Nona itu?"
"Silakan, Nona," ucap dokter, kemudian dokter segera pergi. Dia kemudian memasuki ruangan tempat gadis itu dirawat.
Ketika membuka pintu ruangan tersebut, Dea melihat gadis itu mulai tersadar.
"Hai, Nona. Apakah Kau sudah merasa lebih baik? Maafkan Aku tadi yang tidak mu sehingga menabrak mu," ucap Dea.
Dea menelisik menatap gadis itu, wajah cantik khas orang Korea membuat Dea menyunggingkan senyumnya. Dia seolah merasa berada dalam film drama Korea.
Gadis itu tersenyum mengangguk. "Ini bukan salahmu, Nona. Sebenarnya Aku tadi merasa sangat lelah, dan Aku sudah tidak mengingat lagi apa yang terjadi. Terimakasih karena sudah menolong ku, Nona." Gadis itu sedikit menunduk.
"Tidak apa-apa, Nona. Kalau boleh tahu, siapa namamu, Nona? Dan apa yang Kau lakukan hingga Kau bisa pingsan di cafe tadi?"
Gadis itu nampak menghembuskan nafasnya. Tatapan matanya terlihat putus asa. "Nama ku Hye jin, Nona. Anda bisa memanggil ku dengan nama saja. Aku ke Singapore karena sedang mencari seseorang. Tapi Aku tidak tahu dimana dia berada. Dan Aku juga sedang tidak beruntung karena tas dan dompet ku di curi orang. Aku tidak tahu lagi harus kemana sekarang." Wajah Hye jin seketika berubah pias.
"Aku turut prihatin, Hye jin. Kalau begitu Aku akan mengantarmu pulang. Kau pasti begitu lelah," ucap Dea. Namun Hye jin menundukkan kepalanya.
"Keluarga ku di Korea, Nona. Aku baru pertama kali datang ke Singapore. Aku sedang mencari rumah pamanku, tapi alamatnya berada dalam tas yang di curi," ucap Hye jin nampak begitu sedih.
"Kalau nomor pamanmu, apa Kau mengingatnya? Aku akan membantumu untuk menghubunginya." Hye jin menggeleng.
"Andai saja Aku mengingatnya. Saat ini Aku pasti tidak akan berada di sini, Nona." Hye jin tersenyum getir.
Dea sungguh tidak tega melihat Hye jin. Ia merasa sangat kasihan.
"Jangan memanggilku Nona, Hye jin. Panggil Aku Dea," ucap Hye jin. "Kau jangan khawatir, Hye jin. Untuk sementara Kau tinggal saja di rumahku."
"Tidak, tidak usah, Dea. Aku akan melapor saja ke kepolisian untuk membantuku," ucap Hye jin.
"Kau tenang saja, Hye jin. Aku bukan orang jahat, saat ini kondisimu sedang tidak baik-baik saja. Lebih baik Kau ikut dengan ku, baru setelah sembuh Aku akan mengantarmu ke kepolisian," ucap Dea tulus.
Hye jin nampak terdiam sejenak. Dia nampak meragu, namun sorot matanya nampak seperti tak ada pilihan lain sehingga akhirnya ia mengiyakan permintaan Dea.
"Baiklah, maaf jika Aku merepotkan mu, Dea," ucap Hye jin.
***
Setelah mendapatkan izin dari Mama Zara dan Papa Arya untuk memperbolehkan Hye jin menginap untuk beberapa hari, Dea berbagi kamar dengan Hye jin. Seorang gadis yang baru beberapa jam ia kenal.
Keduanya nampak begitu canggung, terutama Hye jin. Sebab, mereka baru mengenal, namun Hye jin tidak ada pilihan lain selain menerima tawaran Dea untuk tinggal di rumahnya beberapa waktu. Daripada ia harus memulihkan kondisinya di rumah sakit lalu ke kepolisian, itu tidak memungkinkan karena seluruh uangnya telah raib. Jadi ia terpaksa memilih untuk menerima tawaran Dea. Lagipula menurutnya Dea adalah orang yang baik.
Setelah keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian Dea, Hye jin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar milik Dea.
Kamar yang membuat Hye jin begitu takjub dengan disain interiornya. Ia kemudian mendudukkan tubuhnya di pinggir tempat tidur. Namun baru beberapa detik ia duduk, perhatiannya teralihkan pada Dea yang masuk dan membawa makanan untuk Hye jin.
"Hye jin, Aku membawakanmu makanan."
Dea meletakkan nampan berisi makanan itu ke atas meja yang ada di kamarnya.
"Tapi Aku sudah makan malam, Dea."
"Kau itu sedang masa pemulihan. Aku tidak ingin Kau sampai pingsan lagi." ucap Dea. Tangannya menarik Hye jin pelan menuju ke sofa.
Hye jin menatap Dea ketika sibuk mempersiapkan makanan yang ia bawa untuknya. Hye jin tersenyum melihat ketulusan dari wajah Dea.
"Dea," panggilnya.
Dea menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Hye jin. "Ya, ada apa Hye jin, apakah Kau membutuhkan sesuatu?" tanya Dea.
Hye jin menggeleng dan tersenyum. "Kenapa Kau baik sekali padaku, padahal kita tidak saling mengenal?"
Dea membalas senyum Hye jin. "Itu karena Aku tidak bisa melihat orang lain yang terlihat kesusahan, Hye jin. Dan asal Kau tahu, Kau adalah orang kedua yang mengatakan Aku baik. Orang-orang selalu mengatakan jika Aku begitu galak," ucap Dea sembari tertawa.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Nekat banget dia masih ngejar2 Richie 🤦🏻♀️🤦🏻♀️
2023-07-28
0
Qaisaa Nazarudin
Itu pasti mantan tunangannya Richie kan? Baru sampai dia ke singapura,,
2023-07-28
0
Uciha Naruto
kapan up thor 🙄
2022-07-24
0