"Aku sungguh tidak percaya jika Richie melakukan hal gila seperti sekarang ini. Dia menyetujui menikah dengan Dea sementara dirinya telah memiliki seorang tunangan," ucap Rey. Lengannya ia jadikan bantal untuk istrinya. Sementara tangan satunya ia gunakan untuk mendekap tubuh Moza.
"Itu karena Dia begitu mencintai Dea, Sayang." sahut Moza.
"Tapi Dea tidak menyukai Richie. Bahkan Dea begitu membencinya, bagaimana mungkin mereka akan bahagia nantinya?"
"Aku yakin sebenarnya Dea juga mencintai Richie, Sayang. Perbedaan benci dan cinta itu sangat tipis." jawab Moza.
"Bagaimana Kau bisa menyimpulkan hal itu, Sayang?" Rey mengecup kening istrinya dengan hangat. Mereka terus saja memperdebatkan antara Dea dan Richie.
"Apa Kau lupa jika Aku dan Dea tumbuh bersama sejak kecil? Kami di besarkan di panti asuhan sebelum Mama dan Papa menemukan ku. Kami pernah memiliki sebuah keinginan untuk menikah dan memiliki seorang anak yang lucu. Tapi semenjak mendengar sebuah rumor Richie yang akan menikah, tiba-tiba saja dia memutuskan untuk tidak ingin menikah dan mendedikasikan hidupnya untuk bekerja. Bukankah itu sebuah alasan yang begitu naif?"
"Tapi kan bisa saja karena Dea memang tidak ingin menikah, Sayang. Kulihat Dea juga tipe seorang yang berkeinginan keras untuk mencapai tujuan," sergah Rey.
"Ya, Dea memang tipikal wanita yang seperti itu. Pernah waktu masih kecil kami mengalami sebuah kejadian yang begitu menegangkan."
Rey mengerutkan keningnya, ia ingin tahu tentang kejadian yang dialami oleh istrinya saat kecil. Karena Rey mulai berteman dengan Moza sejak kelas enam SD. Rey menjadi anak pindahan dari kota.
"Katakan Apa yang kalian alami, Sayang."
"Sebenarnya bukan Aku, Sayang, tapi Dea. Waktu itu pernah ada anak laki-laki yang hendak diculik oleh seorang penjahat. Namun dengan beraninya Dea berusaha untuk menolong anak laki-laki itu, padahal Aku sudah melarangnya karena terlalu berbahaya. Bahkan lengannya sampai tergores oleh senjata tajam yang penjahat itu bawa. Dan waktu itu Aku mencari bantuan. Ketika Aku kembali, Dea sudah terkapar bersimbah darah. Namun anak laki-laki itu berhasil di selamatkan."
"Kalau begitu Richie beruntung bisa menikahi Dea. Jika ada penjahat nanti Dea pasti juga akan melindungi Richie," ucap Rey. Namun mendapatkan tatapan tajam dari Moza.
"Aku bicara serius loh ini, Sayang. Aku tidak suka Kau meremehkan Dea seperti Kau meremehkan ku dulu," Moza mengerucutkan bibirnya.
"Aku tidak pernah meremehkanmu, Sayang. Kalau Aku meremehkan mu bagaimana Kau bisa mengandung benih ku?"
"Kau menyebalkan. Sudah, Aku akan tidur saja. Kau membuat ku sangat kesal!"
"Tapi pria yang membuatmu kesal ini ingin menjenguk calon anak Kita, Sayang."
"Haahh... " Moza bingung menatap suaminya. Rey menatapnya dengan menggoda. Kemudian ia menerkam tubuh istrinya di atas ranjang."
***
"Dea, maafkan Papa. Papa melakukannya karena... "
"Dea memang pantas mendapatkan ini semua, Pa. Seharusnya Dea minta maaf kepada seluruh anggota keluarga karena Dea sudah membuat kekacauan dalam keluarga Papa. Dea mempermalukan keluarga Papa, dan Dea gagal untuk membuat Papa bangga." Rasa panas menjalari pelupuk matanya. Dea menahan tangisannya. Papa Arya begitu sedih, ia sempat menuduh Dea tanpa di ketahui bahwa Dea nyaris celaka di tangan pria hidung belang. Richie telah menceritakan semuanya.
"Maafkan Papa, Nak. Papa telah menuduh mu yang tidak-tidak, tanpa mengetahui yang sebenarnya." ucap Papa sendu.
Ya, setelah kembali dari apartemen Richie kemarin, Papa begitu marah dan menuduh Dea. Tapi Richie sudah menceritakan semuanya bahwa sebenarnya ada seseorang yang akan melecehkan Dea dengan memberinya obat.
Tangis Dea akhirnya pecah. Papa memeluk Dea. Berusaha menenangkan Dea yang hatinya nampak begitu berantakan.
"Terimakasih Pa. Kalian semua sudah memberikan sebuah kasih sayang keluarga kepada Dea yang bukan apa-apa ini." Dea berucap dengan isak tangisnya.
"Jangan katakan itu, Nak. Kami menyayangi mu tulus. Kau adalah putri kami," ucap Papa tersenyum. Kemudian ia mengajak Dea untuk duduk.
"Apa Kau menyukai Richie, Nak?" tanya Papa menatap Dea.
Dea menghapus air matanya dan menyembunyikan tatapannya. " Tentu saja tidak, Pa." Dea tidak ingin Papa Arya melihat kontak mata langsung dengannya.
"Tapi Richie begitu mencintaimu, Nak. Dan dia ingin menikahimu." Keheningan sejenak tercipta karena Dea tak memberikan respon apapun.
"Tapi Dea tidak mencintainya, Pa. Dea tidak ingin menikah dengannya." tolak Dea.
"Tapi Richie sudah memutuskan hubungannya dengan tunangannya, Nak. Papa juga yakin jika Richie akan dapat melindungi mu nanti."
"Tidak, Pa, Ini tidak benar. Dea tidak ingin merusak hubungan orang lain. Tunangan Richie pasti sakit hati karena Richie memutuskan hubungannya dengan membatalkan pernikahan mereka." Dea masih menolak.
"Tapi Uncle Gemal mengatakan kepada Papa bahwa Richie bertunangan dengan tunangannya karena terpaksa, Nak. Neneknya terus saja mendesaknya untuk menikahi tunangannya. Dan Papa juga melihat bahwa Richie benar-benar mencintaimu. Lagipula seluruh keluarga juga sudah setuju jika kalian menikah," jelas Papa Arya.
"Tapi, Pa. Coba Papa bayangkan jika ada seorang wanita yang tiba-tiba hadir dan merusak pernikahan putri Papa. Apa Papa tidak akan marah? Apa Papa akan menerimanya?" seru Dea, ia kembali terisak. "Jika Dea berada di posisinya, Dea pasti akan sangat terluka dan juga sakit hati, Pa. Kumohon Papa jangan egois."
Keheningan kembali tercipta tatkala Papa membenarkan ucapan Dea. Papa hanya ingin Dea bahagia, Papa Arya tidak memikirkan bagaimana nasib dari calon tunangan Richie. Entah mengapa kisah Dea ini begitu mirip dengan kisahnya dan juga istrinya dulu. Tapi Papa percaya bahwa Richie akan menjaga dan juga mencintai Dea seperti yang dulu lakukan terhadap Mama Zara dulu. Papa Arya akan mendukung Richie walaupun dengan cara yang sebenarnya tidak benar.
***
Pagi harinya...
Suara bel pintu apartemen membuat Richie yang selesai mandi terburu-buru untuk segera membukakan pintu. Ia terkesiap kala melihat siapa yang bertamu sepagi ini.
"Dea... "
Dea tak menampakkan raut wajah apapun. Ia nampak begitu datar. Di tangannya memegang sebuah paper bag yang Richie tak tahu. Dea mengalihkan kontak matanya dari Richie. Dea tak ingin menatap Richie.
Richie membuka lebar pintu dan mempersilahkan Dea agar masuk, namun Dea menolaknya.
"Jangan berpikir macam-macam karena Aku Aku datang ke apartemen mu. Aku hanya ingin mengembalikan jaket dan juga celana mu yang sempat ku pinjam." Dea menyodorkan paper bag yang ia bawa. Richie mengambil alih paper bag yang Dea bawa. "Terimakasih," ucap Dea kemudian.
"Kalau begitu Ayo masuklah sebentar saja, Dea," ajak Richie.
"Jangan lagi!"
Richie mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti yang Dea ucapkan. "Maksudnya?"
"Kumohon jangan lagi muncul di depanku atau di depan keluarga ku. Selama Kau berada di Korea, tidak pernah ada terjadi hal seperti ini. Hidup ku terasa begitu nyaman. Tapi sekarang Kau sudah membuat hidup ku begitu berantakan! Jadi kembali saja ke Korea dan mari lanjutkan hidup kita masing-masing."
"Tidak, Dea! Aku akan melamar mu. Lagipula seluruh keluarga juga sudah tahu jika kita akan menikah. Dan mereka menyetujuinya." ucap Richie menentang ucapan Dea tegas.
"Aku tidak akan membiarkan Kau melakukannya!"
Richie berjalan mendekati Dea. Tatapan mereka saling terkunci. Richie meraih pinggang Dea hingga sang empunya tak bisa bergerak. Dea dapat merasakan hembusan hangat nafas Richie.
"Aku pasti akan melakukannya. Aku akan membuktikannya bahwa Aku akan menikahimu meskipun dengan cara terburuk sekalipun. Kau tidak pernah tahu bagaimana tersiksanya diriku karena mu. Dan sekarang Aku tidak akan membiarkan hatiku tersiksa lagi. Aku akan menunjukkan bahwa Aku akan menikahimu!" Richie melepaskan pinggang Dea dan memasuki apartemen meninggalkan Dea. Dea hanya bisa mematung mendengar ucapan Richie.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
FUZEIN
Aduh dea...jangan berkeras sangat..padahal sayang kan
2023-10-07
0
Qaisaa Nazarudin
Nagus Richie, Aku menyokong mu, Dea itu gengsi nya terlalu tinggi,
2023-07-28
0
Vita Zhao
ayolah dea jangan keras kepala
2022-07-19
0