Tempat asing

Richie masih tersenyum menatap Dea di depannya. Namun dia melihat Dea yang hendak beranjak.

"Kau mau kemana?" tanya Richie.

"Bukan urusanmu," ucap Dea ketus. Kakinya melangkah dengan begitu cepat. Richie mengekornya di belakang.

"Ngapain ngikutin Aku sih!" Dea menatap tajam Richie di belakangnya.

"Siapa yang mengikutimu, Aku mau kembali menyusul Papa." kilah Richie. Dea hanya mencebik kesal.

Dea juga melangkah menuju ke ruang tengah. Ia ingin minta izin kepada Papa Arya untuk pergi bersama Arsen.

Dea sampai di ruang tengah lebih dahulu, sementara Richie sampai setelahnya.

"Pa, Mam. Dea mau minta izin kepada kalian. Dea ingin pergi keluar sebentar bersama Arsen." Dea mendekat ke arah Mama dan Papa.

"Kau mau pergi, nak? Mau kemana, lalu Arsen mana?" tanya Papa.

"Arsen mau mengajak Dea ke pesta ulang tahun temannya, Pa. Dia sebentar lagi akan sampai," tutur Dea.

Papa tersenyum mengangguk. Ia senang Dea menjadi dekat dengan Arsen. Ia berharap semoga Dea bisa membuka hatinya untuk Arsen.

"Terimakasih, Pa. Kalau begitu Dea mau bersiap dulu." ucap Dea senang. Ia segera menuju ke kamarnya. Di sela langkahnya ia sempat beradu pandang dengan Richie.

Namun, ia segera memutusnya dan melanjutkan langkahnya.

Richie, jangan di tanya lagi. Pria itu merasa begitu cemburu ketika Dea mengatakan akan pergi bersama Arsen.

Richie mendudukkan dirinya di sofa dengan tak bersemangat. Kenapa ia begitu sulit untuk menghapus rasa cintanya kepada Dea?

***

Tak berapa lama Arsen datang. Ia segera menuju ke ruang tengah setelah di antar oleh pelayan. Arsen terkejut tatkala melihat Richie yang juga berada di sana.

"Selamat malam semuanya," sapa Arsen. Ia sedikit membungkukkan badannya.

"Malam, Nak. Mau mengajak Dea ya?" tanya Mama.

"Iya, Tante." jawabnya.

"Kalau begitu titip Dea ya, Arsen. Jangan pulang terlalu malam," ucap Mama.

"Iya, Tante. Arsen pasti akan menjaga Dea." ucap Arsen tersenyum hangat. Ia kemudian menoleh ke arah Richie.

"Richie, kenapa Kau bisa berada di sini?Kau juga kenal dengan Paman Arya dan Bibi Zara?" tanya Arsen yang heran melihat Richie di sana.

"Jadi kalian sudah saling kenal?" tanya Papa Arya menatap keduanya.

Belum sempat mereka menjawabnya, Dea sudah turun ke bawah dan membuat Arsen dan Richie terpesona menatapnya. Dea terlihat begitu cantik saat ini. Ia mengenakan dress berwarna hitam dan rambut yang di gerai, ia juga memakai make-up tipis, uang membuat Dea nampak begitu cantik natural.

Arsen tersenyum hangat menyambut pasangan pestanya. Dea membalas senyum Arsen dan berjalan ke arahnya. Dia juga sedikit melirik ke arah Richie yang kini juga menatapnya.

Dea merasa begitu gerogi. Saat ini dua pria di depannya tengah menatapnya dengan pandangan yang begitu sulit di artikan.

Dea dan Arsen segera pamit kepada Mama Zara dan Papa Arya. Setelah mendapatkan izin, mereka segera meninggalkan rumah untuk ke tempat yang akan mereka tuju.

Richie menatap sendu Dea dan Arsen yang baru saja meninggalkan tempat itu. Hatinya berkecamuk memikirkan hubungan antara Arsen dan Dea.

'Kenapa Aku berada di posisi serumit ini? Seharusnya Aku yang berada di samping Dea. Seharusnya Aku yang melindungi Dea. Seharusnya... Aku tidak bertunangan dengan gadis lain' Richie begitu lesu memikirkan tentang semua hal. pengaruh Dea membuatnya hampir gila karena cintanya bertepuk sebelah tangan.

Namun tiba-tiba Richie teringat dengan Arsen yang telah memiliki seorang kekasih. Arsen pernah mengenalkan seorang wanita yang Arsen katakan sebagai kekasihnya waktu itu.

"Uncle, Paman, Bibi, Saya harus pergi. Ada pekerjaan yang belum Saya selesaikan," pamit Richie.

Uncle Gemal mengerutkan keningnya. Pasalnya urusan pekerjaan sudah Richie selesaikan. Namun ini malah mengatakan bahwa Richie hendak menyelesaikan pekerjaan. Pekerjaan yang mana? Pikir uncle Gemal.

***

Kini Arsen dan Dea telah sampai di sebuah bangunan yang begitu ramai. Dea mengernyitkan keningnya.

"Kenapa Kau membawaku ke tempat seperti ini? Ini tempat apa?" tanya Dea.

"Ini namanya kelab," jawab Arsen.

Dea mengernyitkan dahinya, ia pernah mendengar nama ini, tapi dia tidak pernah datang ke tempat seperti ini.

"Kenapa kita ke tempat seperti ini?"

"Karena pesta ulang tahun temanku berada di tempat ini, Dea." jawab Arsen.

"Kalau begitu Kau saja yang masuk. Aku akan menunggumu di disini saja," ucap Dea sedikit kesal.

"Mana bisa begitu... Kita berangkat bersama, dan kita akan masuk bersama juga."

"Tapi Aku tidak pernah masuk ke tempat seperti ini, Arsen."

"Tenanglah, Dea. Aku bersamamu dan akan melindungi mu," ucap Arsen menatap Dea dengan yakinnya.

Dea merasa begitu ragu. Ia menghela nafas sejenak, kemudian ia menyetujuinya. Mereka berjalan bersama memasuki tempat tersebut.

Dea merasa begitu asing di tempat itu. Suara musik dari dalam sana terdengar jelas sampai ke parkiran. Membuat Dea begitu tak nyaman berada di tempat itu.

Mata Dea menelisik ke seluruh tempat tersebut. Banyak sekali anak muda yang memakai pakaian minim memasuki tempat tersebut.

Arsen tak percaya Dea tak pernah datang ke kelab. Tapi melihat ekspresi Dea, membuatnya yakin bahwa Dea tidak pernah datang ke tempat seperti ini.

"Apa Kau sungguh tidak pernah datang ke tempat seperti ini?" tanya Arsen sekali lagi.

"Aku tidak pernah datang ke tempat seperti ini."

"Yasudah, kalau begitu kita akan masuk, biar Kau tahu tempat ini."

Tangan Arsen menyentuh tangan Dea dan menggenggamnya erat. Menatap Dea dengan rayuan. "Ini hanya pesta ulang tahun temanku, Kau tidak perlu takut. Aku memperhatikan mu tidak memiliki banyak teman. Cobalah untuk mengenal dunia luar, Kau pasti akan menyukainya. Apalagi Kau juga akan memiliki banyak teman nanti," ucap Arsen.

"Tapi Aku tidak pernah datang ke tempat seperti ini, Arsen. Aku takut."

"Aku bersamamu, Kau akan baik-baik saja, Dea." Ucapan dan tatapan Arsen berhasil meyakinkan Dea pada akhirnya.

Mereka berjalan bersama memasuki kelab tersebut. Arsen menggenggam tangan Dea, membuat Dea merasa senyaman mungkin berada di dekat Arsen.

Bau alkohol menyeruak masuk ke hidung Dea. Matanya terasa sakit melihat gemerlapnya lampu disko. Apalagi suara dentuman keras musik yang memenuhi gendang telinganya, membuat Dea begitu membenci tempat ini. Namun,mau bagaimana lagi.

Beberapa pria dan wanita berteriak melambaikan tangannya kepada Arsen. Arsen membalasnya dengan melambaikan tangannya, ia berjalan ke arah mereka. Namun ia menghentikan langkahnya ketika melihat Dea yang tiba-tiba berhenti.

Arsen kembali meyakinkannya.

"Arsen, Aku menunggu di mobil saja. Kau saja yang menemui temanmu yang berulang tahun."

Arsen menahan tangan Dea. "Tidak apa-apa, Dea. Mereka semua baik, Kau pasti baik-baik saja bersamaku," Arsen kembali meyakinkannya.

"Hai, Bro." Beberapa dari mereka menyambut kedatangan Arsen. "Apakah Dia kekasihmu, kawan?" Salah satu dari mereka bertanya.

***

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Semoga Arsen melakukan kekhilafan dan Dea bisa menjauhi nya,dan menolak perjodohan itu,Feeling ku mengatakan Arsen bukanlah cowok yg baik2..

2023-07-28

0

Rosy

Rosy

menurut Richie arsen adalah seorang Casanova...mungkin Richie akan membuntuti mereka berdua...kok perasaan aku nggak enak ya kalau Dea di ajak ke tempat seperti itu..

2022-07-18

2

Vita Zhao

Vita Zhao

arsen maksa banget sih, pasti ada niat jahat nih dari arsen, arsen kayaknya buakan pria baik deh

2022-07-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!