Bab 4
"Hai, Richie. Aku tidak menyangka Kau akan datang." Moza kini duduk di sebrang sofa.
"Maaf kemarin malam Aku tidak bisa datang, Za. Kau tahu kan, sekarang Aku harus vakum dari dunia hiburan. Aku harus meneruskan bisnis Papa di Korea." ucap Richie. Namun pandangan matanya menatap ke seluruh ruangan seolah sedang mencari keberadaan seseorang.
"Aku tahu, bukankah Kau juga bertunangan dengan seseorang? Aku mendengar beritanya. Kau harus mengundang kami ke pesta pernikahan mu nanti Rich."
Richie tersenyum samar dan menganggukkan kepalanya. "Aku mengundur pernikahan ku, Za. Aku masih ingin memastikan bagaimana perasaanku.
Moza mengerutkan keningnya. "Mengundurnya? Kenapa? Apa ada masalah yang terjadi?" tanya Moza dan mendapatkan gelengan dari Richie.
"Aku masih belum merasakan suatu getaran pada gadis yang Nenek jodohkan padaku," ucap Richie.
"Usiamu itu sudah sepantasnya jika harus menikah, Rich. Jangan bersikap seperti Dea yang tak ingin menikah seumur hidupnya, padahal Papa sudah menjodohkannya dengan seorang pria tampan juga mapan," ucap Moza terkekeh.
Richie terkejut. "Jadi, Paman menjodohkan Dea, Za?"
Moza mengangguk dan mengerutkan keningnya melihat ekspresi Richie. Pria di depannya itu seperti begitu syok dan juga gelisah.
"Ya. Memangnya kenapa, Richie? kenapa wajahmu kelihatan begitu tegang seperti itu?" tanya Moza sedikit penasaran.
Pandangan Richie teralihkan pada Dea yang menuruni anak tangga. Sekian lama tak bertemu, menurut Richie, Dea semakin cantik.
Moza mengikuti arah pandang Richie. Lalu ia memutar kepalanya menoleh pada Dea.
"Dea, mau kemana? Kau terlihat begitu cantik hari ini." tanya Moza.
"Aku ingin membelikan oleh-oleh untuk Celine, Za. Besok Aku harus kembali." ucap Dea.
Moza terkejut, pasalnya Dea mengatakan akan kembali ke Indonesia bersama Moza satu Minggu lagi. "Bukankah Kau waktu itu mengatakan akan ikut pulang bersamaku satu Minggu lagi?"
"Maafkan Aku, Za. Tapi ada pekerjaan mendadak di kantor." Dea menampilkan wajah menyesal.
"Kau mau pergi kemana, Dea? bagaimana jika Aku yang mengantarmu?" tawar Richi.
"Tidak usah," ucap Dea.
Suara mobil dari arah depan membuat Dea yakin jika seseorang telah menjemputnya. Dia langsung keluar dan menyambut seseorang yang tak lain adalah Arsen.
Moza mengikuti langkah Dea untuk mengantar Dea keluar rumah.
Sementara Richie, dari ambang pintu terlihat begitu jelas. Tangannya mengepal sempurna. Rasanya Richie ingin berteriak jika dirinya saat ini sedang merasa begitu emosi.
Richie segera mengatur napasnya dan bersikap senormal mungkin. Dia tidak ingin Moza tahu mengenai hatinya yang terluka karena gadis yang begitu dekat dengannya sedang bersama Arsen.
Richie tahu jika Arsen sebelumnya adalah pria yang memiliki banyak gadis. Richie tak mau jika Arsen mempermainkan gadis pujaannya.
***
Richie kembali ke apartemen miliknya. Otaknya di penuhi dengan pertemuan Arsen dan Dea. Bayangan ketika Dea tersenyum menyambut Arsen membuat pria itu begitu cemburu.
Richie menyugar rambutnya kasar dengan perasaan yang tak menentu. Dia mengambil satu botol Wayne miliknya dan menuangkannya dalam cawan. Meneguknya dengan perasaan yang begitu gamang.
Rasanya dia ingin berteriak sekencang-kencangnya dan mengatakan pada semua orang jika dirinya sangat mencintai Dea.
Ponselnya berdering membuatnya tersadar. Di raihnya benda pipih itu yang menampilkan nama Hye jin di sana. Rasanya Arsen begitu malas untuk mengangkatnya. Namun jika dirinya tidak mengangkatnya, pasti gadis itu akan terus-menerus menghubunginya.
"Ya, ada apa." ucapnya seraya meneguk wine dalam gelasnya.
"Richie, Apa saat ini Kau sedang berada di Singapore?" tanya Hye jin.
"Ya. Kenapa?" Richie meneguk kembali sisa alkohol dalam gelasnya.
"Kenapa Kau tidak memberitahuku? Jika Kau memberitahuku, Aku bisa ikut denganmu," ucap Hye jin.
"Kau belum menjadi istri ku. Jangan bersikap seolah Kau sudah menjadi istri ku, Hye jin. Kita belum menikah, jadi jangan pernah mencampuri urusan hidupku!" tegas Richie.
"Kenapa Kau selalu jahat padaku, Richie? Sebelumnya kita adalah sahabat dan kita masih baik-baik saja. Kenapa sekarang Kamu berubah? Apa salahku padamu?" Hye jin begitu putus asa dengan sikap Richie padanya.
"Karena Kau menerima lamaran nenek untuk menjadi istriku. Kau sendiri tahu kan? Jika Aku samasekali tidak mencintaimu? Tapi kenapa Kau malah menerimanya. Kau itu sahabat ku, selamanya akan menjadi sahabat. Tidak akan pernah menjadi istriku. Karena hatiku sudah ada yang memiliki!" Richie begitu kesal.
"Aku tahu. Tapi apakah Kau tidak memikirkan bagaimana kesehatan Nenek. Nenek sudah tua dan Aku tidak ingin membuatnya terus menerus memikirkan mu yang mencintai gadis yang tidak jelas."
Hye jin juga merasa kesal. Jika selama ini dia hanya diam. Kini Hye jin sudah hilang kesabaran karena sikap Richie. Salahkah jika dia protes?
"Hye jin, seharusnya Kau menjelaskan semuanya kepada nenek tentang yang sebenarnya terjadi. Aku kecewa denganmu ketika Kau malah berkata seolah kita saling mencintai."
"Apa Aku salah, Richie? Aku hanya tidak ingin membuat nenek sedih. Apa Kau tega melihat Nenek sedih? Kau tega?!"
Richie tak dapat berkata-kata. Entah bagaimana lagi dia harus menjelaskan lagi kepada Hye jin.
Richie melempar ponselnya itu hingga pecah berantakan. Richie sungguh merasa kacau. Ia tak dapat mengontrol emosinya dengan baik.
"Richie? Ada apa ini? Kenapa sangat berantakan sekali? Apa terjadi sesuatu?" tanya Gemal. Seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Uncle nya. Dia adalah suami dari Rebecca.
"Uncle?" Richie terkejut dengan kehadiran Gemal yang tiba-tiba di sana. "Maaf, Uncle. Sangat berantakan di sini." Richie langsung mengajak Gemal ke tempat yang lebih bersih.
"Kenapa pulang ke Singapore tidak memberitahu Uncle mu ini. Uncle bahkan tahu dari aunty mu. Jadi, Uncle langsung datang kemari."
"Maafkan Richie, Uncle. Aku lupa," ucap Richie tersenyum. Beberapa detik kemudian, Richie menghela napas panjang. Dan itu tak luput dari pandangan Gemal.
Uncle Gemal memperhatikan wajah Richie. "Apa Kau sedang ada masalah?"
"Tidak ada, Uncle."
"Kau tidak bisa membohongi Uncle. Selama ini Uncle yang sudah membesarkan mu, jadi Uncle tahu jika Kau berbohong. Katakan,apa masalahmu, Richie."
"Aku tidak ingin menikah dengan Hye jin, Uncle," ucap Richie. Gemal terkejut.
"Memangnya kenapa dengan Hye jin?"
"Sebenarnya Aku tidak ingin menikah dengannya, uncle. Dia terlalu posesif padaku. Bahkan dia tak memberikanku ruang untuk bergerak." Richie kembali mende.sah frustasi.
"Itu karena Hye jin mencintaimu, Richie."
"Uncle, sebenarnya Aku tak pernah mencintainya. Aku akan menikahi dia semata-mata karena Nenek."
"Kenapa baru sekarang Kau mengatakannya, Richie? Apa Hye jin tahu jika Kau tidak mencintainya?" tanya uncle Gemal.
"Ya, dia tahu, uncle. Tapi dia tidak ingin membatalkan pernikahan ini. Dia tidak ingin membuat nenek sedih, uncle."
Uncle Gemal menghela napas. "Yang Hye jin katakan benar, Richie. Jika Kau memang tidak mencintainya, kenapa tak Kau katakan ketika sebelum Kau melamarnya? Jika Kau mengatakannya hari itu, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Vita Zhao
kmren bacanya si novel sebelah sampek di bab ini kayaknya kak, pas nungguin eh ternyata ada di novel ini🤗
2022-07-16
1
Seto Wardoyo
lanjut
2022-07-16
2
Jefri Anto
Ok, sejauh ini suka 😏❤️
2022-07-16
2