"Hai, Bro." Beberapa dari mereka menyambut kedatangan Arsen. "Apakah Dia kekasihmu, kawan?" Salah satu dari mereka bertanya.
Arsen tersenyum menatap Dea. Tangan menggenggam erat tangan Dea. "Bisa dibilang seperti itu," ucapnya tersenyum menatap Dea.
Dea merasa begitu berdesir dengan perlakuan Arsen. Seumur hidupnya ia tidak pernah mengenal seorang pria dan berkencan ke suatu tempat, kecuali...
Dea teringat Richie pernah mengajaknya berkencan saat itu. Tunggu, kenapa lagi-lagi ia menjadi memikirkan pria itu?
Teman-teman Arsen menyambut Dea dengan ramah dan begitu hangat. Awalnya Dea merasa nyaman dengan mereka. Tapi saat teman pria Arsen mengajaknya untuk ke depan dan meninggalkan Dea bersama teman perempuan lainnya, Dea merasa begitu asing. Kenyamanannya terganggu.
Salah satu dari wanita itu menuangkan wiski ke dalam gelas dan memberikannya kepada Dea.
"Minumlah, Nona."
"Maaf, tapi Aku tidak menyukai alkohol."
"Jadi Kau tidak pernah minum alkohol, Nona?" tanya wanita itu tak percaya. Dea menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu Kau harus mencobanya, Nona. Ini bisa menghangatkan tubuh mu." Wanita itu menyodorkan ke depan Dea.
"Maaf, tapi Aku tidak bisa meminumnya, Nona," tolak Dea kembali.
"Tapi Kau sudah terlanjur masuk ke tempat ini, Nona. Tidak lucu jika ke tempat seperti ini tapi tidak mencobanya." Wanita itu kembali membujuk.
"Terimakasih atas tawarannya, tapi Aku sungguh tidak bisa meminumnya." Wanita itu akhirnya menyerah. Ia meneguk alkohol yang ia tuangkan kedalam gelas tersebut.
"Apa Kau sudah lama menjadi kekasih Arsen?" Wanita tersebut menaruh gelas dengan sedikit keras dan membuat Dea terkejut.
"Aku, hanya berteman dengannya," ujar Dea.
"Tapi tadi Arsen mengatakan bahwa Kau adalah kekasihnya." Dea menahan napasnya ketika wanita itu berbicara kepadanya. Ia tidak menyukai bau alkohol yang menguar dari mulut wanita tersebut.
"Tidak, Nona. Mungkin Dia hanya bercanda mengatakannya. Kami hanya berteman," jelas Dea. Wanita itu tampak menganggukkan kepalanya.
"Apa Kau sudah lama berteman dengan Arsen, Nona?" tanya Dea kepada wanita itu.
"Aku sudah berteman dengan Arsen sejak kita kecil. Tapi setelah mengenal banyak wanita, dia seolah melupakanku," ucap wanita itu sendu.
Dea dapat menangkap suara dan tatapan sendu dari wanita itu. "Apa Kau menyukai Arsen, Nona?"
"Dea, ikutlah ke depan bersamaku," ajak Arsen yang saat ini menghampiri Dea. Membuat Dea memutus percakapan Dea dan wanita itu.
"Tidak, Aku disini saja, Arsen."
"Tapi Aku tidak bisa meninggalkan mu bersama orang asing," ucap Arsen. Pria itu sedikit melirik ke arah wanita yang duduk di samping Dea.
"Maaf, Aku harus pergi," ucap wanita itu datar. Lalu wanita itu meninggalkan Dea dan Arsen.
Dea merasa begitu heran. Bukankah wanita itu adalah teman Arsen? Tetapi kenapa Arsen bersikap dingin kepada wanita tersebut hingga membuat wanita itu pergi?
"Kau saja yang pergi ke depan. Temani kawanmu yang sedang merayakan ulang tahunnya. Aku akan menunggumu di sini," ucap Dea.
"Tidak, Aku akan menemanimu di sini. Tapi tunggulah sebentar, Aku akan mengambilkan makanan dan minuman untuk mu, tunggulah di sini," ucap Arsen.
Dea menganggukkan kepalanya setuju. Arsen segera beranjak setelah mendapatkan persetujuan dari Dea. Kini tinggal Dea dan beberapa wanita yang ada di sampingnya. Namun, beberapa wanita itu asik dengan ponsel mereka.
Sungguh Dea begitu membenci tempat ini. Suara musik terus saja berdentum keras, membuat telinganya sakit. Ia membencinya, namun ia terlanjur menyetujui permintaan Arsen.
Seorang pria memberikan jus kepada Dea. "Ini dari Arsen. Dia menyuruhmu untuk meminumnya terlebih dahulu," ucap pria tersebut.
"Dimana Arsen?" tanya Dea mengerutkan keningnya.
Pria itu tersenyum sembari sedikit menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama dentuman musik di sana.
"Dia sedang mengambil makanan, tadi dia menyuruhku untuk memberikan jus ini kepadamu. Minumlah, sebentar lagi dia pasti akan datang," ucap pria tersebut.
Dea sedikit ragu. Namun tenggorokannya saat ini begitu kering. Bukankah di depannya hanya jus dan bukan alkohol? Dea berpikir seperti itu. Kemudian ia mulai meminum jus tersebut.
Pria itu tersenyum miring melihat Dea yang meminum jus tersebut. "Bingo," ucapnya dalam hati.
Tiba-tiba saja Dea merasakan aneh pada tubuhnya. Hawa panas begitu menyeruak dalam tubuhnya. Ia sedikit merasakan pusing.
"Kau kenapa?" tanya pria itu pura-pura khawatir.
"Aku tidak apa-apa," ucap Dea memegangi kepalanya. Hawa panas semakin membuatnya tidak nyaman.
"Tapi kau tidak terlihat baik-baik saja. Bagaimana kalau aku membawamu ke suatu tempat yang akan membuatmu nyaman?" Pria itu berkata seraya memegang pundak Dea.
Merasakan pria itu yang menyentuh tubuhnya, tiba-tiba saja bahwa dingin menerpa tubuhnya. Sentuhan pria itu membuat tubuhnya begitu nyaman.
Dea berada diantara sadar dan tidak sadar. Ketika pria itu mengajaknya, Dea seolah menurut dengan perkataan pria itu.
Keringat mulai mengucur ketika Dea berusaha untuk menahan sebuah gejolak yang ada pada tubuhnya. Sementara pria itu hendak merangkul tubuh Dea.
Namun tiba-tiba seseorang datang dan memukul wajah pria tersebut.
Bugh... "Lepaskan dia!" sentak pria yang memberikan bogem mentah terhadap pria yang mengajak Dea.
"Siapa kau?! Jangan ikut campur dengan urusan ku!"
"Aku tidak akan membiarkanmu mengganggunya, dia adalah temanku. Dan jika sekali saja kau menyentuhnya maka kau akan tahu akibatnya!" ancam Richie. Kemudian Richie menarik Dea dan membawanya menuju mobilnya.
"Sial! Kenapa Kau begitu bodoh dan mengikuti Arsen begitu saja, Dea!" Sepanjang perjalanan menuju mobilnya, Richi terus mengumpat kesal. Seandainya saja ia tidak datang tepat waktu, pasti dia sudah menjadi santapan pria tadi.
Dengan sedikit kasar, Richie mendudukkan Dea di kursi depan. Lalu iapun memasuki mobilnya dan melajukannya.
"Kenapa Kau bertindak begitu bodoh, Dea? Arsen sungguh keterlaluan telah membawamu ke tempat seperti itu." Richie terus saja mengumpat.
Ia menatap ke arah Dea yang terus saja bergerak tak nyaman. Richie mengenyitkan dahinya.
"Kau kenapa, Dea?"
"Panas... Tubuhku rasanya begitu panas. Tolong aku... " Dea berucap antara sadar dan tidak sadar.
"Kenapa Dea seperti itu? Apa jangan-jangan... "Richie menyadari sesuatu. Ia membalikkan arah dari hendak mengantarkan Dea ke rumahnya kini berbalik arah menjadi ke apartemennya. Richie tidak mungkin mengantarkan Dea dalam keadaan seperti itu.
Sesampainya di apartemennya, Richie menggendong tubuh Dea dengan segera memasuki apartemennya.
"Tubuhmu begitu dingin, nyaman sekali," ucap Dea dengan nafas yang memburu. Tangannya melepaskan satu persatu kancing kemeja yang Richie kenakan. Jarinya mulai menyusuri dada bidang Richie.
Sungguh itu menggoda iman Richie. Sentuhan Dea membuatnya begitu menginginkan gadis dalam gendongannya. Tapi ia mencintai gadis ini, Richie tidak akan pernah merusak Dea. Andai saja bukan karena pengaruh obat, pasti Dea akan marah jika bersentuhan dengannya.
Ia membawanya kedalam bathroom dan meletakkan tubuh Dea kedalam bathtub. Dea menarik kemeja Richie,ia tidak ingin Richie meninggalkannya.
"Jangan pergi, tolong Aku," ucap Dea, tangannya menarik kerah kemeja Richie dan kemudian Dea mencium bibir Richie dengan brutalnya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Kalian emang Jodoh, Mungkin dgn cara ini Tuhan menyatukan kalian berdua..
2023-07-28
0
Qaisaa Nazarudin
Yeezzz Rechi akhirnya datang 👏🏻👏🏻👏🏻👍🏻👍🏻
2023-07-28
0
Qaisaa Nazarudin
BODOH..
2023-07-28
0