"Hye jin, jangan dengarkan dia. Dia hanya membual. Aku tidak benar-benar akan menikah dengannya, tolong percayalah pada ku," ucap Dea menatap wajah Hye jin yang berlinang air mata. Entah mengapa air mata Hye jin seolah menular padanya. Kini air mata Dea menggenang di pelupuk matanya.
"Cukup, Dea!" bentak Richie.
"Harusnya Aku yang mengatakan itu padamu. Cukup!" Bentak Dea kepada Richie. "Cukup mengatakan hal yang samasekali tidak benar. Jangan bertindak bodoh, Richie!" Dea menarik nafasnya yang begitu menyesakan dada. "Kenapa Kau begitu tega kepada Hye jin yang begitu mencintaimu!"
"Aku tidak memiliki perasaan kepada Hye jin, Dea. Jika kami tetap memaksakan pernikahan ini, kami berdua akan sama-sama terluka!"
"Kau pria bodoh, Richie. Kau sudah menyia-nyiakan gadis baik seperti Hye jin hanya untuk ku?" sinis Dea. "Aku tetap tidak akan menikah dengan mu!" Dea berlalu pergi dari sana menaiki tangga menuju kamarnya. Disaat Richie mengejarnya, Hye jin menghentikannya.
"Richie...."
Richie mendesahkan nafasnya, sesekali mengerjapkan matanya. "Apa Kau tahu Hye jin? Aku sangat mencintai Dea. Aku sangat mengaguminya. Dan Aku juga memiliki alasan tersendiri tentang cinta ku padanya. Namun untukmu, Aku hanya menganggapmu sebagai saudara saja. Sekeras apapun Aku mencoba untuk mencintai mu, itu akan sulit bagiku. Tolong, maafkan Aku. Jika Aku memaksakan hatiku untuk menikah denganmu, Aku takut malah akan semakin membuatmu terluka," ucap Richie menatap Hye jin.
"Ya, Aku tahu." Hye jin mengusap air matanya agar tidak berjatuhan. "Kedatangan ku kemari memang untuk memastikan hal itu. Aku ingin memperjelas lagi tentang perasaan di antara kita selama ini." Hye jin berhenti sejenak mengambil nafasnya agar tak sesenggukan.
"Aku memang mencintai mu, Richie. Dan rasanya memanglah begitu menyakitkan bagiku. Seperti halnya dirimu, Aku tidak pernah bisa menemukan sedikitpun kebahagiaan di antara hubungan kita. Aku selalu berusaha untuk menjadi orang lain agar Kau bisa mencintaiku, namun itu tidak pernah berhasil dan hanya membuat sakit hatiku."
Hye jin berusaha keras untuk membuat air matanya agar tidak luruh membasahi pipinya semakin deras. Namun ia tak dapat membendung tangisnya ketika ia memejamkan matanya. Ia berusaha menenangkan diri dan mengatur nafasnya yang semakin membuatnya begitu sesak.
"Aku memang baru mengenal Dea. Tapi, Aku tahu bahwa Dea adalah gadis yang sangat baik. Dea tidak pernah tahu Aku berasal dari mana dan dimana, tapi dia begitu tulus merawatku. Kau harus berusaha lebih keras lagi agar bisa mendapatkan cinta dari Dea." ucap Hye jin membuat Richie tak percaya.
"Hye jin...." Richie sungguh tak menyangka bahwa ternyata Hye jin malah mendukungnya. Ini jauh diluar apa yang ia pikirkan dalam angannya. Bahkan ia mengira bahwa Hye jin akan berontak dengan keputusan yang telah di ambilnya untuk menikahi Dea, seperti yang sudah dia asumsikan.
"Jangan khawatir, Richie. Aku yang akan mengurus Nenek. Aku juga lelah seperti ini, Richie. Mengharap cintamu sangatlah mustahil, sementara cintamu saja untuk orang lain. Aku tidak akan memaksakanmu untuk hidup bersamaku sementara hati kita sama-sama tersiksa. Ini sangat menyakitiku, tapi inilah yang terbaik untuk kita. Aku lega, karena sekarang tidak harus memikirkan lagi hubungan kita yang tidak ada harapan."
***
Saat ini Dea tengah menatap langit-langit kamarnya. Kejadian siang tadi membuatnya begitu terkejut dan juga sedih. Ia terus saja memikirkan tentang perasaan Hye jin yang mungkin saja saat ini telah hancur berkeping-keping. Dan itu di sebabkan oleh dirinya.
Sejak siang tadi Dea terus saja mengunci diri di kamarnya. Tidak ada yang bisa membujuknya untuk makan. Dea sangat membutuhkan Moza saat ini, tapi Moza sudah kembali ke Indonesia dua hari yang lalu. Hingga ia pun hanya bisa memendam sendiri perasaan hatinya.
"Nak, Ayo makanlah sebentar, Sayang." Terdengar suara Mama Zara dari balik pintu. Entah sudah berapa kali Mama Zara membujuk, tetapi tidak ada sahutan maupun respon dari dalam kamar Dea.
"Kenapa Dea bisa seperti ini?" tanya Papa Arya setelah pulang dari kantornya. Ia begitu khawatir dengan Dea setelah Mama Zara menelponnya.
Mama Zara lalu menceritakan kepada suaminya tentang kejadian siang tadi.
"Jadi Hye jin adalah tunangan Richie sebelumnya?" Papa Arya terkejut.
Hingga pelayan rumah mengalihkan perhatian Mama Zara dan Papa Arya dari pintu kamar Dea.
"Permisi Tuan, Nyonya. Diluar ada keluarga Tuan Gemal dan...."
"Dan siapa, Bi?"
"Nona Hye jin, Tuan."
"Hye jin?" Papa Arya dan Mama Zara saling berpandangan. Sejenak kebisuan melanda keduanya. Hingga akhirnya Mama Zara dan Papa Arya melangkah menuju ruang tamu.
"Rebecca?" Mama Zara langsung menghampirinya dan mereka saling berpelukan. Sudah lama sekali mereka tidak pernah saling bertemu semenjak Bibi Rebecca menetap di Korea untuk beberapa waktu.
Namun pandangan mereka teralihkan pada Hye jin yang duduk bersama keluarga Gemal. Mama dan Papa Arya hanya tahu bahwa Hye jin adalah mantan tunangan Richie. Mereka belum mengetahui bahwa Hye jin juga kerabat dari Richie.
***
Sementara Dea saat ini masih bergelung di dalam selimutnya. Ia masih memikirkan bagaimana nasib masa depannya nanti.
"Dea." Suara Mama Zara kembali terdengar di balik pintu kamarnya. Namun Dea enggan untuk bergerak dari tempatnya.
"Dea, ada Hye jin di sini. Dia ingin berbicara denganmu, Nak," ucap Mama masih mengetuk pintunya.
Namun Dea masih saja enggan untuk turun dari tempat tidurnya. Ia tidak ingin berurusan dengan orang-orang yang berhubungan dengan Richie.
"Dea, bisakah sebentar saja kita bicara?" Suara Hye jin menggantikan suara Mama Zara.
Dea menatap kearah pintu. Ya, itu adalah suara Hye jin. Perlahan Dea mulai beranjak dari tempat tidurnya. Perlahan, Dea mulai membuka pintu kamarnya.
Mama Zara mengembangkan senyumnya. Ia begitu lega, akhirnya Dea mau membuka pintu setelah berbagai macam bujukan.
"Dea...."
"Masuklah, Hye jin." Dea berusaha untuk tersenyum menatap Hye jin. Kemudian ia membuka pintu kamarnya selebar mungkin agar Hye jin leluasa untuk masuk.
"Kalau begitu Mama turun dulu." ucap Mama Zara tersenyum. Mama ingin memberikan ruang kepada Dea dan Hye jin untuk berbicara.
Dea segera menutup pintu kamarnya dan berjalan menghampiri Hye jin yang sudah duduk di sofa kamarnya.
"Apa Kau menangis, Dea?" tanya Hye jin saat melihat mata Dea yang terlihat sedikit sembab.
"Aku tidak menangis, Hye jin. Kenapa Kau bisa berpikir Aku menangis?" Dea berusaha menyangkalnya.
"Jangan berbohong, Dea. Kau tidak boleh menangis, Kau harus bahagia. Sebelum Aku kembali ke Korea, Aku mempunyai permintaan padamu." ucap Hye jin tersenyum lembut.
"A-apa? Kenapa Kau mau kembali ke Korea? Permintaan apa itu, Hye jin?"
Hye jin tersenyum. "Menikahlah dengan Richie," ucap Hye jin membuat Dea terdiam menatap Hye jin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Dea terlalu keras kepala ckck,,lama2 aku enek dgn sikapnya Dea..
2023-07-28
0
Rosy
Dea ini...selalu memikirkan perasaan orang lain daripada perasaannya sendiri..kalau Hye jin menikah dg Richie mereka tidak akan pernah bahagia karena dari dulu sampai sekarang Richie masih sangat mencintai kamu Dea...dan Hye jin pun tahu kalau kamu akan bahagia bersama richie...dan Richie akan bisa membuatmu bahagia ...
2022-08-02
2
Widi
Ayolah dea menikah dh richie, kamu juga mencintai nya kan?
2022-08-02
2