Dea memulai meeting dengan melakukan presentasi bergantian dengan sekretarisnya. Dea nampak salah tingkah ketika Arsen memperhatikannya tanpa berkedip sedikitpun. Jelas saja, saat ini Dea menjelaskan secara detail tentang perusahaan yang dipimpinnya. Bukankah itu hal yang wajar jika Arsen menatapnya?
Bahkan yang lainnya juga tengah memperhatikannya saat ini.
Arsen adalah pria tampan pertama yang menjadi kliennya. Karena sebelumnya kliennya adalah pria yang seumuran dengan Papa angkatnya. Makanya Dea merasa sedikit canggung.
"Baiklah, Nona Dea. Saya tertarik bekerjasama dengan perusahaan Anda." ucap Arsen.
Dea tercekat mendengarnya. Apakah pria itu benar-benar yakin bekerja sama dengan perusahaanya?
"Tuan Arsen bersedia bekerjasama dengan perusahaan kami?" tanya Dea memastikan.
"Ya, Nona." Jawab Arsen yakin.
"Tidakkah Tuan ingin melakukan observasi terhadap perubahan kami terlebih dahulu? Anda bisa memutuskan sebelum bekerjasama dengan perusahaan kami."
"Saya tidak perlu melakukan observasi. Kebetulan Tuan Arya adalah teman dari papa Saya, jadi Saya sudah mengetahui seluk beluk dari perusahaan yang Anda kelola saat ini."
Dea rasanya tidak percaya kliennya langsung memutuskan untuk bekerja sama dengannya. Ini telah menjadi kebanggaan tersendiri baginya. Karena ia mendapatkan klien tanpa bantuan dari Tuan Arya. Sebelumnya Tuan Arya masih sering sekali membantu dirinya.
Dea segera mengakhiri pertemuannya dengan Tuan Gabriel dan juga Tuan Arsen. Mereka kembali akan bertemu lagi beberapa hari lagi untuk membicarakan masalah kontrak kerjasama.
"Kalau begitu kami permisi, Nona. Sampai jumpa untuk beberapa hari lagi. Senang bisa bekerjasama." ucap Arsen menjabat tangan Dea dan tersenyum padanya. Dan itu membuat tubuh Dea seperti patung.
"I-iya, Tuan. Terimakasih karena sudah mau bekerjasama dengan perusahaan kami."
"Sama-sama, Nona." Arsen segera mengakhiri jabat tangan tersebut. Kemudian ia segera pergi dari ruang meeting tersebut.
Sementara Dea masih menatap pintu yang kini sudah tertutup itu. Ia tersenyum menatap punggung Tuan Arsen.
'Dia tampan sekali, dan juga sangat sopan. Berbeda sekali dengan Richie' batin Dea. Dea tersadar. Ia menggelengkan kepalanya karena tiba-tiba teringat dengan Richie dan membandingkannya dengan Arsen.
"Bukankah Tuan Arsen begitu tampan, Nona?" tanya Celine. Suaranya terkesan meledek Dea.
"Eh, kenapa kita jadi membahas tentang Tuan Arsen, Celine? Ayo cepat selesaikan pekerjaan mu," ucap Dea melenggangkan kakinya meninggalkan ruangan meeting.
***
Dea nampak menatap langit yang nampak terlihat begitu cerah dari jendela ruangannya. Ia memikirkan tentang kejadian beberapa bulan lalu. Tuan Arya dan Nyonya Zara telah menyampaikan kepada publik bahwa ia telah mengangkat dirinya sebagai putri keduanya.
Dea merasa sangat bahagia saat itu. Memiliki sebuah keluarga adalah idamannya. Apalagi dengan Moza sahabatnya yang kini menjadi saudaranya. Ia benar-benar merasa bahagia. Namun, ia masih begitu canggung ketika memanggil mereka dengan sebutan Mama ataupun Papa. Sampai saat ini Dea masih memanggil mereka dengan Tuan dan Nyonya.
***
Arsen mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dirinya terpaksa memberhentikan mobilnya dan menepi sejenak ketika ponselnya berdering.
Arsen meraih ponselnya dan segera mengangkatnya. Nama ayahnya tertera pada layar ponselnya.
"Ya Ayah, ada apa menelpon ku?" tanya Arsen.
"Arsen, Kau ada di mana?"
"Aku di jalan, Ayah. Aku mau ke kantor," ucap Arsen.
"Segera ke Singapore hari ini, Ayah mau mengajakmu bertemu dengan Tuan Arya."
Arsen mengerutkan keningnya. Sebuah nama yang tak begitu asing di telinganya. Tuan Arya, bukankah dia adalah pemilik perusahaan utama di Singapore. Dan perusahaan yang barusan ia datangi adalah anak perusahaannya yang ada di Indonesia. "Tuan Arya yang mana, Ayah?"
"Tentu saja Tuan Arya Prasetyo, pemilik perusahaan terbesar kedua yang ada di Singapore. Beliau ingin mengenalkan putri keduanya dengan mu dalam perayaan kehamilan putri pertamanya nanti." jelas sang Ayah.
"Putri keduanya? Untuk Apa, Ayah?"
"Dia ingin mencarikan jodoh untuk putri keduanya. Putri keduanya itu tidak pernah berpacaran, dan sampai saat ini belum memiliki pasangan. Beliau selalu mengeluhkannya pada Ayah. Jadi Ayah ingin mengenalkan mu pada putri keduanya. Mungkin kalian akan berjodoh." ucap sang Ayah dengan begitu yakin.
"Apa? Tidak! Aku tidak mau, Ayah. Aku tidak tahu bagaimana seluk-beluk dari putri keduanya. lagipula Aku ingin memilih calon istriku sendiri," tolaknya.
"Tapi masalahnya Tuan Arya akan memberikan 1/4 sahamnya jika kalian cocok."
"Aku tidak suka dengan perjodohan, Ayah."
"Kau itu juga belum memiliki pasangan. Siapa tahu saja kalian berjodoh. Ayolah nak, bantu ayahmu kali ini saja." ucap sang Ayah penuh permohonan.
Arsen menghela nafasnya panjang. Papanya selalu saja memaksakan kehendaknya.
"Ayolah nak, jangan kecewakan Ayah."
"Baiklah-baiklah, tapi hanya berkenalan saja ," ucap Arsen yang akhirnya menyetujui permintaan Ayahnya.
"Baiklah, terimakasih nak."
"Hemmm...."
"Kala...." Belum sempat Ayahnya menyelesaikan ucapannya, Arsen sudah memutuskan panggilan secara sepihak. Ia begitu kesal dengan Ayahnya.
Arsen segera memutuskan panggilan tersebut. Ia tidak habis pikir dengan sang Ayah. Ayahnya begitu gila akan saham perusahaan.
Baru beberapa menit ponsel Arsen kembali berdering. Kali ini ia mengangkat tanpa melihat layar ponselnya.
"Iya, ada apa lagi, Ayah?" Arsen mengira Ayahnya kembali menghubunginya.
"Sejak kapan Aku menjadi ayahmu, Bro?" ucap seseorang dari seberang telepon. Dia terdengar terkikik di seberang sana.
Arsen terkejut dengan suara ayahnya yang berbeda. Ia melihat layar ponselnya dan ternyata itu dari Richie.
Melihat nama Richie, kekesalannya sedikit mereda.
"Ada apa? Tumben sekali menghubungi ku. Apakah calon pengantin bosan? Hahaha," celetuk Arsen dengan tawanya.
"Jangan berkata seperti itu. Kau sendiri tahu kalau Aku tidak akan pernah menerima perjodohan dari keluarga ku."
"Oke, Aku tahu itu. Tapi kenapa Kau menolaknya, bukankah calon istri mu begitu cantik?" Arsen menggoda Richie.
Terdengar suara helaan nafas dari seberang panggilan. "Entahlah, tapi hati ini sudah berlabuh pada seseorang," ucap Richie dengan suara beratnya.
"Apakah dengan gadis yang di gosip kan denganmu itu? Kau jangan sampai menjadi pria perebut istri pria lain. Carilah gadis lain."
"Apa Kau gila? Mana mungkin Aku menjadi pria perebut istri pria lain."
"Oh iya, lusa Aku akan terbang ke Singapore untuk menghadiri acara Tuan Arya. Bukankah putrinya itu yang pernah di gosip kan dengan mu? Mereka akan mengadakan pesta syukuran atas kehamilannya. Wah, jangan patah hati ya Bro," ucap Arsen yang kembali menggoda temannya.
"Sial! Aku akan menyumpal mulutmu itu."
"Hahaha... Itu tidak akan pernah bisa. Bukankah Kau saat ini sedang di Korea sedang menjalani perjodohan yang orang tua mu lakukan? Tidak mungkin dalam sekejap Kau datang dan menyumpal mulutku? Hahaha...." Arsen kembali terbahak. Ia sudah membayangkan wajah kesal aktor yang sedang naik daun itu.
Mereka menjadi akrab ketika sepupu Richie yang bernama Deko mengenalkan mereka.
"Kau lihat saja, Aku akan datang untuk menyumpal mulutmu itu nanti."
"Kau pikir Aku takut? Tidak."
"Aku jadi melupakan niat awal ku menelpon mu Bro. Aku ingin bertanya apakah Kau tahu di mana Deko saat ini? Kau atasannya,jadi Aku bertanya padamu."
"Aku tidak bersamanya, sudah tiga hari dia cuti dari kantor. Nanti kalau Aku melihatnya, Aku akan mengabarimu."
"Baiklah, thanks Bro. Sampai jumpa nanti saat Aku datang dan menyumpal mulutmu itu," canda Richie dan segera menutup panggilan tersebut.
Arsen hanya tersenyum menggelengkan kepalanya. "Itu tidak akan pernah terjadi, Bro," gumamnya dan kembali menyimpan ponselnya. Ia kembali menjalankan mobilnya ke kantornya.
***
Sementara di tempat lainnya, yaitu di Korea. Seorang pria menatap ke arah jendela kaca lantai sebelas. Terlihat hujan sedang mengguyur. Pria itu memejamkan matanya sejenak. Ia teringat dengan kehidupannya.
Papanya menyuruhnya untuk berhenti menjadi seorang aktor. Karena Papanya menginginkan dirinya memegang perusahaan keluarganya untuk menjadi penerus sang Papa.
Papanya juga telah menjodohkannya dengan Putri sahabatnya. Namun Richie menolak keras. Hatinya masih tertinggal di Singapore. Namun ia tidak tahu dengan takdir yang akan ia jalani. Gadis yang sudah mencuri hatinya berkali-kali menolaknya.
Gadis itu adalah Dea. Entah bagaimana ceritanya, dia bisa jatuh cinta dengan gadis tersebut. Padahal sebelumnya ia begitu menyukai Moza.
Mungkinkah Richie seperti yang di gosip kan selama ini? Seorang pria tampan pecinta wanita yang ang akan mudah jatuh cinta kepada wanita manapun?
Jawabnya, tidak. Ia memiliki alasan tersendiri karena sudah melabuhkan cintanya pada gadis bernama Dea.
Richie tersenyum mengingat wajah Dea, namun terdapat kesedihan dalam senyumnya. Cintanya tak terbalaskan. Namun sampai saat ini ia juga tidak bisa mencintai gadis lain. Lalu apa yang harus ia lakukan? Richie begitu bingung dengan hatinya.
Hingga sebuah ketukan pintu ruangannya terdengar.
"Annyeong haseyo," ucap seorang gadis yang kini terlihat mulai memasuki ruangannya. Seorang wanita berwajah cantik tersenyum manis di depannya.
Richie tak membalas dengan ekspresi yang sama.
"Ada apa Kau kemari?" tanyanya tanpa menatap kearah wanita bernama Hye jin yang saat ini sedang di jodohkan dengannya. Richie berpura-pura fokus pada berkas di depannya.
Hye jin berjalan mendekat ke arahnya. "Paman dan bibi menyuruh ku untuk mengajakmu pulang," ucap Hye jin masih dengan senyum manisnya.
"Memangnya kenapa mereka menyuruh ku pulang?" tanya Richie yang masih tak mengalihkan pandangannya dari berkas yang ada di depannya.
"Paman dan bibi menyuruh kita untuk memilih pakaian pernikahan. Apa Kau melupakannya?"
"Tidak. Saat ini Aku masih sibuk."
"Tapi Paman dan bibi yang menyuruh ku."
"Katakan pada mereka jika Aku tidak bisa ikut. Pilih semua sesuai keinginanmu saja. Maaf, Aku harus segera meeting." Richie melangkah meninggalkan Hye jin seorang diri.
Hye jin menatap punggung Richie yang mulai menghilang dari balik pintu. "Selalu saja dia bersikap seperti itu kepadaku. Apa dia tak bosan?" ucap Hye jin kesal. Ia segera melangkah keluar dari ruangan Richie.
***
Dea menatap pesan dari Tuan Arya yang menyuruhnya untuk kembali ke Singapore. Tentu saja Dea akan patuh. Temannya telah kembali dari liburannya dan membawa kabar yang begitu membahagiakan untuk semua orang termasuk dirinya.
Ia akan menjadi calon aunty. Membayangkannya saja membuatnya menyunggingkan senyum.
"Celine, Aku ingin Kau menghandle pekerjaan ku selama Aku berada di Singapore. Aku mempercayakan semuanya kepada mu," ucap Dea ketika selesai menandatangani berkas di depannya.
"Baiklah, Nona. Kapan Anda akan berangkat?"
Dea meletakkan bolpoin nya dan menatap Celine. "Aku akan berangkat lusa."
"Tapi bukankah lusa kita akan bertemu kembali dengan Tuan Arsen, Nona. Kita akan menandatangani surat kontrak kerjasama dengan perusahaannya," Celine mengingatkan Dea.
Dea menepuk keningnya. Ia melupakan hal itu. Ia nampak berpikir. "Aku tetap akan menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan Tuan Arsen, Celine. Baru setelahnya Aku akan berangkat ke Singapore."
Celine tersenyum dan mengangguk.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Pantesan Dea gak mau sama kamu,playboy ternyata…
2023-07-28
0
Qaisaa Nazarudin
loh loh loh kok mereka temanan ternyata..wah bakalan seru nih..
2023-07-28
0
Qaisaa Nazarudin
Kan tadi udah ketemu dan udah kenalan 😃
2023-07-28
0