“Togar, makan ini” ucap pak Bram memasukkan sirih pemberian dukun yang di temuinya.
“Cepat kunyah dan telan! Kau harus berjanji menjadi anak yang penurut setelah keinginan mu menikah dengan gadis itu tercapai” ucap pak Bram lagi sambil memastikan sirih itu benar-benar tertelan olehnya.
“Apa ini ayah? Tidak enak” Togar menutup mulut menahan seluruh isi perut yang hampir keluar.
“Jangan cerewet! Habiskan!”
...----------------...
Di balkon bernuansa hijau, ada beberapa syal berwarna merah dan coklat yang masih tergantung disana. Peninggalan milik sang istri, pak Bram yang masih setia sampai saat ini enggan mencari pengganti atau memberikan ruang lain untuk cinta yang lain di hatinya. Semua kepunyaan dan tata letak milik almarhumah tetap sama, di rumah besar itu pak Bram sering melamun mengingat kebersamaan istrinya yang sudah tiada.
“Mawarni! kalau kau tau anak mu akan menikah pasti kau akan senang dan bahagia. Aku tau sifat mu yang sangat memanjakan Togar dahulu” gumam Bram menahan genangan gerimis yang hampir singgah di sudut matanya.
Lukisan besar terpajang di dinding dekat kasur, balkon yang di pisah dengan kaca dan tirai putih itu berdekatan dengan kamar pak Bram yang terletak di lantai dua. Dahulu sekitar pinggirannya terdapat berbagai macam bunga di dalam pot kecil, Mawarni suka mengurus dan merawatnya sehingga di kala siang dan malam pemandangan tampa indah serta beraroma segar bunga alami. Pak Bram mengusap foto Mawarni, dia sudah tidak tahan lagi ingin menumpahkan tangisan akibat dadanya yang terlalu sesak.
“Istri ku, Togar mencintai wanita yang salah. Dia memiliki ilmu yang bisa membuat bencana pada diri anak kita. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau dia membenci ku jika menentang pernikahan ini.”
......................
“Semua sudah jelas, adik ku pasti sudah melakukan hal yang sesat. Aku harus menghentikannya” gumam Ani berjalan menaiki anak tangga.
Biasanya sangat sulit untuk menuju kesana, tapi malam ini langkah kaki sudah mencapai depan pintu besi dan dengan mudah membuka batang pintunya.
“Tidak terkunci” ucap Ani.
Ruangan gelap, tidak ada ventilasi jendela. Di sudut terdapat tempat tidur lama yang hanya terbuat dari tikar bambu. Ani memperhatikan meja yang di dalam nya di tutupi kain hitam besar. Hampir saja dia pingsan akibat aroma kemenyan yang begitu menyengat. Perlahan tangan Ani menarik ujung kain hitam tersebut.
Sreekkk.
“Arggghhh!” jeritan melengking melihat kepala tengkorak sedang menggertakan gigi mendekatinya.
“Kakak, jangan pernah ke ruangan ini lagi” Tolu menarik tangannya.
Ani menghentakkan tangan lalu menujuk ke meja, “katakana! Apa maksud semua ini!”
“Bukan kah kau sudah melihatnya? Aku melakukan ini semua untuk kelangsungan hidup kita sekaligus sukarela mengobati orang kampung tanpa mengharapkan imbalan apapun” jawab Tolu.
“Tidak seperti ini caranya! Bukan kah ibu selalu mengajarkan kita agar tidak mencapai jalan sesat? Hiks” tangis Ani mendorong Tolu sampai membentur dinding.
“Kakak maafkan aku, tapi jika aku tidka seperti ini mungkin kita sudah mati kelaparan di perkampungan terpencil dan sulit mencari pekerjaan. Aku melakukan semuanya untuk keluarga” Tolu menggenggam erat tangan Ani sambil menangis.
“Pantas saja kau sudah malas melaksanakan ibadah dan kewajiban sebagai umat beragama. Asal kau tau Tolu, sampai kapan pun kakak menentang semua ini! Mulai sekarang kau pilih kakak atau semua benda sial ini?” ucap Ani dengan nada membentak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
Sakura_Merah
beneran sesat...
2022-11-06
0
Erni Sari
ya ampun, tolu sudah tersesat ini.
2022-07-27
0
👑Ria_rr🍁
siapa yg akan jadi korban Thor, ish kemal aku we🤔 lanjut baca deh klo gitu thor
2022-07-13
0