Bagaimana cara menyelesaikan waktu yang bersifat ghaib? Tidak ada yang bisa menghindari kehadiran makhluk tidak kasat mata.
Pandangan mata kosong, tubuh lemas dan tidak menerima makanan atau minuman yang di berikan. Jarum infus tergantung di bagian sisi kiri yang menyambung di tangan dirinya. Ani tidak mengucapkan sepatah kata pun sekalipun mbok Heni memberikan beberapa pertanyaan atau gurauan agar berharap bisa menghiburnya.
Ting, Tong. (Suara bel rumah).
“Non, mbok tinggal sebentar” ucap mbak Heni meletakkan obat-obatan di atas nakas.
Posisi tubuh Ani masih memasang wajah terjaga, dia teringat kejadian tadi malam telah membuatnya mati ketakutan. Ani sudah bertekad akan melepas paksa jarum infus yang terdapat di tangannya jika melihat sosok ghaib kembali.
Dia tidak ingin tertangkap oleh hantu atau di makan secara hidup-hidup. Nafas masih tidak stabil, Ani menatap ke langit-langit yang penuh dengan sarang laba-laba. Dia mengingat perkataan Almarhumah ibu Mariti. Bangunan yang memiliki sarang laba-laba sekalipun sudah di huni pasti menyimpan tempat persembunyian pada makhluk lain.
“Dimana Tolu?” gumamnya.
Krek. (Suara pintu bergeser dengan sendirinya).
Tidak ada angin yang membawanya, Ani melotot bergerak mundur memastikan disana bukanlah hantu yang akan kembali mengganggu.
“Kak Ani” suara Tolu yang sudah berdiri di sampingnya.
Ani langsung menangis memeluk sang adik begitu erat, sangat lama tangisan dan jeritan yang dia keluarkan. Tolu hanya tetap diam sampai menunggu semua rasa sakit atau ketakutan ada diri kakaknya itu benar-benar lega dari hatinya.
“Kakak, maafkan aku” ucapnya.
Tolu membantu Ani kembali berbaring, dia memastikan jarum infus masih berada di tangannya. Ani menyuapi makanan yang bekum tersentuh dan memberinya obat.
“Kakak, beristirahatlah. Aku akan menjaga mu.”
“Tolu, tadi malam ada sosok anak kecil bertubuh dan wajah tua mengejar ku. Aku ingat berdiri tepat di lantai atas” ucap Ani sambil menjambak rambutnya.
“kakak, mungkin itu hanya halusinasi mu saja. Tidak ada yang bisa menyakitimu.”
“Ani, kakak tau ada yang tidak beres di rumah ini. Atau lantai atas yang tidak pernah tersentuh sepeninggal ayah dan ibu. Apa yang sudah kau sembunyikan?” tanya Ani mengguncangkan tubuhnya.
“Non Tolu, pak Togar sedang menunggu di bawah” ucap mbok Heni yang datang dari balik pintu.
“Suruh dia tunggu aku sebentar mbok.”
“Tolu, katakan yang sebenarnya. Kakak mendengar dari banyak orang tentang diri mu” ucap Ani.
“Kakak, jika waktunya tiba maka aku akan menceritakan secara perlahan. Aku hanya butuh waktu, oh iya! Pesan ku, jangan dekati lantai atas” pesan Tolu pergi berlalu.
Pakaian yang rapi, rambut tersisir sempurna dan aroma parfum maskulin begitu menyengat di sekitar ruangan. Di lantai bahkan di atas meja sudah berjejer berbagai kotak besar dengan pita di atasnya.
“Bang, kenapa kau membawa barang sebanyak ini ke rumah ku? Hari ini aku sibuk mengurus kak Ani yang sakit. Pulang!” bentak Tolu.
“Kak Ani sakit apa? Aku harus lebih berlama lagi menetap disini untuk melihat keadaannya. Tolu, kau masih saja tetap kasar kepada calon suami mu. Kemarin malam kau sudah berjanji akan menerima ku” ucap Togar tanpa menyerah dan melangkah lebih mendekat.
“Jangan macam-macam kau!” bentak Tolu.
Togar menatap gadis pemarah dan dingin itu tanpa berkedip, mengusap keningnya secara perlahan. Kepala pria yang tidak berdosa itu hampir pecah ketika secara spontan tangan Tolu memukul pada bagian kepala belakang dengan menggunakan gelas yang berada di tangannya.
Prangg.
“Arghh!” pekik Togar kesakitan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
Elisabeth Ratna Susanti
mantap jiwa 😍
2022-08-07
1
Author yang kece dong
kasihan togar.. 😥
2022-07-30
1
Erni Sari
❤️❤️❤️❤️❤️
2022-07-25
1