Sakaratul maut yang sudah mendekati ibu Mariti terlihat pada gerakan dengan nafas tarikan satu persatu dan ucapan terakhirnya yang menyebutkan lafaz Allah.
“Ayshadu An-la ilaha illallah___ Wa Ayshadu Anna Muhammada Rasulullah" ucap Ibu Mariti terakhir kali.
"Ibu! bawa aku pergi bu! aku tidak bisa hidup tanpa mu!" Mardan.
Mardan sangat terkejut, karena dia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi agar berharap segera sampai rumah sakit ternyata ibunya sudah menghembuskan nafas terakhir. Dia menoleh sambil menangis, tanpa sadar ada truk besar yang berhenti di pinggir jalan lintas ketika dia akan menepikan kendaraannya.
Tin, tin (Suara klakson mobil).
...----------------...
“Ibu! bang Mardan!" Mata Tolu terbuka menghentikan persemediannya.
Dia menggunakan ilmu pelepasan sukma untuk mencari keberadaan mereka. Sosok sukmanya melihat jasad ibu dan Mardan meninggal di dalam mobil dekat lintas jalan raya. Sukma Tolu kembali masuk ke tubuh, dia menelepon polisi untuk menuju ke wilayah tempat kecelakaan dan menelepon Togar untuk membantu mengurusnya.
Rumah besar kediaman Tolu di penuhi oleh para pelayat, sementara Ani yang sudah siuman langsung menangis mengetahui kematian abang dan ibunya. Dua buah tempat tidur berlapis kain putih sudah di persiapkan di tengah ruangan besar, Ani langsung memeluk jasad ibu Mariti saat tiba di bawa ke dalam rumah.
“Tidak, ibu bangun! Jangan tinggalkan aku!”
“Kak Ani, jangan sampai air mata mu menetes di bagian mata ibu. Aku tidak mau hal itu bisa memberatkan kepergiaannya” bisik Tolu.
“Tidak, ibu akan bangun!”
Tolu memeluk Ani yang sangat histeris, kini hanya Ani satu-satunya saudara yang dia punya di dalam hidupnya. Togar membantu mengurus proses pemakaman dan hal-hal yang di butuhkan di dalam rumah. Dia juga menyiapkan acara do’a bersama di malam hari.
Tolu duduk di sudut salah satu ruangan yang sepi dari para tamu, dia memeluk lututnya dan menangis meratapi semua hal yang terjadi. Perjuangan dan kerja keras demi memenuhi segala kebutuhan keluarga dan berharap ibunya bahagia. Kembali dia bertanya kepada diri sendiri, akan suratan nasib atau takdir setelah dia memilih jalan hitam. Togar mendekatinya, dia memberikan sebuah sapu tangan dan segelas air putih.
“Aku akan selalu di samping mu” ucap Togar.
Tolu hanya menerima sapu tangan lalu pergi mengabaikannya. Dia tidak ingin memberikan cinta untuk pria itu. Mulai hari dan seumur hidupnya, Tolu mengubur cinta walau hanya setetes untuk Togar. Tolu tidak ingin Togar meninggal atau terjadi hal buruk jika dia memberikan rasa cinta dan sayang. Segala perkataan raja jin penghuni gua di kaki bukit hutan masih terngiang di telinga.
...----------------...
Tolu memutuskan untuk pindah ke rumah lamanya. Togar tetap tidak menyerah dan membantu segala keperluan gadis yang dia cinta. Persiapan mengangkat barang-barang dan membantu proses renovasi rumah dengan cepat. Saat memasuki halaman rumah, Ani menatap ke bekas tungku api yang terletak di bawah pohon bagian samping halaman. Dia mengingat pada masa lalu, ibu yang selalu menyiapkan dua jagung rebus dan segenggam nasi untuk mereka makan bersama-sama. Tolu ikut melihat benda using itu di belakang, dia mengelus punggung Ani dan berjalan menggiring masuk.
“Tolu, aku lebih suka keadaan di masa lalu. Keluarga yang lengkap walau hidup susah dan kelaparan. Hiks ” Ani menangis pilu.
“kakak, kau harus kuat. Bukan kah kau kini harus menjaga ku?” Tolu menggenggam tangannya lalu mengalirkan energi ghaib tubuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
🦊⃫⃟⃤Haryani_hiatGC𝕸y💞🎯™
semoga Ibunda diampuni dosa-dosanya dan ditempatkan di tempat terindah, Aamiin
2022-09-11
1
Elisabeth Ratna Susanti
aku mewek plus merinding nih
2022-08-07
1
👑Ria_rr🍁
kenapa Bu Mariti yg harus meninggoy kasihan eh🤧
2022-07-09
1