Sinar jingga berkilau di bawa oleh bayangan pengabar malam, dingin mulai menyelimuti perkampungan yang mulai menampakkan wujud kemistikannya itu. Semenjak kehadiran Tolu dengan sosok yang berbeda, beberapa diantara warga kampung sering melakukan aktivitas mistis saat menemuinya.
Sepulang dari rumah Tolu, sepanjang malam Togar sangat gelisah di dalam tidurnya. Dia merasa seperti di datangi oleh sosok makhluk halus yang sedang mengancam nyawanya. Di dalam alam bawah sadar, leher Togar di cekik oleh sosok makhluk hitam tanpa bola mata dan rahang yang terbuka.
“Arghhh!” jeritnya terbangun.
Karena rasa kantuknya yang begitu besar Togar memutuskan untuk tidur kembali sambil mengucapkan do’a dan surah pendek di dalam hatinya. Tapi, sambungan mimpinya tadi berlanjut dengan penampakan sosok hitam yang kini berdiri semakin panjang di depannya. Tubuh Togar terasa seperti tertindih, sangat berat dan dia juga mengalami sesak juga rasa sakit pada bagian jantung. Hampir saja detak jantungnya berhenti jika tidak segera sadar saat mendengar suara ketukan pintu kamar.
Tok, tok.
“Togar! Kenapa kau berisik sekali?” panggil Bram dari balik pintu.
“A_a_ayah” suara Togar terbata-bata. Dia masih setengah sadar dan berjuang melawan untuk bisa membangunkan dirinya sendiri seutuhnya.
“Togar!” bentak Bram.
Akhirnya Togar bisa menghentakkan tubuh dan langsung bangkit membukakan pintu. Urat mata memerah tanda rasa kantuk masih terlihat disana. Bram menyipitkan mata lalu meninggalkannya setelah melihat Togar membukakan pintu untuknya. Ingin rasanya Bram memarahi atau memukul anak yang semakin membuat dia khawatir itu. Bram menahan amarah dengan mengingat lagi kebahagiaan Togar yang harus di terima atas semua pilihan yang dia inginkan.
Sebelum ke rumah Tolu dan setelah menyetujui hubungan anaknya dengannya. Bram pergi ke salah satu dukun yang berada di tengah persawahan melewati perbatasan kampung. Bram meminta pertolongan kepada dukun tersebut agar menjaga Togar dan memberikan jimat sebagai pelindung dari makhluk yang berada di dalam tubuh Tolu.
Minggu lalu
“Jadi benar pak, wanita itu memiliki ilmu?” tanya Bram lalu menghentakkan tangannya.
Taburan kemenyan putih, pria yang memakai topi blangkon itu memberikan sirih yang sudah di isi dengan pinang, kapur sirih dan Sembilan lembar sirih yang di lipat di dalamnya.
“Ya, bahkan ilmunya lebih tinggi dari ku. Sekarang kau harus nginang sirih ini dan sebut nama anak mu” ucap dukun itu mengasapinya.
Dukun bertopi blankon memberikan sesajian untuk mahluk yang berada di dalam diri Tolu agar mengenal Togar lewat nginang yang di berikan oleh pak Bram ayah kandungnya. Pak Bram mulai mengunyah sirih itu secara perlahan. Dia mengerutkan dahi dan mengangkat pundaknya sangat tinggi. Rasa getir dan pahit bercampur jadi satu di lidahnya.
“Habiskan jika kau ingin anak mu selamat!” ucap sang dukun lalu menyiapkan nginang kedua.
Pak Bram tersedak, dia menepuk dadanya lalu menstabilkan tenggorokan agar menelan semua sirih tanpa terbuang sedikitpun. Di sirih yang ketiga sebanyak Sembilan lembar dan telah di isi berbagai bahan itu di perintahkan untuk di makan oleh Togar. Tapi sepertinya sampai datang dan pulang ke rumah Tolu tampak Bram melupakan sirih yang harus di makan oleh Togar.
...----------------...
Note :
~Nginang (Nyusur) Mengunyah daun sirih beserta perlengkapannya yaitu kapur dan buah pinang.
~Nginang (Syarat makna filosofi)
Sirih adalah tanda sifat rendah hati, suka memberi atau memuliakan orang lain.
Pinang bermakna perilaku baik.
Kapur simbol ketabahan hati
~Sirih beserta bahan di dalamnya adalah salah satu kesukaan makhluk yang paling ganas yang bersemayam di tubuh Tolu sebagai ilmu dan penjaganya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
Sakura_Merah
duh serem banget
2022-11-06
0
Elisabeth Ratna Susanti
hadir 😍
2022-08-11
0
Erni Sari
khodamnya melindungi nya.
dan ilmu nya lebih tinggi dari dukun itu.
menarik banget.
keren thor ceritanya🥰🥰
2022-07-27
0