“jadi begini kau sekarang memperlakukan ku seperti orang bodoh?” ucap Ani menekan kata amarah melihat Tolu pergi menutup pintu tanpa menjawab perkataannya.
Ani meraih buku catatan yang berada di dalam laci, dia menulis beberapa catatan tentang hal-hal yang di perlukan dalam menyiapkan pesta pernikahan Tolu. Kini dia enggan berdebat atau mempertanyakan lantai atas yang masih menjadi misteri di pikirannya. Pandanganmenoleh ke arah jendela, memperhatikan bagian samping halaman sangat indah di tanami dengan bunga-bunga warna-warni menyejukkan mata.
“Aku sadar akan amarah ku yang semakin dalam pada adikku. Tapi meski begitu aku hanya berharap Tolu tetap bersama ku sekalipun sudah di persunting oleh Togar. Bagaimana bisa aku menikmati pemandangan alam tanpa adik ku?” gumamnya.
Tok, tok (Suara ketukan pintu)
“Permisi, saya mencari dukun Tolu” ucap wanita muda yang di dampingi oleh seorang pria berumur di sampingnya.
“Dukun Tolu? Oh maksudnya non Tolu? Silahkan masuk” mbok Heni membukakan pintu untuk mereka.
“Dukun Tolu?” batin mbok Heni mengerutkan dahi berjalan mencarinya.
“Non, ada tamu non” panggil mbok Heni dari bawah tangga.
Tolu membuka mata, dia menuruni anak tangga dengan gaun putih panjang dan kerudung yang masih melekat di kepalanya. Wajah pucat, dia masih melaksanakan puasa mutih dan berzikir di dalam hati. Sorot mata memperlihatkan amarah kepada kedua tamunya yang datang.
“Bu, maaf kami lancang hadir di saat yang tidak seharusnya” ucap mereka ketakutan.
Mereka memberikan sebuah kertas dengan penuh rasa takut.
...MATI...
Hal itu seolah serangan dukun yang tidak senang dengan ilmu yang di lakukan oleh Tolu.
Malam jumat lalu
Sepasang suami istri mengalami penyakit busuk pada bagian kaki mereka. Setelah berkonsultasi dan meminta obat kepada Tolu, penyakit mereka dalam hitungan hari langsung sembuh. Mereka terkena guna-guna dari salah satu rekan kerja di perusahaan tempat mereka bekerja. Tolu juga memberikan beberapa jimat untuk mereka kenakan agar tidak dengan mudah terkena hembusan sihir dari dukun santet yang mengirimi.
Tidak dengan semua jalan mulus atau berpikir semua akan kembali seperti semula, serangan balik yang di lancarkan oleh dukun si pengirim membuat kaki mereka perlahan kembali membusuk dan mendapat teror lemparan batu yang di bungkus kertas tertulis kata mati.
Tolu memejamkan mata, dia memberikan jeruk purut kecil di tangan mereka masing-masing. Dia menggerakkan bahasa isyarat dengan tangan mengarah keluar lalu membalikkan tubuh berjalan meninggalkan mereka. Cepat sekali jalannya menaiki tangga, tamu yang hadir itu pun langsung menurut untuk keluar dari rumahnya. Mbok Heni heran memperhatikan tingkah mereka, di tangannya sudah ada wadah berisi dua cangkir teh panas.
“Siapa mbok?” tanya Ani memperhatikan punggung mereka memasuki kendaraan.
“Tidak tau non, tadi katanya cari dukun Tolu” mbok Heni.
Suara bantingan pintu mobil dari luar, terdengar saat Ani belum sempat menapak ke satu anak tangga. Togar bersama sang ayah yang bermuka masam berjalan memasuki rumah. Wajah Togar berseri, pakaian rapi dengan model gaya rambut yang terlihat mengkilau. Dia memberikan sebuah keranjang coklat yang berisi tumpukan uang kepada Ani. Tanpa di persilahkan masuk, dia langsung melepas sepatu dan duduk di kursi dengan pandangan ke segala arah.
“Tidak sopan sekali kau!” bisik pak Bram.
“Ayah, kau sudah memutuskan untuk merestui hubungan kami bukan. Bersikap baiklah sedikit” bisik Togar.
“Aku terpaksa!”
“Silahkan duduk tuan” ucap Ani kebingungan sekaligus tidak menyangka pak Bram mau datang ke rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
Sakura_Merah
bener gigih perjuangan togar demi bisa menikah dengan tolu
2022-11-06
1
Elisabeth Ratna Susanti
top banget 👍
2022-08-10
1
Erni Sari
Kak aku hadir
2022-07-27
1