Raja siluman dan jin

Perkampungan itu tampak sepi, hanya terdengar suara ayam jantan berkokok dan semilir angin yang sepoi-sepoi. Bu Mariti memperhatikan gelagat ketika anaknya, hanya Tolu yang Nampak sangat bermuka masam. Dia berpindah posisi duduk menghadap membelakangi mereka, tangannya terlihat sibuk memegang ranting pohon.

“Adik, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Mardan berdiri mendekatinya.

“Jangan ganggu aku!” ketus Tolu melengos pergi.

Tingkah aneh Tolu yang semakin hari semakin mencurigakan. Tidak ada yang mengetahui bahwa dia diam-diam pergi ke kaki gunung untuk mempelajari ilmu dari seorang pria tua yang memilik janggut putih sampai melewati lehernya.

“Butet, kau masih terlalu muda untuk mendapatkan ilmu ini. Kembali lah ketika usia mu menginjak umur tujuh belas tahun. Tapi ingat jika kau memilih jalan ini maka engkau akan kesepian dan menjalani hidup seperti tidak menghirup udara” ucap sosok pria tua sambil mengusap janggutnya.

Sembilan tahun kemudian

Hari demi hari di lalui dengan kepayahan oleh keluarga itu. Kemiskinan dan kesulitan menghimpit beban kehidupan. Terkadang mereka tidak menelan sekepal nasi pun dalam beberapa hari, hanya air putih sebagai penyambung rasa dahaga dan perut yang kosong. Di usia Tolu yang menginjak enam belas tahun, muncullah sosok pria yang bernama Togar dari pulau seberang yang melakukan nomaden bersama ayahnya. Tolu bertemu dengan anak laki-laki itu ketika dia sedang menimba air di sumur.

“Sini biar aku bantu”ucap Togar.

Dia memperhatikan lekukan garis wajah cantik dan ketegasan Tolu yang natural membuat dia begitu penasaran dengan gadis kampung tersebut.

“Apa yang kau tengok ha? Mau aku pukul?” ucap Tolu dengan garang.

Dia mengangkat sebuah ember besar dengan satu tangan. Matanya melotot seolah biji bola mata itu hampir terlepas.

“Sabar, aku tidak berniat buruk atau menyakiti mu. Mari kita berteman” ucap Togar bernada lembut.

Hari demi hari kedekatan mereka tampak semakin akrab. Togar yang selalu menyempatkan waktu untuk membantu Tolu mengangkat dan menimba air. Dia juga membantu mencari kayu bakar di hutan dan memancing ikan segar di sungai.

“Togar!” panggil Tolu.

Togar tidak memperdulikan status Tolu. Meskipun orang tuanya sudah memperingatkannya untuk tidak mendekati gadis tersebut. Dia tetap tidak memperdulikan dan dengan setia menjalani hari membantunya masuk ke dalam hutan.

...----------------...

“Togar! Kau mau pergi menemui gadis itu? Ayah akan menjodohkan mu dengan wanita yang lebih baik. Keluarganya sangat miskin. Apakah kau tidak lihat, atap rumah gubuk itu kan terbang jika ada angin kencang yang meniupnya” ucap pak Bram.

“Tidak ayah, aku berniat akan melamarnya” jawab Togar bersemangat.

“Kau adalah anak saudagar kaya di kampung ini. Aku tidak akan merestuinya!” bentak pak Bram lalu memukul meja.

Togar enggan memperdulikan perkataan ayahnya. Dia berlari mencari Tolu menuju rumahnya.

“Tolu! Tolu!” panggilnya di depan pintu.

“Mau apa kau kesini?” tanya Mardan sambil bertolak pinggang.

“Abang, dimana Tolu?” ucap Togar melingak-linguk melihat ke dalam rumah.

“Jangan kau ganggu adikku, pergilah!” bentak Mardan sangat garang.

“Ada apa ini, kenapa ribut sekali” kata ibu Mariti. Wajahnya terlihat kelelahan, dia membawa cangkul di pundak. Setelah melihat Togar, wanita itu langsung menurunkan cangkul dan membuka topi capitnya.

“Assalamualaikum, maaf saya menggangu. Ijinkan saya bertemu dengan Tolu” ucap Togar dengan sopan.

“Walaikumsalam, nak Togar ayo masuk.”

Martini mempersilahkannya duduk di tikar yang sudah dia sediakan. Setelah dia menyimpan peralatannya dan mengantarkan segelas air, sambil mengerutkan dahi dia berpikir ulang mengapa anak saudagar terkaya di kampungnya mau menginjakkan kaki di rumah gubuknya hanya untuk mencari Tolu anak gadisnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Mariti.

“Nak Togar, Tolu masih berada di dalam hutan. Kemungkinan sebentar lagi dia akan kembali” ucap Mariti.

“Hari mulai petang, ijinkan aku untuk menjemputnya bu” ucap Togar gelisah.

Tanpa menunggu persetujuan dari Mariti, dia berlari meninggalkan kendaraannya menuju hutan.

“Ceroboh sekali. Bagaimana jika ada hewan liar atau engkau tersesat di hutan?” ucap Togar berhenti berlari. Nafasnya terengah-engah sedangkan Tolu Nampak terbiasa saja menatapnya di tengah hutan.

“Aku tidak apa-apa” jawab Tolu.

Togar menarik tangannya, wanita yang semula bersikap dingin dan kejam itu perlahan berubah menjadi sangat penurut setelah Togar berhasil menaklukkan hatinya. Sesampainya di depan rumah Tolu, dari dalam rumah, Mardan dan Ani mengintip dari balik pintu. Mereka menyaksikan Togar sedang menggenggam tangan Tolu sambil mengatakan sesuatu.

“Geser sedikit, aku tidak bisa mendengarnya!” ucap Ani.

“Sstthh, jangan berisik. Abang masih memantau mereka” ucap Mardan.

“Hei, hei kalian melihat apa?” tanya bu Mariti.

Setelah mendengar perkataan Togar, semalaman Tolu gelisah tidak bisa tidur. Di atas tempat tidur yang berukuran kecil itu, Ani dan Tolu hanya cukup untuk merebahkan tubuh.

“Uhuk, uhuk” suara batuk pak Don sangat keras terdengar.

“Tolu ayo kita lihat bapak” ajak Ani.

Di dalam kamar sudah ada ibu dan Mardan yang menangis, tampaknya sakit keras yang di alami oleh pak Don terulang kedua kalinya. Hal yang berbeda kini terlihat jelas melihat pak Don berkali-kali mengeluarkan batuk darah. Mariti yang panik meminta mereka mengambilkan segelas air hangat dan selimut yang lebih tebal.

“Bapak, bapak yang kuat pak” ucap Mariti sambil menangis.

“Aku akan berusaha sekuat mungkin. Entah mengapa perasaan ku tidak menentu dengan anak gadis terakhir kita. Aku tidak ingin terjadi hal buruk padanya. Kita tidak boleh memberi restu Togar kepada Tolu, pak Bram pasti tidak menyetujui kedekatan mereka. Kalian semua harus menyayangi ibu kalian” pesan pak Don.

"Bapak jangan memikirkan hal itu, yang penting bapak harus sembuh. Hiks, hiks" lirih suara Mariti sambil menangis.

Tolu tidak kuat menyaksikan detik-detik terakhir bapaknya. Dia menangis menuju hutan tanpa memperdulikan kehadiran Togar datang.

“Tolu tunggu, mau kemana?” tanya Togar.

Lari Tolu begitu kencang, di hari yang mendung itu terdengar suara tangisan yang sangat kuat dari dalam rumahnya. Togar bimbang untuk memutuskan mengejar Tolu atau melihat keadaan di dalam rumahnya. Tapi, didalam pikirannya kini adalah meyakinkan hati orang tua Tolu terlebih dahulu agar bisa menerimanya dengan baik.

“Tolu, tunggulah. Setelah bertemu dengan keluarga mu, aku akan segera menyusul mu seperti biasa ke dalam hutan” gumam Togar.

Tapi, tampaknya penjemputan Togar kali itu akan sangat berbeda. Tolu memutuskan untuk menuju kaki gunung hendak menemui sosok pria tua. Hari ini tepat usianya yang ke tujuh belas tahun, dia ingin menagih janji kepada penghuni yang akan mengabulkan permintaannya.

“Hahah, kau sepertinya sudah berputus asa!” gema suara mengerikan di sekitar wilayah kaki gunung.

Bebatuan besar itu terbelah menjadi dua membentuk suatu gua raksasa yang sangat gelap. Dari dalam sana, terdengar suara mengerikan lagi yang memandu dia agar masuk ke dalam.

“Masuk, aku akan mengabulkan apapun permintaan mu” ucap suara misterius itu.

Tolu mengingat lagi tentang keluarga yang sangat miskin dan menderita, hari ini dia benar-benar membutuhkan uang untuk membawa ayahnya untuk berobat. Tanpa ragu, Tolu melangkah memasuki gua, dia mengabaikan rasa takut atau suara-suara mengerikan lain. Ketika dia berada tepat di tengah gua, tiba-tiba di bagian sudut gua terdapat nyala api yang membara. Dari api itu muncul asap putih yang menggumpal berubah menjadi sosok pria tua berjanggut putih dengan akar panjang yang menjuntai di bagian tangan kanannya.

“Aku adalah penghuni wilayah kaki gunung Candangan, raja dan penguasa seluruh siluman dan jin tanah ini. Aku akan memberikan dua permintaan, tapi dengan dua syarat pula yang harus kau patuhi seumur hidupmu” ucap pria ghaib itu.

“Ya, aku akan mematuhi persyaratan itu” jawab Tolu.

“Pertama, kau harus siap kehilangan orang yang kau sayangi dan kedua kau harus menerima kekekalan hidup sekalipun jasad mu tiada dan yang ketiga, kau harus mengorbankan darah mu sendiri jika ingin mencapai ilmu kesempurnaan. Apakah kau siap? Jika tidak kembalilah” ucap penghuni tersebut.

Tolu merasa serba salah di posisinya sekarang. Dia berpikir sejenak akan segala akibat yang akan dia tanggung setelah memilih jalan hitam ini. Jika dia tidak segera mendapatkan uang, dia pasti akan kehilangan ayah begitu pula kondisi ibunya yang setiap hari semakin melemah. Para saudara kandungnya juga tampak tidak tegak saat berdiri lagi, tubuh mereka bergetar akibat menahan rasa lapar yang di derita selama berhari-hari.

Terpopuler

Comments

@icha chanel

@icha chanel

transformasi karakter Tolu dari seorang yang murung menjadi seseorang yang berani mengambil keputusan drastis demi keluarganya, menciptakan empati dan ketegangan.

2024-06-30

0

Risa

Risa

Hubungan antara Tolu dan Togar mendapatkan banyak perhatian, terutama bagaimana Togar yang tulus ingin membantu Tolu meski keluarganya menentang.

2024-06-30

0

micika

micika

buset cerita keren banget

pesan moral yang mereka tangkap dari cerita, seperti pengorbanan, cinta keluarga, dan konsekuensi dari pilihan yang diambil dalam keadaan terdesak.

2024-06-30

0

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan ghaib
2 Raja siluman dan jin
3 Jalan hitam
4 Siasat
5 Sementara tersembunyi
6 Hal mistis
7 Terjal
8 Pulang
9 Kehendak nyata
10 Gangguan kembali
11 Jungkat ghaib
12 Hati yang dingin
13 Keinginan Togar
14 Ruam mistis
15 Mula asa
16 Bagak Tolu
17 Nginang
18 Kesaksian
19 Rapuh
20 Menuju hal mistis
21 Rasuk
22 Mantra
23 Perang ghaib
24 Tumpah
25 Yang terdalam
26 Raut sosok lain
27 Mangsa
28 Janggal
29 Tentang wujud lain Tolu
30 Mencari Inang
31 Pengobatan ghaib
32 Minum darah ayam hitam
33 Mengunci Kuntilanak
34 Tragedi sungai Mahakam
35 Pertolongan dari Tolu
36 Sisi lain
37 Dendam kuntilanak
38 Hari pernikahan Togar dan Tolu
39 Kiriman sihir
40 Hantaman dari para dukun
41 Kemelut jingga
42 Sihir merambat
43 Sengkedan misteri
44 Balada kekasih mistis
45 Di ajak nginang kakek
46 Hal-hal mistis
47 Membalikkan serangan
48 Transaksi empuni
49 Kehendak
50 Jangkar waktu
51 Sergah
52 Mantra pengusir dukun Siria
53 Duka menyelimuti
54 Halau
55 Terdeteksi panca indera mistis
56 Ilmu kejahatan
57 Membalikkan teluh
58 Teriak ghaib
59 Relungan waktu
60 Fatal
61 Mati
62 Ganjil
63 Murka
64 Melenyapkan
65 Ranjau dan Pekat
66 Rumah Tolu di bakar
67 Rampas
68 Kedatangan Tohfa
69 Jelang cahaya padam
70 Di tikam hati iblis
71 Beranjak mengelabui
72 Mengurung ghaib
73 Sesajen
74 Tentang 1 suro
75 Tercabutnya Sukma
76 Racun
77 Kafir
78 Mengabaikan bulan suro
79 Nafas di ujung tenggorokan
80 Unang mardalan
81 Rampas jiwa
82 Hentak
83 Mengancam
84 Siksa
85 Rutin menghempas
86 Setan
87 Gelanggang
88 Mantra pembangkit jin
89 Radang mistis
90 Tidak terkendali
91 Kematian Tohfa
92 Jalan lain
93 Roda ghaib
94 Ramuan halus
95 Banting
96 Pembunuhan
97 MATI
98 Serangan
99 Opung Parman penganut kuyang
100 Darah
101 Sema menitip Sera dan Zaki
102 Kelahiran anak si dukun sakti
103 Raum ghaib
104 Guncangan
105 Banting dalam dendam
106 Sulur Ghaib
107 Mengurus ari-ari Sadam
108 Gangguan
109 Luntang lantung
110 Serangan bertubi
111 Togar terkena santet
112 Bungkam berdarah
113 Seluas ranah ghaib
114 Mauliate
115 Deretan setan
116 Penyesalan Bromo
117 Tragedi
118 Pekat
119 Benturan
120 Mengincar
121 Hari Kelam
122 Tergantung
123 Sadam terkena dampak ilmu Tolu
124 Mengincar anak si dukun sakti
125 Jin merah berkuasa
126 Ganjil
127 Mengelakkan
128 Roda mistis
129 Fatal
130 Patah
131 Melamar Mira
132 Santet dari Afif
133 Leong
Episodes

Updated 133 Episodes

1
Pertemuan ghaib
2
Raja siluman dan jin
3
Jalan hitam
4
Siasat
5
Sementara tersembunyi
6
Hal mistis
7
Terjal
8
Pulang
9
Kehendak nyata
10
Gangguan kembali
11
Jungkat ghaib
12
Hati yang dingin
13
Keinginan Togar
14
Ruam mistis
15
Mula asa
16
Bagak Tolu
17
Nginang
18
Kesaksian
19
Rapuh
20
Menuju hal mistis
21
Rasuk
22
Mantra
23
Perang ghaib
24
Tumpah
25
Yang terdalam
26
Raut sosok lain
27
Mangsa
28
Janggal
29
Tentang wujud lain Tolu
30
Mencari Inang
31
Pengobatan ghaib
32
Minum darah ayam hitam
33
Mengunci Kuntilanak
34
Tragedi sungai Mahakam
35
Pertolongan dari Tolu
36
Sisi lain
37
Dendam kuntilanak
38
Hari pernikahan Togar dan Tolu
39
Kiriman sihir
40
Hantaman dari para dukun
41
Kemelut jingga
42
Sihir merambat
43
Sengkedan misteri
44
Balada kekasih mistis
45
Di ajak nginang kakek
46
Hal-hal mistis
47
Membalikkan serangan
48
Transaksi empuni
49
Kehendak
50
Jangkar waktu
51
Sergah
52
Mantra pengusir dukun Siria
53
Duka menyelimuti
54
Halau
55
Terdeteksi panca indera mistis
56
Ilmu kejahatan
57
Membalikkan teluh
58
Teriak ghaib
59
Relungan waktu
60
Fatal
61
Mati
62
Ganjil
63
Murka
64
Melenyapkan
65
Ranjau dan Pekat
66
Rumah Tolu di bakar
67
Rampas
68
Kedatangan Tohfa
69
Jelang cahaya padam
70
Di tikam hati iblis
71
Beranjak mengelabui
72
Mengurung ghaib
73
Sesajen
74
Tentang 1 suro
75
Tercabutnya Sukma
76
Racun
77
Kafir
78
Mengabaikan bulan suro
79
Nafas di ujung tenggorokan
80
Unang mardalan
81
Rampas jiwa
82
Hentak
83
Mengancam
84
Siksa
85
Rutin menghempas
86
Setan
87
Gelanggang
88
Mantra pembangkit jin
89
Radang mistis
90
Tidak terkendali
91
Kematian Tohfa
92
Jalan lain
93
Roda ghaib
94
Ramuan halus
95
Banting
96
Pembunuhan
97
MATI
98
Serangan
99
Opung Parman penganut kuyang
100
Darah
101
Sema menitip Sera dan Zaki
102
Kelahiran anak si dukun sakti
103
Raum ghaib
104
Guncangan
105
Banting dalam dendam
106
Sulur Ghaib
107
Mengurus ari-ari Sadam
108
Gangguan
109
Luntang lantung
110
Serangan bertubi
111
Togar terkena santet
112
Bungkam berdarah
113
Seluas ranah ghaib
114
Mauliate
115
Deretan setan
116
Penyesalan Bromo
117
Tragedi
118
Pekat
119
Benturan
120
Mengincar
121
Hari Kelam
122
Tergantung
123
Sadam terkena dampak ilmu Tolu
124
Mengincar anak si dukun sakti
125
Jin merah berkuasa
126
Ganjil
127
Mengelakkan
128
Roda mistis
129
Fatal
130
Patah
131
Melamar Mira
132
Santet dari Afif
133
Leong

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!