Di dalam ruangan yang sempit, Ani berlari tanpa henti sampai kakinya sangat keram. Tadi dia mengingat sudah sampai di ujung anak tangga dan menemukan pintu besi yang sangat tebal berlapis jeruji lainnya. Ani di bawa ke dimensi lain oleh salah satu penunggu Tolu yang ingin mengajak bermain. Salah satu sosok anak kecil berbadan tua dengan luka bolong yang terbuka di punggungnya.
‘Hihih, hihih” tawa cekikikan menampakkan diri dengan sorot mata menyala.
Ani berlari, mencari di dalam lorong sempit menuju ke satu lubang yang berisi lumpur dan cacing yang menggeliat. Dia tidak bisa mundur atau berbalik arah, sosok anak kecil berwajah tua itu mengikuti di belakang. Tangannya memanjang kira-kira berukuran tiga meter berusaha menggapai kakinya.
“Arghh! Tolong!” teriak Ani.
Meski cacing sudah menempel pada tangan dan kakinya, dia tetap berlari sambil menangis hingga menembus ke salah satu lorong yang berisi akar pohon yang berada di halaman belakang rumah. Tubuhnya di guyur hujan, kilatan petir yang menyambar dan suara Guntur bersahutan membuat teriakan Ani di telan oleh keramaian malam yang mencekam. Petugas keamanan yang berjaga di pos depan pun tidak mendengar suaranya.
“Pak! Buka pintunya!” teriak Ani dari luar pagar.
Dia di temukan oleh salah satu warga yang melintas di depan rumahnya. Penjaga keamanan rumah itu baru mengetahui bahwa sang majikan sejak semalaman telah berada di depan gerbang.
“Non Ani” ucapnya panik.
“Bagaimana sih, kenapa wanita ini bisa pingsan di rumahnya sendiri?” tanya salah satu tetangga.
“Saya juga tidak tau bu, terimakasih telah memberitahu non Ani berada disini” jawab penjaga Nanang.
Saat melihat pak Nanang mengangkat Ani yang tampak pingsan memasuki rumah, mbok Heni refleks menjatuhkan piring yang sedang dia pegang di tangannya.
“Non Ani!” teriaknya berlari membantu merebahkan tubuh gadis itu yang tampak pucat.
“Ada berisik apa di bawah?” gumam Tolu menghentikan persemedian.
Langkahnya semakin cepat ketika melihat kakak keadaan kakaknya. Tolu menekan bagian kening Ani sambil mengucapkan mantra di dalam hati. Matanya sedikit memerah ketika mengetahui demam yang di derita kakaknya akibat ulah salah satu makhluk yang mengikutinya.
“Mbok, cepat panggilkan dokter” ucap Tolu berjalan kembali ke arah ruang persemedian.
Dia menghajar dan menuangkan sumpah serapah kepada seluruh penghuni dan makhluk yang mengikutinya jika sekali lagi membuat kesalahan. Terutama jika menyentuh kakak yang satu-satunya dia punya di dunia.
“Para penunggu makhluk yang menempati dan mengikuti tubuh ku sebagai kekuatan ku.
Jika sehelai rambut kakak ku Ani kalian sentuh kembali maka aku akan menelan kalian dan melenyapkan selama-lamanya bersama diri ku” gumamnya lalu membaca mantra.
Dia tidak bisa membunuh atau memusnahkan para makhluk yang telah di jadikan pegangan atau peliharaannya. Hanya dengan mengorbankan dirinya pula maka Tolu bisa terlepas dari para makhluk tersebut.
Tolu membakar kemenyan dan mengucap mantra. Suara mengerang dari dalam asap yang keluar memperlihatkan suatu kesakitan yang di berikan dari Tolu kepada makhluk yang mengganggu Ani. Sosok anak kecil yang berwajah dan bertubuh tua di bakar sampai setengah bagian. Hal itu menimbulkan kebencian dan dendam sosok makhluk yang semula hanya ingin mengajak bermain Ani menjadi mengajak Ani untuk mati bersamanya. Tolu tidak menyadari hal itu, dia hanya ingin memberikan pelajaran dan mengingatkan kepada para makhluk ghaib lain untuk tidak mengganggu Ani.
...-To be continued-...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
Elisabeth Ratna Susanti
serem 🙈
2022-08-07
1
Author yang kece dong
serem 😱😱
2022-07-30
1
Erni Sari
serem ya, berasa cacing nempel di kaki ku beneran.
reflek aku langsung ngibasin kaki🤦🤭
2022-07-23
1