Stand by me

Cuaca matahari sangat terik. Seluruh orang yang datang ke sini sudah merasa sangat lelah dan ingin segera masuk ke dalam venue.

Seorang teman memberikanku sebotol minuman dan sebungkus roti. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan ku yang saat ini sangat tidak baik.

Wajah pucat, bibir kering, keringat dingin dan tubuh lemah.

Aku rasa aku demam.

Ku letakkan kepala ku bersandar di bahu temenku. Mereka bergantian menjaga ku.

Saat sudah berada di dalam venue. Aku terpisah dengan teman-teman ku. Aku berdiri di row sebelah kanan. Dan mereka ada yang berdiri di row kiri, dapan, bahkan di tribun.

Syukurlah aku bisa berdiri di depan pagar. Aku akan menatap wajah dennies sampai hatiku merasa tenang.

Dennies lah obat dimana saat aku lelah dan butuh hiburan.

🎶Aku berharap aku lebih bahagia🎶

🎶Setiap hari keinginanku sama🎶

🎶Tak ada yang bisa🎶

🎶Tak ada yang bisa mengguncangkanku🎶

Lagi-lagi air mata ku menetes. Bahkan lirik lagu yang tidak bersalah membuatku menangis.

🎶Aku tidak bisa berbuat apa-apa🎶

🎶Aku tidak bisa mengatakan sekata pun🎶

🎶Bisakah aku terus terang mengungkapkan🎶

🎶Emosi dalam diriku🎶

🎶Akhirnya aku hanya mengutuk diriku sendiri🎶

Terlalu pahit. Bahkan lagu ini mengejekku. Tidak ada yang bisa ku lakukan. Aku terlalu lemah. Dan tenggelam kedalam kesedihanku.

Ber kali-kali ku seka air mataku setiap kali dennies mendapati air mata yang sudah membasahi pipi ku.

Aku tidak sanggup lagi berada disini dan memutuskan keluar dari venue saat konser masih di tengah permainan.

Saat sedang ber jalan ke parkiran. Ku dapati seorang pria sedang berdiri di depan mobilku sambil memainkan ponsel nya.

Aku tidak ingin bertemu siapa-siapa hari ini. Hanya ingin menghibur diri ku. Tapi, gagal.

“Kenapa deluan keluar? Konser nya sudah selesai? Bagaimana dennies?” Tanyanya.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Mau mengajak mu makan malam (?) , Kau belum makan kan?”

“Sudah”

“Aku belum makan. Tolong temani aku makan”

“Kau di suruh siapa kesini? Ayah atau mama ku?”

“Papa ku. Dia menyuruh ku menghibur mu. Dia sangat khawatir sama calon menantu kesayangannya”.

“Kita sudah sepakat untuk tidak melanjutkannya. Apa lagi ini sekarang?”

“Aku tidak ingin melanjutkannya. Aku serius sama pacar ku. Aku cuman ingin menghibur mu sebagai temanku (?)”.

“Kau mau temani aku makan kan?”

“Please. Cacing di perut ku udah demo” ucapnya dengan wajah memelas sedih.

“Aku mau pulang. Pergi lah ajak pacar mu.”

“Tolong bantu aku. Kau tahu kan? Papa ku terlalu yahhhh gitu. Dia menyuruh ku menghibur mu. Terus harus buat laporan juga. Kalau aku udah sama kamu. Bukti apa coba yang Mau aku kirim ke papa? Please”

“Kau bisa mem foto ku sekarang. Terus kirim ke papa mu”

“Tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Aku juga harus pulang sama kamu. Sekarang dia lagi berada di Rumah mu”.

“List nya. Makan malam-kirim foto-pulang bareng-selesai”

“Kamu naik apa kesini?”

“Bawa mobil, aku bisa tinggalkan mobil aku disini. Kita pergi naik mobil kamu”

“Ga bisa. Mobil ku penuh. Banyak merchandise dennies di dalam”.

“Pindahin setengah nya ke mobil aku. Setelah kita sampai dirumah kamu. Aku pergi ambil balik mobil. Terus antar barang-barang kamu ke Rumah, deal (?)”

“Engga.”

“Kenapa lagi sih pril?”

“Kita pergi bawa mobil masing-masing aja, kalau kamu tidak mau. Aku bakal pulang sekarang”.

“Oke-Oke. Aku akan mengikuti caramu”.

“Tunggu aku sebentar. Siniin kunci mobil kamu”

Dia langsung merampas tas kecil ku dan berlari meninggalkanku.

Lalu kembali memberikan ku sebuah concealer.

“Ini punya pacar ku. Dia selalu meletakkan ini di bawah mata nya setiap kali matanya bengkak. Oleskan ini juga ke matamu.”

“Kau harus tampak bahagia ketika sampai dirumah nanti. Aku enggak mau papaku melihat matamu seperti ini”.

Entah kenapa air mata ku menetes lagi. Sepertinya saat ini setiap kata bisa melukai perasaan ku.

“Kau bisa melewati ini. Aku akan selalu berada di dekatmu. Dan mendukung apapun keinginanmu”

“Itulah gunanya seorang teman”

“Seorang teman akan selalu menolong temannya di saat susah. Dan tidak akan pernah meninggalkannya.”

Mungkin saat ini aku tidak bisa menghibur diriku sendiri. Aku tidak menyesal bertemu dengannya malam ini. Walaupun dia menyebalkan, dia selalu ada disaat aku tidak membutuhkan siapapun. Dan lagi-lagi dia selalu berhasil menghibur ku.

Mungkin, suatu saat aku harus menyesal karna menolak berjodoh dengannya.

Seperti biasa, di restoran yang sama. Dia mengerjaiku habis-habis an.

Dia mengundang seluruh teman ku untuk datang. Memberikan bumbu cabai, garam, merica ke dalam kuah ramyeon ku.

Memesan menu yang sama lagi setiap aku marah dengannya. Lalu dia yang menghabiskan makanan ku karna perutnya yang tidak pernah kenyang itu.

“Enggak makan lagi?” Tanya temanku.

“Dari tadi kebanyakan bengong. Ada masalah hidup apa? Coba sini cerita sama kakak”.

Dia selalu yang paling cepat menangkap ekspresi ku.

“Emmm gituu. Dia kayaknya nyesal karna udah nolak aku, iya kan??? Aaaaaaaakkk lebarrrr” ucapnya sambil menyulangkan sepotong daging yang baru dia angkat dari pemanggang.

“Enggak, pede banget sih kalau ngomong.”

“Jadi??”

“Tau ga sih kak. Aku kurang puas ngeliat muka dennies karna perut ku sakit banget.”

“Halah, dennies lagi dennies lagi. Kayak dia ingat aja sama kamu”

“Dia janji mau nikahi aku”

Seluruh temanku tertawa bahkan sammy juga sama gelak nya dengan yang lain.

“Pril. Aku janji akan membahagiakan mu kalau Kau Mau jadi istri ku” ucapnya sambil tertawa.

“Terkadang. Laki-laki tidak bisa di percaya omongannya. Kau percaya ga sama janji ku barusan?, enggak kan? Maka dari itu, jangan percaya omongan siapapun”.

“Sudah lah. Aku ga mood. Aku pulang aja”

Sammy menahan tanganku.

“Minum dulu. Selesai makan harus Minum dulu. Biar makanannya gampang di cerna”

“Guys, aku pulang deluan. Bye. Jangan malam kali kalian pulang”

“Mana hp kamu?”

“Buat apa?”

“Tukeran. Biar ga lari”

“Emangnya aku anak kecil?”

“Iya. Kadang suka nyusahi. Hati-hati nyetirnya. Kalau kamu lari. Aku tetap bakal bisa ngejar kamu. Jadi jangan macam-macam. Kamu jalan deluan. Aku ngikuti dari belakang”.

Apa dia sebenarnya? Apa dia sudah tahu rencana ku?

Drrrrrrrttttt

“Angkat. Jangan di matikan” instruksinya.

Apa Yang harus kulakukan? Sammy benar-benar membuntuti ku di belakang.

Bahkan di saat aku melambat dia juga melambat. Di saat aku mendahului kendaraan lain, dia juga masih di belakang ku.

“Apa pacar ku ada nge chat?” Tanyanya dari seberang sana.

“Enggak”

“Se suka apa sih kamu sama dennies?”

“Skip”

“Kamu itu udah tua. Cari pacar beneran dong. Mungkin juga dennies nya udah punya pacar”.

“Skip”

“Aku punya teman, anaknya baik. Ganteng. Ramah. Humoris banget. Mau aku kenalin gak?”

“Gak”

“Ada yang mau kamu tanya ga dari aku?”

“Gak”

“Oke”

“Kamu gapapa kan?”

“Emmm”

Setelah pertanyaan itu, Sammy tidak berbicara lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 23.20 PM.

Dia masih berada di belakang ku. Aku benar-benar tidak ingin pulang kerumah. Aku benci ayah. Bahkan mamaku.

Aku benci ayahku Yang selalu menyakiti perasaan kami. Aku benci mamaku yang memiliki hati bak malaikat. Seburuk apapun perlakuan ayahku. Dia tetap akan memaafkannya.

Di depan 10 KM dari sini, aku akan menambahkan kecepatanku dan berbelok ke kiri agar bisa terlepas dari Sammy.

“Sammy, Mau balapan?”

“Enggak”

“Kau takut kalah?”

“Aku ga mau membahayakan kamu. Ini udah malam”

“Sammy, kita lagi di jalan tol. Ter lebih lagi, jalan lagi sunyi”

“Oke, kalau gitu kejar aku Sam”

60 km , 65 km , 70 km , 75 km.

“Pril, Please stop”.

80 km , 85 km , 90 km , 100 km.

“Sammy takut yah? Hahahaha. Katanya bisa ngejar?”

Ini Mungkin akan sedikit berbahaya. Tolong jangan di tiru.

Aku semakin menambah kecepatanku. Diikuti Sammy yang mulai mengejar ku dari belakang.

Saat persimpangan sudah mendekat. Dan Sammy sudah melampaui batas kecepatanku. Di saat itu aku harus mengurangi kecepatanku dan berbelok ke kiri.

100 km , 110 km , 112 km.

Sammy mengikuti ku. Aku tidak boleh menginjak rem ku. Saat dia belum melewati ku.

“Sammy. Kau tidak keren”

“Aku hanya mengalah kepadamu”

“Oh ya? Hahaha.”

“Aku akan menunjukkannya padamu”

“Coba saja. Dari tadi juga Kau hanya menghirup asap knalpot ku”

“Oke kita mulai”

Aku mulai menyiapkan kaki ku untuk menginjak pedal rem.

Sammy berhasil kemakan tipuan ku. Saat mobilnya sudah melewatiku, aku langsung berbelok ke kiri dan menutup panggilan itu. Lalu mematikan ponsel miliknya.

Maafkan aku sammy. Terimakasih sudah menghiburku malam ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!