The Day

Hari ini hari terakhir aku melihat wajah ayah. Tepat pukul 9 pagi aku dan sammy berangkat menuju ke polrestabes. Mama menyuruh ku membawa barang-barang keperluan ayah dan membelikan sebungkus nasi untuk dia sarapan.

Setelah sampai disana. Lagi-lagi kami menunggu. Mama ter lebih dulu sampai kesini. Dia sedang bebicara dengan seorang wanita yang paling ku benci kehadirannya disini.

Tapi, karena aku membutuhkan uang nya. Aku harus bersikap baik dengannya. Dengan terpaksa aku menyalam tangannya tanda menghormatinya di depan. Sammy sedari tadi melihat kehadiran wanita itu dia tidak banyak bicara.

Seorang pengacara datang untuk mendampingi ayah. Mau tidak mau, tepat pukul 12.00 p.m ayah harus terbang ke luar kota dan melakukan penahanan disana.

Setelah lama menunggu dari kemarin. Akhirnya pintu besi itu terbuka dan ayah keluar dari sana dengan memakai kaus putih, celana panjang dan sepasang sendal. Tampilan nya sangat sederhana. Berbeda dengan dia yang sebelumnya dengan tampilan glamour setiap kali akan keluar Rumah.

Aku tidak tega melihat dia berpenampilan seperti itu. Hati ku lagi-lagi terluka.

Saat ini ayah sedang menyiapkan dokumen-dokumen penting yang harus di persiapkan saat sidang. Kami masih belum boleh mendekat ke arahnya. Dia berbicara seperti biasa, tersenyum seperti tidak memiliki beban. Padahal aku tahu apa yang sebenarnya hatinya rasakan karena aku juga merasakan sebaliknya. Hanya aku yang tahu apa yang ayah pendam di dalam hatinya.

Seorang pengawal menyuruh kami mendekat.

“Bapak akan kami bawa bu, dik . Doakan semoga bapak sehat-sehat disana.”

Tahannn.. tahannn.. jangan nangissss... tahan prill...

“Semoga sidang nya lancar dan cepat balik ke rumah.”

Rasanya hatiku terluka lebih dalam lagi.

“Mau ga mau, kita harus ikutin prosedur. Biar urusan nya cepat selesai. Ibu dan adik harus kasih pandangan positif buat bapak agar lebih semangat lagi.”

“Kita akan berangkat sekarang.”

Aku belum puas menatap ayah. Tolong jangan pergi dulu.

“Bapak, izin pamit dulu ke ibu sama si adik.”

Mama langsung mendekat ke ayah lalu memeluknya. Air mata ku sudah tidak bisa lagi ku kontrol. Sesakkkk. Sakit sekali. Aku tidak Mau memeluk ayah. Aku sedikit menghidarinya. Tapi reaksi tubuh ku berkata sebaliknya. Seperti ada magnet yang menarik ku mendekat dan langsung memeluk ayah.

Tangis ku tumpah. Bahkan aku tidak bisa mengucapkan kalimat apapun selain kata ayah. Hanya kata itu yang bisa ku ucapkan sambil sesegukan.

Bibirku tidak bisa menyampaikan pesan yang ingin ku ucapkan. Lagi-lagi sesak itu menguasai semuanya.

Ayah cuman bisa menepuk nepuk punggung ku sambil mengatakan.

“Sudah jangan nangis. Doain ayah sehat-sehat disana.”

“Sammy. Tolong jaga april. Maaf, maafin ayah karena selama ini sudah merepotkan kamu. Maaf juga ayah tidak bisa hadir di acara pertunangan kalian. Semoga acara nya lancar dan tidak ada halangan apapun.”

“April. Jaga mama yaaa”.

Aku benci salam perpisahan.

Setelah hari itu, aku memaksakan diriku agar terlihat baik-baik saja. Aku harus senyum di hadapan banyak orang di saat hari pertunangan ku dengan sammy.

Tidak ada ayah.

Tidak apa.

Ada sammy yang akan menjaga ku. Biarpun aku masih tidak tahu siapa yang ada di dalam hatinya.

“Gila capek banget ya ampun. Masih tunangan aja udah se capek ini.” Keluh sammy.

“Eh tapi banyak banget yang kasih hadiah pril. Yuk buka.” Ajaknya.

“Entaran dirumah. Malu, masih banyak orang.” Jelasku.

Sammy sangat antusias dengan kotak-kotak indah itu. Dia memilih kotak tercantik yang ada disana lalu mengguncang-guncang nya.

“Ringan banget ini. Kotak nya aja yang gede”. Ucapnya.

“Ohh jadi ini calon kamu. Cantik sihh. Tapi tidak beratitude. Udah ngasih apa aja kamu ke sammy? Sampai ngerusak hubungan mereka?” Seorang perempuan yang baru saja datang langsung marah-marah kepadaku. Aku hanya bisa tersenyum saat dia mengatakan kalimat yang tidak baik itu.

“Tolong di jaga omongan kamu ya. Aku yang salah bukan dia. Aku sudah minta maaf sama hani. Walaupun dia ga bisa maafin, aku ngerti kok.”

“Hubungan ku sama hani sudah selesai. Kamu tidak perlu ikut campur dalam masalah kami. Dan jangan ganggu kehidupan aku lagi.” Sammy langsung menarik tanganku menjauh dari perempuan itu.

“HANI TEMAN AKU. SUDAH PASTI AKU AKAN IKUT CAMPUR KALAU ADA ORANG YANG NYAKITIN DIA!!!”. Perempuan itu meluapkan emosi nya. Kasian, tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun.

Kalian mau tau perasaan ku gimana?

Enggak tau...

Aku enggak tau perasaan apa yang sekarang ku rasakan. Aku tidak bisa menafsirkan nya.

Marah?

Kesal?

Enggak.

Aku tidak merasakan hal itu. Bibirku tidak bisa mengutarakan apa yang otak ku pikirkan. Bahkan aku juga tidak tahu apa yang saat ini otak ku pikirkan. Ada banyak kata, banyak sekali. Tapi tidak bisa keluar. Semua nya bertumpuk didalam. Rasanya berat sekali.

“Maaf...” ucap sammy.

Aku menoleh menghadap nya. Dia melepaskan tanganku dan mengusap wajah nya dengan kedua telapak tangannya.

“Kenapa beri tahu kepada hani kalau kita tunangan?” Tanya ku.

“Aku cuman mau fokus ke kamu.” Jawabnya.

“Terus? Gimana? Apa yang di bilang hani?”.

“Hani tidak terima.”

“Terus?.”

“Dia marah. Dia tidak mau berpisah denganku.”

“Aku juga begitu.”

“Aku gak mungkin ngelepas kamu pril. Aku lebih memilih kamu.”

“Iya aku paham. Maksud ku, aku juga ga bisa ngelepas orang yang ku sayang. Seberapa besar amarah ku kepada ayah. Aku tetap sayang sama dia. Terluka saat dia terjatuh. Menderita saat melihat dia susah.”

“Samm. Aku mau nanya boleh?.”

“Apa?.”

“Ini misalnya yah. Kalau hani masih terus ngejar kamu gimana? Oke, kalau kamu jawab bakal menghindar. Tapi, suatu saat hati kamu luluh buat dekat ke dia lagi gimana?.”

“Ga mungkin pril, aku udah milih kamu. Aku janji ga akan nyakitin kamu.”

“Samm. Kamu tahu kan apa yang dilakukan ayahku? Aku sudah merasa cukup sakit karena di khianati seperti itu. Aku juga pengen hidup dengan orang yang mencintaiku. Tanpa ada permasalahan orang ketiga.”

Sammy berlutut di depanku lalu menggenggam tanganku.

“Pril. Aku janji, aku ga akan ngecewain kamu. Apa perlu kita buat janji pra nikah biar kamu yakin sama aku? Hani adalah masa lalu ku. Kamu masa depan ku. Kalau aku membuat mu kecewa, aku bersedia mati di tanganmu.”

Aku tertawa keras. Konyol sekali.

“Sammy, kalau aku membunuh mu, aku akan masuk penjara. Aku ga mau menambah beban hidup ku lagi.”

“Makanya kita buat janji pra nikah. Biar kamu percaya.”

“Oke, besok kita buat.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!