POV Sammy
Bella baru saja mengirim pesan kepadaku kalau Hani di larikan ke rumah sakit karena maag nya kumat.
Bella menyuruhku datang ke rumah sakit untuk menemui Hani dan mengakhiri hubungan kami secara baik-baik. Setelah mendengar kabar pertunanganku Hani tidak memakan apapun, dia hanya berkurung di kamarnya dan mengambil cuti.
Aku merasa bersalah karena sudah membuat Hani seperti itu. Haruskah aku bilang ini ke april? Dan meminta izinnya untuk mengunjungi Hani ke rumah sakit untuk menyelesaikan masalah ini? Tapi, saat ini april masih sepedaan diluar. Apa setelah sampai di rumah sakit aku bilang nya? Iya, gitu aja deh.
Saat sudah siapan, April pulang dari sepedaan.
“Beb....”. Ucapku.
“Tunggu-tunggu, aku mandi dulu. Bentar aja kok ga pakek dandan”. April lari ke arah kamar.
“Beb, aku mau keluar bentar. Ada urusan. Kamu udah siap sepedaan nya?”.
“Urusan apa? Jadi aku pergi sama siapa?!”.
“Emang kamu mau kemana?”.
“Keluar sama .... Ahhh udah lah. Kalau mau pergi yaudah”.
“Kamu mau kemana?”.
“Bebbbb....”.
“Yaudah, aku antar kamu dulu yaaa”.
“Bebbbb...”.
Apa aku bilang aja kalau mau jenguk Hani? Tapi belum apa-apa dia aja udah badmood gini. Gimana kalau jujur. Makin berat nanti masalah.
“Apa sih sammmm. Yaudah kalau mau pergi ya pergi aja”.
“Iya, tapi jawab dulu. Kamu mau kemana? Kalau mau keluar biar bareng aku aja”.
“Enggak. Enggak jadi aku keluar. Udah enggak mood. Aku dirumah aja”.
“Yaudah, aku pergi bentar aja ya. Dua jam aja”.
“Giliran tadi di ajak keluar ga mau. Ternyata dia udah ada janji sama orang. Nyebelin banget”. Ucap april pelan.
“Iya sorry. Soalnya dadakan”.
“Aku pergi bentar ya beb”.
Sebelum ke rumah sakit, ter lebih dulu aku jemput Bella di simpang Rumah nya, sekalian beli kue untuk Hani. Lalu lanjut ke rumah sakit.
Sesampainya disana. Hani sedang menatap kosong ke arah langit-langit plafon.
“Han...” Ucap Bella.
Baru sebulan, kondisi Hani sudah seperti ini. Tubuh nya terlihat kurus dengan wajah pucat seperti mayat hidup.
“Sammy”. Seperti mendapat kekuatan tambahan dia langsung bangun untuk duduk.
“Apa aku harus sakit seperti ini baru kamu mau jumpai aku?”.
“Sammy, aku rindu banget sama kamu”.
“Kamu kemana aja? Kenapa nggak pernah nge chat aku lagi?”.
“Kerjaan kamu lagi banyak ya? Kalau kantor itu terlalu menekan kamu, mending kamu pindah kantor aja”.
Aku melirik Bella tidak mengerti dengan sikap Hani yang seperti ini. Bella mendekat ke arah ku lalu membisikkan sesuatu.
“Dia lupa kejadian itu”. Bisik Bella sontak membuatku terkejut.
“Maaf Han, aku baru sempat datang karna baru pulang dari luar negeri”.
“Oiya, aku lupa”. Hani mencari-cari sesuatu. Dia terus melihat ku.
“Kenapa?”.
“Mana? Kamu biasanya bawakan aku oleh-oleh.”
“Emm maaf Han, aku lupa bawa karna buru-buru ke sini buat jenguk kamu.”
“Kamu enggak kasih oleh-oleh aku buat perempuan lain kan?”
“Sammy aku mimpi buruk. Kamu pergi ninggalin aku.”
“Mimpi nya terasa nyata, sakit banget sam. Kamu ninggalin aku terus tunangan sama perempuan lain”.
“Bahkan aku sampai ingat nama perempuan itu”.
“Dia perempuan yang jahat. Aku enggak suka ngelihat dia sam. Berani-berani nya dia ngehancuri hubungan kita.”
“Ssshh sssshh udah kamu ga usah pikirin dia lagi. Kamu harus fokus sama kesehatan kamu ya. Kamu harus segera pulih Han. Aku ga mau ngelihat kamu seperti ini lagi ya.”
“Tapi sammmm”.
“Udah udah. Kamu udah makan? Mau aku belikan makanan?”.
“Belum. Aku maunya kamu yang suapin”.
“Yaudah, aku keluar dulu beli makan ya”.
“Jangan lama-lama”.
“Han, aku keluar bentar ya”. Ucap Bella lalu mengikutiku keluar.
Apakah akan lebih fatal lagi kalau Hani tau secepatnya aku akan menikah sama april? Kenapa dia harus lupa kejadian itu? Bagaimana aku harus menghadapi Hani dan April?
“Bagaimana selanjutnya sam?.” Tanya Bella.
Aku menggeleng.
“Aku juga enggak tahu harus bersyukur atau marah ngelihat Hani seperti ini. Aku bersyukur karna Hani masih hidup. Tapi aku marah karena Hani nyiksa dirinya untuk cowok seperti kamu.”
“Jadi aku harus gimana? Pertunangan nya juga udah terjadi.”
“Kamu sebenarnya sayang enggak sih sama Hani? Atau kamu cuman mau main-main sama dia?”.
“Aku sayang sama Hani.”
“Ya terus kenapa kamu malah tunangan sama orang lain?! Brengsek tau enggak?!.”
“Maaf. Aku udah lama suka sama April. Jauh sebelum kenal Hani”.
Setelah omongan ku itu, Bella tidak lagi menjawab atau mengomentari hal lain. Kami sama-sama membisu.
Sampai setibanya di ruangan Hani, aku melihat April didalam dengan penuh amarah, hanya itu yang bisa ku nilai dari raut wajahnya.
Aku sudah berusaha keras mengejarnya tapi dia masih di selimuti dengan amarah yang menggebu-gebu. Hingga akhirnya dia pergi dari sini.
Aku juga enggak tahu apa yang harus ku bicarakan dengannya. Rasa bersalah dan penyesalan lagi-lagi menutupi pikiran jernihku.
Ponselku berdering, Bella menelfon memberitahu kalau saat ini Hani mendadak pingsan.
Aku cuman bisa memijit pelipisku karna tidak tahu siapa yang saat ini harus ku kejar. Tapi sepertinya, Hani yang paling membutuhkanku. Aku harus menanggung semua kesalahanku.
Sudah 3 jam lebih Hani tidak sadarkan diri. April pasti sudah memblokir kontakku, sedang kan Brian juga pasti melakukan hal yang sama dengan April.
Lagi-lagi aku benar-benar tidak berbuat apa-apa.
Kuputusakan untuk pulang kerumah dan berharap April berada disana. Tapi dia tidak ada. Aku melihat wajahku di cermin merasakan kegagalan akan diriku. Aku tidak mau itu semua terjadi, aku harus minta maaf kepada nya.
Segera ku nyalakan lagi mesin mobil dan langsung meluncur ke rumah Brian, aku yakin pasti dia disana, tapi setelah sampai disana April juga enggak ada. Aku udah coba hubungi Brian, tapi sepertinya Brian memblokir nomorku. Dengan rasa tidak enak, aku meminta tolong sang kakak untuk menelfon Brian dan menanyakan keberadaannya disana.
Hhhhhh syukurlah, Brian sedang bersama April saat ini. Aku rasa dia butuh waktu untuk bisa bicara lagi denganku.
Ponsel ku kembali berdering. Raut wajahku lantas berubah karena sang penelpon bukan dari orang yang ku tunggu.
“Hani sadar”. Hanya kalimat itu yang bisa ku dengar.
Syukurlah akhirnya Hani sadar.
“Apa yang sudah kau lakukan pada anakku?! Berani-berani nya kau mempermainkannya!”. Baru saja sampai di rumah sakit aku sudah di suguhi kalimat seperti ini.
It’s okay. Kau pantes mendapatkannya sam!!
“SAMMY!!”. Seorang pria paruh baya yang ku kenal baru saja keluar dari ruangan Hani. Yang benar saja. Bahkan Papa juga berada disini.
“Papaaa a-....” plak, papa menamparku.
“Papa tidak pernah mengajarimu untuk menyakiti hati seseorang. Kau bahkan mematahkan dua hati perempuan sekaligus”.
“Ini semua salahku. Tolong jangan pernah maafkan aku. Aku terlalu egois dan ingin memiliki kedua nya. Aku tidak bisa melepas Hani walaupun yang ada di hatiku cuman april. Ini semua salahku”.
“Bagaimana dengan nasib anakku?! Karnamu dia jadi seperti ini. Dia bahkan tidak punya semangat hidup karna kau mematahkannya!”.
“Batalkan saja pernikahanmu dengan April”. Tegas papa. “Aku akan mencari pria lain yang layak untuk nya. Kau harus menikah dengan Hani. Kau harus tanggung jawab akan dirinya”.
“APA?!.”.
“Ayah nya sudah mengkhianati cinta dari anak dan istri nya. Kali ini kau pun juga mengikuti jejaknya . Apa kau akan menjadi seperti ayahnya?”.
“Kenapa papa bicara seperti itu?”.
“Papa kira kau ber sungguh-sungguh menyukai April”.
“Aku menyukainya, aku menyayanginya, aku mencintainya. Kenapa Papa tidak yakin kepada sammy?”.
“Lalu bangaimana dengan Hani kami ?! Apa kau tidak mencintainya?. Dia sangat mencintaimu sammy. Setiap hari, setiap ada waktu luang dia selalu membicarakanmu”. Ibu Hani yang baru saja keluar sambil menuntun Hani ikut bicara.
“Apa kau tidak mencintaiku Sam?”. Tanya Hani. Papa nya langsung merangkul Hani sambil menghapus air matanya. Aku tidak sanggup lagi berada disini. Semua orang mengintimidasi ku. Hatiku sakit melihat raut wajah Hani dan kedua orangtuanya.
“Maafkan aku”. Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut ku. Hati ku patah sepatah-patahnya. Karma benar-benar cepat menyenggolku.
Aku berlutut di depan semua orang, meminta maap semua orang atas perbuatanku.
“Kau tidak mencintaiku ternyata”. Ucap Hani sambil sedikit tertawa.
“Om... Tante... Sammy minta maaf karna telah menyakiti hati kalian. Ini semua kesalahan sammy. Tolong maafkan sammy karna mematahkan hati Hani”.
Detik ini juga papa ikut berlutut di depan kedua orang tua Hani.
“Saya sebagai orang tua yang gagal mendidik anak saya juga ingin meminta maaf kepada kalian. Maafkan Sammy karena sudah berlaku bodoh di depan kalian. Pertunangan ini memang mendadak. Saya yang salah. Tidak bertanya kepada Sammy Apakah dia sudah punya pacar atau belum. Ini salah saya juga karena sudah memaksa Sammy menikahi April. Tolong maafkan saya dan Sammy. Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk memohon maaf kepada kalian. Tolong maafkan kami”.
Hani yang sudah tidak kuat lagi menahan kaki nya akhirnya roboh. Dia menangis sejadinya. Tangisan yang lebih menyakitkan dari yang pertama.
“Aku minta maaf”. Ucapku lagi sambil bersujud di kakinya”.
Tangisan Ibunya pun tak kalah lebih menyedihkan dari Hani. Papa dan ibunya hanya bisa memeluknya sambil menangis.
Hati orangtua mana yang tidak sakit hati melihat tangisan menyakitkan dari sang anak? Kau bersyukur Han masih memiliki orangtua yang sayang kepadamu. Tapi April ku hanya bisa mendapatkan kasih sayang itu dari mamanya.
30 menit kemudian perdramaan ini akhirnya sedikit mereda. Papa masih bicara dengan kedua orangtua Hani. Sedangkan aku hanya mengamatinya. Aku sudah kehabisan kata-kata.
*brakkk
Pintu kamar Hani terbuka. April muncul dari balik pintu itu. Bahkan kita ber-3 memiliki mata bengkak yang bersamaan. Sangat lucu kalau di lihat. Kehadiran April malah membuatku ingin tertawa.
“Apa lagi yang mau kalian bicarakan?!”.
Aku yakin dia pasti menangisiku sama seperti aku menangisinya saat papa ingin aku meninggalkan nya. Tapi dia malah memandangiku dengan serius. Tatapan yang mematikan. Dia pasti akan membunuhku kalau menemukan peluang.
“Aku sudah mengembalikanmu dengan dia. Enggak usah ganggu aku lagi!!!” Ucapnya sedikit berteriak. Kenapa dia seperti itu? Apakah aku melukainya cukup dalam?.
“Apa maumu?! Kenapa Kau berteriak disini!!”. Kali ini Ibu Hani yang memekik. Aku langsung bangkit dari duduk ku dan menghampiri April.
“Prilll....” Dia menatapku sedih.
“Maaffff. Aku tenggelam dalam emosiku”.
“Maaf, Tolong maafkan dia”. Papa mewakili April meminta maaf kepada orangtua Hani.
“Aku sudah kehabisan energi. Aku menyuruhmu datang kesini untuk mengembalikan ini. Nahhh, ambil”. Ucap Hani sambil menyerahkan cincin yang tadi siang april tinggal kan.
“Kenapa? Kenapa kau beri kepada ku lagi?”.
“Kau tidak mau? Ini milikmu. Sammy juga. Walaupun saat ini aku ingin sekali marah, memaki, bahkan berkelahi denganmu. Tapi tidak kulakukan karna sammy juga tidak akan memilihku. Nih Samm. Pasang kembali ke jari calon istrimu”.
Aku langsung mengambil cincin itu dari Hani dan langsung memasangkannya kembali di jari manis wanitaku.
“Waktu itu aku tidak melihat secara langsung acara pertunangan kalian. Tapi hari ini tepat di depanku. Laki-laki yang paling ku sayangi memasangkan cincin di jari manis wanita lain. Aku menangis, tapi aku ikut bahagia. Pasti waktu itu kalian lebih bahagia dari pada hari ini”. Hani tersenyum.
“Sudah cukup episode untuk hari ini. Aku ingin istirahat. Maaf, bukan maksud untuk mengusir kebahagiaan kalian. Aku harap kalian mengerti”.
Aku mengangguk. Ku genggam tangan wanitaku saat berjalan keluar dari ruangan Hani. Entah kesambet setan apa dari tadi dia hanya diam.
“Udah makan malam?”. Tanyaku.
Dia hanya menggeleng.
“Mau makan di luar apa dirumah?”.
“Rumah”.
“Oke”.
“Dimana mobilmu?”. Tanyaku.
“Sama Jun”.
“Jun?”.
“Kenapa? Marah?”. Tanyanya memancing ke emosian.
Ku tarik nafas panjang agar rasa sesak di dadaku berkurang.
“Jadi tadi pergi kesini?”.
“Di antar Jun”.
“Bukan Brian?”.
Dia menggeleng.
Di perjalanan terasa sepi. Tidak ada percakapan selain suara lagu yang berasal dari radio.
Ku raih tangan kanan april lalu menggenggamnya. Dia melirikku tidak suka. Dan terus memberi perlawanan agar tangannya bisa terlepas dari genggamanku. Bukannya ku lepas aku malah makin menyiumin punggung tangannya yang membuatnya tidak tahan untuk menyubutin perut ku dengan tangan sebelahnya.
Saat itu kita terlalu asyik bermain sampai aku tidak bisa melihat ada mobil yang tiba tiba saja mendadak mengerem. Tidak sempat ku hindari, jarak nya sangat dekat dengan kecepatan mobilku yang di atas 100 km/h. Aku banting stir ke kiri yang ternyata juga ada penghalang jalan sedang di perbaiki disana. Kita terpental sejauh 100 meter. Mobil terus terguling. Tangan sebelah kiriku tetap menahan tubuh april agar dia tidak terpental kedepan. Kaca depan sudah pecah. Banyak darah dimana-mana.
Aku masih merasakan jantung April yang berdetak kencang. Nafasnya juga tidak beratur. Aku mencoba untuk membuka mulut ku. Tapi tidak bisa mengeluarkan suaraku. April meringis kesakitan.
“To-to-long kami” ucapnya lirih. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Wajahnya di tutupi oleh rambut panjangnya.
Hingga seseorang datang mendekat ke arah kami. Seorang pria. Tolong Selamatkan April. Ucapku dalam hati.
5 menit, dia hanya menatap kami tanpa melakukan apapun. Aku berusaha agar bisa bersuara. Tapi jantung April tidak lagi kurasakan berdetak. Perlahan ku lepaskan tanganku dari tubuhnya. Kemudian mulai memberikan Sinyal agar dia cepat menolongnya. Aku sangat tidak berdaya. Aku tidak bisa mengeluarkan suaraku. Aku hanya bisa memandangnya. Wajah nya tidak terlihat jelas karena gelap.
Ku dengar langkah banyak orang mendekat ke sini. Pria ini mulai menggedor-gedor pintu april.
“INI TERSANGKUT. TOLONG SIAPAPUN YANG PUNYA LINGGIS”. Teriak nya kepada orang-orang.
“Apakah mereka Selamat?” Tanya seseorang.
“Pria ini masih hidup. Tolong cepat selamatkan dia”.
Bagaimana dengan April?
“Perempuan ini masih hidup?”.
“Tidak”. Katanya. “Aku tidak merasakan denyut nadi nya lagi”. Lanjutnya.
“CEPAT PANGGIL AMBULANCE!!”.
“A-a-p-ril”. Lirih ku.
“Mas, bertahan lah”.
“A-a-pril g-g-g hhhhh g-gi-mana?”. Tanyaku.
Dia meraih tanganku. Lalu meletakkan tanganku ke dada sebelah kiri april.
“Apakah Kau masih bisa merasakan detak jantung nya?. Bagaimana dengan nadinya?”.
Aku tidak merasakan apapun. Air mataku turun. Aku tidak mau kehilangan dia. Ya Tuhan Tolong jangan pisahkan aku dengannya. Tolong selamatkan April. Aku akan melakukan apapun agar April bisa Selamat. Tolong bantu aku kali ini. Tolong Selamat kan April. Aku tidak ingin kehilangannya. Ku mohon bawa aku saja. Jangan dia.
“Perempuan ini masih hidup! Dia baru saja membuka matanya. Coba periksa nadinya!!”. Teriak seorang pemuda.
“Dia masih hidup. Bagaimana dengan Ambulance?”.
Terimakasih. Terimakasih ya Tuhan.
“Pintu nya kebuka. Bagaimana dengan pintu sebelahnya?”.
“Masih ku coba”.
“Aku akan membawanya menggunakan mobilku. Tolong bantu aku angkat dia ke mobil”.
“T-t-to-lo-ng b-b-awa d-di-dia ke-ke rru-mah s-sa-ki-kit se-ge-ge-ra”. Perintahku. Setelah itu pandanganku menghitam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments