Se sampainya di bandara sammy langsung menemui mamaku yang sudah dari tadi menunggu.
Aku tidak mendekat, aku masih belum siap untuk menjumpainya.
Dari kejauhan ku lihat Sammy dan mama berbincang, terkadang mata ku dan mata mama bertemu. Tetapi ku alihkan lagi pandangan ku menuju tempat lain.
Boarding pass sudah berada di tanganku. Sammy terus menatapku. Aku tahu dia menatapku. Tapi aku sangat malas untuk bertanya. Ku abaikan saja dia yang saat ini juga ingin melontarkan banyak pertanyaan.
“Pril ?”
“Hmmm?”
“Kau tidak pantas melakukan hal seperti tadi”
“Kau ingin membuka sebuah pertengkaran sam?”
“Tidak”
“Diamlah. Aku sedang tidak ingin ber argumen denganmu”
“Nah” sammy menyodorkan sebuah kotak kepadaku.
“Apa ini?”
“Hadiah pernikahan dari papa ku”
Aku langsung membuka kotak itu. Ada banyak kunci Yang berada di dalamnya.
Aku mengembalikan kotak itu setelah melihat kunci yang sudah tidak asing lagi.
“Aku sudah bilang. Kita tidak akan menikah”.
“Aku tahu”.
“Terus? Kenapa Kau memberi ini kepadaku?”
“Aku ingin Kau menyimpannya.”
“Aku tidak bisa, kembali kan saja kepada papa mu”
“Aku juga sudah menolaknya. Tapi dia ingin Kau yang menyimpan ini”
“Sam?”
“Iya?”
“Kau tahu? Masalah ku juga bukan cuman ini”
“Maksudnya?”
Aku menarik nafas ku “Keuangan keluarga ku juga turun drastis. Tidak ada tabungan, simpanan, atau barang-barang yang bisa kami gadaikan lagi. Cepat atau lambat, aku yakin pasti keluarga mu Yang akan membatalkan perjodohan kita”
“Kau meragukan keluarga ku?”
“Iya. Dan aku takut banget jadi pembicaraan di keluarga besar mu”
Setelah pembicaraan itu, tidak ada per cakap an apapun lagi dengannya sampai kami tiba di negara tujuan.
Aku jadi merasa bersalah dengannya. Ingin me minta maaf tapi tidak bisa.
“Kau lapar?” Tanyanya.
Aku menggeleng.
“Maaf”. Ucapnya.
“Kenapa?”
“Aku juga tidak bisa memprediksi keluarga ku. Tapi, apapun Yang terjadi, Mau semua orang membenci mu, aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Aku berjanji, walaupun kita tidak akan menikah, tapi aku akan berusaha untuk tetap selalu disisimu”.
Aku manusia, aku punya perasaan. Dan aku sangat yakin sekali kalau Sammy akan menepati janjinya. Kalimat janji itu se akan akan memberikan ku kekuatan. Aku tersenyum, senang sekali mendengar nya.
“Mau cari baju hari ini?”
Kali ini aku mengangguk.
Sesampainya di Apartment, aku langsung memasukkan bahan pangan yang baru saja kami beli di bawah.
Sammy juga ikut membantu ku menata bahan pangan ke dalam kulkas.
“Mau makan lagi ga?” Tanya nya.
“Masih kenyang” balas ku.
Tidak berapa lama setelah keheningan. Ponsel Sammy berbunyi.
“Aku angkat telfon dulu”
“Dari siapa?”
“Biasa”
“Keluarga mu atau keluarga ku?”
“Pacarku”
Ke esokan harinya. Aku telah bersiap untuk jalan-jalan di hari pertama. Kami telah menyelesaikan sarapan pagi kami. Sammy memang paling ahli dalam membuat masakan dan semua masakan nya terasa sangat enak.
“Kemana tujuan kita hari ini?”
“Pasar seni, Chinatown, Batu Caves, atau kita ke Genting aja?”
“Besok aja ke Genting nya. Kalau sekarang udah telat banget. Entar ga puas mainnya”
“Yaudah, kalau gitu kita ke Pasar seni dulu, abis itu ke Chinatown atau ke Batu caves dulu?”
“Chinatown enggak rame kalau pagi gini. Kita ke Batu Caves dulu, baru itu ke Aquaria KLCC. Eh tapi kamu Mau ngapain ke Batu caves?”
“Mau potoan sama burung merpati”
“Oke, tujuan kita hari ini Batu Caves, Aquaria KLCC, Pasar Seni, Chinatown, baru malam nya kita ke Menara kembar sambil ngeliat pertunjukan air mancur. Cocok?”
“Oke. Cocok banget”
Baru ini ngerasain pergi sama cowok, apalagi ke luar negeri. Sebelumnya pernah nge bayangi libur an keluar negeri gini, tapi bareng temen-temen. Bukan berdua gini sama cowok.
“Pril, ini aku belikan topi, bentar lagi matahari terik nih” ucap nya sambil nyodorin topi berwarna putih.
“Makasih. Tapi kok punya ku warna putih? Tukeran. Aku mau Yang warna kuning”
“Enggak, punya ku yang warna kuning”
“Tapi aku suka warna kuning”
“Motif nya cuman warna ini yang pas di aku. Udah kamu pake itu aja”
“Isshhh”
“Nah pake” ucapnya sambil memberikan topi kuning miliknya.
“Liat ni, masa ada gambar kartun cewek nyaaaa” ucap nya sambil cemberut.
Tidak terasa hari sudah menjelang malam. Sesuai jadwal. Malam ini kami duduk sambil menyaksikan pertunjukan air mancur.
Rasanya sangat rileks. Setidaknya aku bisa melupakan sedikit masalah ku.
“Kita mau pulang kapan?” Tanyanya.
Baru saja aku merasa senang. Sammy sudah mulai mengungkit nya kembali.
“Kalau Kau tidak ingin melihat ayahmu. Kau bisa tinggal di Rumah Yang dikasih papa”.
“Kau tahu kan, aku tidak bisa berlama-lama cuti. Ada banyak tanggung jawab yang ku tinggalkan. Biarpun papa mengizinkan ku. Aku tidak bisa melimpahkan semua pekerjaan kepada karyawan lain”.
“Tapi.... Aku juga tidak bisa ninggalin kamu sendiri disini”.
“Pril, boleh sedih. Tapi jangan berlarut. Kamu masih punya mama yang care sama kamu. Apalagi aku. Keluarga ku juga lebih care sama kamu kok. Ga ada yang perlu kamu takutin”.
“Sebisa ku, aku akan selalu ada buat kamu”
“Samm... Apa menurut mu mama lebih baik bercerai?”
“Apa itu keinginanmu?”
“Iya...”
“Kau tahu, banyak orang disana yang berharap orang tua mereka tidak bercerai. Setelah orang tua mereka bercerai. Mereka akan rindu pada masa-masa makan malam bersama, nonton tv dirumah, membuat kerecokan dan saat hari hari besar.”
“90% anak akan sangat menyesalkan orang tua mereka berpisah. Kasih sayang yang hilang, tidak di perdulikan dan merasa paling terpojokkan diantara anak-anak yang masih punya orang tua”
“Tapi, mama lebih bagus bercerai dari pada di sakitin terus sama dia”
“Percayalah, apa yang dilakukan mama saat ini untuk kebahagiaanmu”
“Tapi aku tidak bahagia Sam. Aku jugaaa sakit nge lihat mama disakitin”
“Sabar lah, namanya cobaan. Kita harus berdoa agar lebih baik kedepannya. Orang jahat tidak akan pernah lolos dari apapun. Percaya sama ku”.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments