“Maaf aku baru bisa datang sekarang”.
“Tidak apa Jun, lebih bagus terlambat dari pada tidak sama sekali. Masuklah, dia di dalam. Sudah 7 hari dia tidak keluar kecuali untuk mengambil makan dan minum di dapur”.
“Apa yang terjadi? Anxiety nya?”.
“Mungkin saja”.
Jun menarik nafas nya sebelum dia menggapai gagang pintu.
Saat dia memasuki kamar Dennies, dia melihat Dennies sibuk dengan laptop nya di sudut kamar dengan lampu yang tidak menyala, bahkan tirai jendela masih tertutup rapat. Tidak ada cahaya kecuali pantulan dari layar laptopnya.
“Dennies..” Panggil Jun. Dennies menoleh, dia meletakkan laptop nya di lantai lalu segera bangkit.
“April? Siapa dia? Aku melihat mu kemarin di rumah sakit. Apa dia sepupumu? Teman? Siapa dia?”.
Jun mengerutkan alisnya. Lalu tidak beberapa lama ponsel nya berdering. Dia menghindar, tapi aku tetap mengikutinya. Terus-terusan dia mengatakan kami belum menemukannya, polisi masih terus mencari. Apa maksudnya?
“Denniesss...” Dia menatapku sambil memasukkan ponsel nya ke saku celana. “Kenapa kau bertanya tentang dia?”.
“Aku cuma ingin tahu siapa dia”.
“Jadi? Dari mana kau tahu namanya?”.
Aku menggeleng. Lalu menundukkan kepalaku.
“Dia hilang. Apa kau tahu dimana dia? Siapa yang menculiknya?”.
“Siapa? April? Dia hilang? Hilanggg? Bukan mati?”.
“Setelah selesai melakukan operasi besar, malam nya dia hilang. Tidak ada jejak”.
“Kenapa bisa?”.
“Entahlah, dia seperti lenyap begitu saja, tidak ada jejak saat kami mengecek rekaman CCTV”.
“Mobil diluar!! Apa masih ada mobil di luar?”.
Jun mengangguk. “Kau ganti mobil? Sejak kapan kau suka memakai mobil SUV?”.
“Itu bukan mobilku”.
Jun mengerutkan alisnya “lalu?”.
“Dia mengaku kalau dia abang nya april, aku merebut kunci mobilnya karna mobilku penuh darah april”.
Jun tertawa “Kau yang membawa april ke rumah sakit? April anak tunggal sama seperti ku. Tapi, siapa yang bicara seperti itu?”.
“Seorang dokter psikiater”.
“Apa untung nya dia bicara seperti itu?”.
Aku menggeleng “Temeni aku ke tempat praktik nya, semoga saja april ada disana”.
“Apa perlu aku hubungi polisi?”.
“Jangan dulu”.
Aku dan Jun langsung segera bergegas ke tempat praktik dokter louis tapi kami malah mendapatkan hal yang paling mengejutkan. Dokter itu mati, dia ditemukan mati saat sedang berada di tempat praktiknya tepat pukul 7.30 pagi. Aku melihat mobil ku masih terparkir di lahan halaman di tutupi dengan debu di seluruh kaca dan body mobil.
“Kami tidak menemukan kunci mobil di ruangan nya, kalian bisa tanyakan kepada adiknya”.
“Dia punya adik?” Tanyaku penasaran.
“Sebelum dokter meninggal, dia membawa adiknya datang kemari, dia menyuruh adiknya untuk mengawasi tempat ini. Ahh, mungkin dokter sudah tau kalau dia akan pergi, makanya dia membawa adiknya untuk menyerahkan semuanya”.
“Seperti apa ciri-cirinya?”.
“Aku tidak terlalu ingat”.
“Apa rambut nya panjang?”.
Perawat ini menggeleng “Rambutnya sebahu, Kira-kita tinggi nya kurang lebih 160 an, wajahnya aku tidak terlalu ingat”.
“Apa tidak ada CCTV di dalam?”.
“Boleh kami lihat?” Tanya Jun.
Perawat itu mengangguk. Bukan mendapat petunjuk, kami tidak menemukan apapun. Kami sudah memeriksa CCTV secara detail, tapi wanita itu tidak menunjukkan wajah nya, dia membelakangi CCTV.
“Kenapa kalian tidak kerumah nya saja?”.
“Dimana alamatnya?”. Jun berusaha mendengar setiap kalimat yang di ucapkan perawat itu. Sedangkan aku, malah ber jalan memasuki ruang yang biasa dokter louis pakai untuk memeriksa semua pasien.
Ruangan nya terasa lembab saat ku masuki, semua masih berada pada tempatnya, sama seperti waktu aku sering berkunjung untuk terapi. Yang berbeda hanya berkurangnya makhluk yang berada di ruangan ini.
“Dia tidak seorang dokter lagi. Dia memilih untuk menukar jiwa nya demi menyelamatkan adiknya”. Ucap salah satu makhluk diruangan ini.
“Jadi, dia beneran mati?”.
Makhluk itu menggeleng. “Dia hanya berubah wujud, bukan seorang dewa maupun seorang dokter. Derajatnya tidak jauh berbeda dari kami. Dia seorang pendosa yang mengkhianati tuhan nya”.
“Dewa?”. Tanya ku.
“Dahulu dia dan adiknya adalah seorang dewa yang paling di cintai. Dewa Louis memiliki seorang adik perempuan yang paling dia sayangi. Namun naas dia kehilangan adiknya karena adiknya mencintai manusia. Seorang Dewi tidak boleh jatuh cinta kepada manusia. Adiknya mati karena membantu seorang manusia yang akan di hakimi oleh Sang Agung”.
“Lalu?”.
“Selama beratus-ratus tahun, sang adik akhirnya menyelesaikan hukuman dari sang agung dan kembali lahir menjadi manusia. Setiap dia berumur 23 tahun, dia selalu mati dengan kondisi mengenaskan. Ternyata sang agung masih tetap terus menghukum nya biar pun dia terlahir kembali sebagai manusia”.
“Tapi kali ini Louis juga tidak berhasil menyelamatkan sang adik. Aku sangat kasihan kepadanya”.
“Denniesss....” Jun memanggilku dari luar. Sepertinya dia baru sadar kalau aku menghilang.
Aku buru-buru keluar dan menghampirinya.
“Sudah tau alamatnya?” Tanyaku, jun mengangguk dan kami langsung bergegas untuk mendatangi alamat yang di berikan ini.
“Aku punya feeling buruk”. Ucapku.
Jun menoleh ke arah ku. “Apa yang kita cari disana?”. Tanyanya.
“April”. Balasku.
“Kau menuduh dokter itu menculik april? Tapi kenapa? Apa alasannya?”.
Aku menggeleng “Feeling ku seperti itu, tapi Jun, Bagaimana kabar pria itu? Yang kecelakaan bareng april”.
“Dia masih koma”. Jelas Jun. “Semoga feeling mu benar, semoga kita bisa dapatin April disana”. Lanjut nya.
“Iya, semoga saja. By the way, April itu siapa kamu? Teman?”.
“Mantan. Aku punya rencana buat ngelamar dia setelah pulang dari LA, tapi salah ku memutuskan hubungan kami secara sepihak dan mendorong nya menjauh”.
“Kok kamu ga pernah cerita ke aku?”.
Jun tertawa “Dia sangat mengidolakan kamu, kalau dia tahu aku teman kamu, pasti dia lebih milih kamu dibanding aku”.
“Iyaaa, masuk akal sih”. Balasku.
“Tapi Dennn, kenapa selama seminggu kamu ngurung diri kamu di kamar lagi. Apa kambuh lagi?”.
“Enggak, aku punya banyak pikiran”.
“Apa karena April?”.
“Iya, salah satunya itu, itu pertama kalinya aku membantu korban kecelakaan. Wajah nya yang berlumuran darah terus mengganggu pikiranku”.
“Makasih udah mau bantu ngebawa dia ke rumah sakit”.
“Iya Santai aja Jun, by the way ini bukan sih simpangnya? Kata GMaps kita disuruh belok sini ni”.
“Yaudah ikutin aja. Rumah no 88, kamu liat kiri aku kanan yaaa”. Perintah Jun.
“Ehh itu bukan sihhh? Waaahhh, untuk sekelas dokter dia memiliki rumah yang mewahhh”. Ucapku.
Kami memarkirkan mobil kami di dekat rumahnya. Jun berkali-kali menekan bel itu tapi tidak ada jawaban. Untuk rumah semewah ini, dokter ini sangat payah tidak mempekerjakan seorang security.
“Enggak ada orang nya kali ya?”. Tanya jun.
“Jun, pintu nya enggak di kunci” ucapku saat berhasil membuka pagar. Aku memasuki halaman yang sangat luas ini. Jun mengikutiku di belakang.
“Coba ketuk Denn”. Perintah Jun yang langsung saat itu ku laksanakan.
“Iya sebentar!!!” Teriak seseorang dari dalam rumah. Aku dan Jun sangat tidak sabar menunggu siapa pemilik dari suara ini.
“Seperti suara April”. Ucap Jun. Kali ini Jun yang mengetuk pintu itu dengan tidak sabaran.
Suara larian kecil terdengar menghampiri pintu. Saat pintu terbuka, seorang wanita dengan ciri-ciri yang disebutkan perawat itu langsung memelukku.
“AIDENNNN!!! KAMU PULANG!!!”.
Jun tak kalah terkejut denganku. Ini April, dia disini tanpa luka sedikitpun. Bagaimana bisa?
Louis? Berarti benar dia seorang Dewa?
Aaarrrrggghhhh!!! Kepalaku sakit!!!
Sedikit demi sedikit muncul kenangan yang tidak pernah ku alami. Apa ini?
“Elyssen lepas”. Ucapku sambil memberi perlawanan.
Tunggu dulu.
Apa yang baru ku ucapkan?
Elyssen?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments