Elyssen?
Ahhhh astaga kepala ku berat sekali.
Pusing...
Kenapa Rumah ini jadi berputar...
Brakkkkk
Dennies tiba-tiba ter jatuh dan tidak sadarkan diri.
Jun Pov
Aku langsung panik ketika Dennies pingsan. Aku membopongnya masuk kedalam dan meletakkan tubuh nya di sofa.
“Tolong ambilkan air, minyak, atau apalah!” Perintahku.
“Pulanglah” ucapnya yang membuat ku jadi berpikir.
“Dia baik-baik saja. Kau bisa pulang. Aku yang akan merawatnya”. Lanjutnya lagi.
“Aku tidak bisa meninggalkannya dalam kondisi seperti ini”.
“Itu hanya efek. Aiden pasti sadar sebentar lagi. Kau pulang saja”.
“Namanya Dennies, bukan Aiden. April, jangan bercanda”.
“April? Siapa april? Namaku Elyssen. Dan nama dia Aiden. Kamu siapa?”.
Aku mengeluarkan indentitas ku dan Dennies untuk ku perlihatkan padanya.
“Malam itu Kau kecelakaan parah yang membuatmu harus dilakukan operasi besar. Tapi malam setelah operasi kau menghilang. Entah siapa yang menculikmu”.
Perempuan itu menggeleng “Aku tidak pernah kecelakaan. Minggu lalu aku baru pulang dari London, ini identitasku”. Dia menyerah kan passport nya yang baru saja dia ambil dari laci.
“Namaku Elyssen, sudah lama aku tinggal di London. Orangtua kami dulu berpisah, aku ikut sama mama dan bang Louis ikut sama papa. Aku tidak tahu kalau nama dia yang sebenarnya Dennies. Waktu di London dia menyebut namanya Aiden kepadaku”. Jelasnya lagi.
“Maaf, ternyata aku salah orang”. Aku ku.
“Iya enggak apa-apa”.
“Tapi, siapa april? Apa wajah nya beneran mirip denganku?”
Aku mengangguk lalu menunjukkan foto April yang masih ku simpan di galeri ponselku.
“Jadi april itu pacar kamu?”.
“Dulu. Sekarang dia sudah mau menikah dengan pria lain.”
“Dengan siapa?”.
“Sammy”.
“Apa dia pria yang baik?”.
Aku mengangguk, “Belakangan ini keluarga april di penuhi banyak drama. Akhir tahun ayah nya ketahuan selingkuh, di awal tahun ayahnya jadi tersangka kasus korupsi. Keluarga Sammy yang banyak membantu finansial April”.
“Ohhh begitu”.
“Tapi, apa benar kau bukan april”. Dia mengangguk.
“Kedua orangtuaku sudah lama meninggal saat aku sedang berkuliah. Hanya bang Louis yang ku punya, tapi dia juga meninggalkanku”.
“Maaf”. Sesal ku.
“Enggak apa-apa, kau mau minum apa? Aku tidak punya makanan tersedia disini. Biasa semua disiapkan oleh Louis , atau mau aku pesankan makanan luar?”.
“Enggak usah repot-repot. Setelah Dennies sadar, kami harus kembali”.
“Apa tidak bisa kalian tinggal semalam disini? Rumah ini terasa sunyi karna tidak ada Louis”.
“Maaf, kami punya pekerjaan”.
“Arrgghhh kepalaku”. Ucap dennies baru siuman. “Jun...”
“Iya kamu gapapa Den?”.
“Elyssen??”.
“Ya Aiden?”.
“Ada yang mau aku bicarakan sama Elyssen. Jun bisa tinggal kan kami berdua?”. Pinta Dennies yang langsung ku turutin.
Aku enggak tau apa yang sedang mereka bicarakan. Dennies terlihat yang paling banyak berbicara. Cukup lama sampai membuatku bosan menunggu. Ku keluarkan sehelai rambut yang berhasil ku pungut dari lantai marmer ruang tamunya. Hanya laboratorium yang bisa mengungkap siapa sebenarnya perempuan itu.
Cukup lama mereka berbicara. Hingga panggilan masuk membuat ku merasa tidak berdaya setelah mendengarnya. Ada seorang mayat wanita yang ditemukan dalam peti es rumah sakit dan mayat itu telah di konfirmasi sebagai april.
Aku melihat wanita itu dari luar, air mataku mulai terjun. Kenapa ini bisa terjadi? April sedang duduk bersama sahabatku, dia belum meninggal. Apa yang mamanya bicarakan. Kenapa dia bilang anaknya sudah tiada? April di depan ku, tepat di satu atap yang sama, dia disini, dia bersama ku.
“Junnn????”. Ucap dennies.
Tanpa sadar aku melangkah masuk dan mata itu terus melihat wanita ini.
“Junnn!!!! Ada apa? Kenapa kau menangis?”. Tanyanya.
Aku menyeka air mataku. Ku tarik nafas panjang.
“Mamanya bilang dia sudah meninggal. Tapi aku melihat sosok nya yang masih berada di hadapanku. Dia masih ada. Tolong katakan kalau sebenarnya kamu april. Tolongggg. Tidak apa kalau kamu berbohong. Aku tidak akan mempermasalahkannya. Aku hanya tidak ingin kehilangan april. Tolonggg bilang kalau kamu april, berbohong pun tidak masalah”.
“Maaf...”
Hanya kalimat itu yang dia ucapkan sambil menundukkan kepalanya.
Dennies langsung merangkulku. Menenangkan aku yang saat ini terasa rapuh. Aku merelakan dia hidup bahagia bersama seseorang yang menyanginya. Bukan untuk meninggalkan ku selamanya.
“Junnn. Maaf aku jadi membuat semuanya rumit, perlu ku temani ke rumah sakit?”.
“Aku ikut”. Sela elyssen.
“Elyssen kamu dirumah aja. Besok aku akan kesini lagi”.
“Tapi aku mau ikut. Aku ingin melihat seperti apa dirinya”.
Setelah sampai di rumah sakit, aku melihat tubuh april yang sudah kaku dengan bekas operasi di kepala lengan dan kaki. Ada satu benda yang menguatkan semuanya kalau mayat itu benar-benar april.
Segerombolan tenaga medis baru saja sampai membawa seorang pria yang baru saja mengalami kecelakaan besar. Kakiku melemah ketika tanpa sengaja mengenali wajah tersebut.
Brian yang juga berdiri di sisi ku tiba-tiba roboh ke lantai. Dua sahabat telah berpulang ke sisinya malam ini.
“Kennnzzzooooo.....” Ucap Brian gemetaran. Bahkan tangisannya untuk april belum usai, dia harus menangis untuk sahabat nya yang satu lagi. Dia pria paling terpukul malam ini karena telah ditinggalkan oleh kedua sahabat yang paling dia sayang.
“Junnn... Briannnn... Kalian tidak masuk? Ini terakhir kali nya kita melihat wajah itu”. Ucap Reyna.
Brian tidak sanggup lagi mengangkat tubuhnya. Dia seperti lumpuh.
“Kenzo belum sampai? Sudah dari tadi dia di jalan tapi belum sampai-sampai”. Lanjutnya.
Mendengar kata Kenzo, Brian semakin mengeraskan tangisnya.
“Kenzooo.... diaaa....” Bahkan dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
“Ada apa?”. Reyna semakin penasaran.
“Kenzo juga sudah pergi”. Hanya itu yang bisa ku ucapkan.
“Iya dia sudah pergi ke sini dari tadi tapi belum sampai-sampai. Coba hubungi”.
Brian mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Reyna. Panggilan tersambung, tapi Kenzo masih tidak menjawabnya. Berkali-kali Reyna me coba tapi tetap tidak ada jawaban.
“Dokter permisi, ini ponsel korban kecelakaan tadi. Ponsel nya terus berdering. Saya tidak sanggup menjelaskan apa yang terjadi sama pemiliknya”. Seorang warga biasa datang menyerahkan ponsel itu. Itu pasti milik Kenzo.
Aku langsung menghampiri mereka.
“Permisi, Apakah itu ponsel milik teman saya?”. Tanyaku kepada sang dokter.
“Teman kamu? Siapa namanya?”.
“Kenzo...” jelasku. Reyna terlihat bingung. Ku ambil ponsel Brian dari tangan Reyna dan mencoba menghubungi ponsel Kenzo kembali.
“Yang menghubungi dari tadi itu teman saya”. Lanjutku lagi.
“Berarti kalian sudah tahu tentang korban?”. Tanya sang dokter yang ku anggukin barengan dengan Brian.
Dokter itu menyiapkan kalimat yang akan menjatuhkan mental Reyna.
“Maaf, tapi beliau sudah tidak bernyawa ketika dibawa kesini. Kenzo dinyatakan meninggal di lokasi kejadian”.
Bruukkkkk
Akhirnya Reyna ambruk juga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments