Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu rumahku. Aku berteriak dan membiarkan tamu itu masuk kedalam.
Saat dia melangkah kedalam. Aku langsung melihat reaksi sammy. Mau apa lagi dia datang kerumahku.
“Tanteee...” Bukan menghampiri ku, dia berjalan ke arah mamaku. “Ada apa ini? Kenapa om dibawa?”
“Tau dari mana kamu?” Sammy mencela.
“Ada sesuatu yang Mau aku kasih ke April tadi. Tapi aku lupa. Makanya aku datang kemari. Maaf, aku bawa pulang april tengah malam begini”.
“Iya. Lain kali izin dulu ke aku. Ga bakal aku izinin juga sih” balas sammy lalu dia pergi dari ruang tamu. Aku langsung menyusul nya.
“Sammm....” panggil ku.
Dia membuka pintu mobil nya. Aku buru-buru mengejarnya.
“Kamu Mau kemana?” Dia mengabaikanku.
“Kamu udah sembuh?” Aku menangkup wajah nya dengan kedua tanganku.
“Masih anget. Tapi udah melalak keluar. Entar sakit nya makin parah pas di hari H aku yang repot”. Ucapku melas.
“Apa sih. Cuman keluar bentar doang. Ga sampai tengah malam gini baru balik”.
“Nyindir?”
“Enggak. Tapi kalau merasa ya bagus”.
“Ga merasa kok. Kamu tidur disini aja”.
“Siapa yang Mau balik jam-jam segini”.
“Ahhh. Aku cuman mau ngambil baju sama obat”.
“Yaudah yuk masuk”.
“Males. Suruh dia pulang dulu”.
“Jun??”
“Iyalah. Siapa lagi”.
“Yaudah, entar kan dia balik sendiri”.
“Kalau gitu jangan masuk dulu sebelum dia balik”.
“Enggak boleh gitu dong. Masa mama...”
“Aku udah Mau pulang kok”. Sahut jun dari arah pintu.
“Oh bagus. Kamu masuk duluan sayang. Aku masih mau masukin mobil ke garasi” instruksi sammy.
Aku mengangguk mematuhi nya. Tetapi langkah ku terhenti karna melupakan sesuatu.
“Jun. Terimakasih. Hati-hati di jalan”. Jun hanya mengangguk.
Setelah di dalam. Aku masih mengamati jun dan sammy yang masih berbincang di luar. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
“Kakk. Sammy tidur disini kan?” Aku mengangguk.
“Mama belum sempat ganti seprei di kamar kamu. Kamu rapihin dulu. Biar sammy tidur nya nyaman”.
“Iya ma..”
“Mama ke kamar deluan ya”.
Hahhhh. Kamar tercinta ku. Sudah berapa lama aku tidak tidur di kasur ku. Aku merindukan ruangan ini. Terlagi Dennies!!. Sedikit berdebu. Aku tidak boleh membiarkan bingkai foto dennies berdebu.
“Bawa aja entar pulang kerumah”. Tiba-tiba sammy mengejutkanku.
“Ngetok dulu kalau Mau masuk”.
“Oke di ulang”.
Sebelum dia masuk ke dalam kamar ku. Aku buru-buru mengunci nya.
“Aprilll. Kok di kunci”.
“Ngetok dulu kalau mau masukk”.
Tok tok tok
“Permisi, saya mau masuk”.
“Password nya salahhhh”.
“Jadi apaan dong password nya”.
“Cari tau sendiri”.
“Oke, aku lapor mama ni”
Cihhh, curang.
“Eh eh iya iya ni dibukain”
“Dari tadi dongggg. Nih, si jun nitip ini”.
“Gede banget. Apa isinya?”
“Mana aku tau. Buka aja sendiri. Boneka santet mungkin”. Takut sammy.
“Ga mungkin”.
Asli, aku penasaran banget sama isi kotak ini. Tapi aku takut untuk membuka nya.
“Kok di letakin lagi?” Tanya sammy.
“Entaran aja. Mau ganti seprei dulu”.
“Minggiran dulu. Ini mau di buka”.
“Yaudah buka aja”.
“Gabisa, seprei nya kamu dudukin”.
“Ribet banget sihhh, ini kalau kotak nya ga kamu buka buka. Aku yang bakal buka”.
“Iya, bantu dulu beresin ini”.
“Apa yang mau di bantu?”
“Masukin sarung bantal sama guling nihhh”.
“Gimana caranya?”
“Serius ga tau?”
“Enggak. Cuman tau nge buka nya doang”.
“Nih, di masukin dari sini”.
“Oohhhh”.
“Ini masukin ke guling nya gimana?”
“Di Tarik samm”.
“Di Tarik gimana? Ga bisa. Susah”.
“Udah deh, kamu ganti seprei ini aja”.
“Oke”.
5 menit kemudian, sammy sudah selesai membereskan seprei. Dia rebahan di atas kasur sambil memejamkan matanya.
“Ganti baju dulu. Jorok banget langsung tidur”. Perintahku. Sammy langsung membuka matanya. Lalu dia duduk bersandar di kepala tempat tidur. Tidak lama kemudian, dia meraih kotak itu dan membukanya.
Ada begitu banyak surat. Sebuah Diary. 2 buah dress. Cincin. Kalung. Dan beberapa album dennies yang sudah di tanda tangani.
Sammy menatapku. Dia sedang memegang surat surat itu dan akan membacanya. Aku langsung merampasnya.
“Biarpun Kau calon suami ku. Tapi aku punya privasi yang tidak bisa ku bagi dengan mu”. Jelasku. Sammy mengangguk.
“Maaf. Aku keterlaluan”.
“Aku juga minta maaf”.
“Istirahatlah. Aku juga ingin tidur”.
“Have a nice dream”. Ucap sammy.
“Too”.
“I love you”. Ucapnya lagi.
Ini pertama kali nya dia mengatakan kalimat itu. Tentu saja jantung ku sudah tidak baik-baik saja. Dentuman ini jadi semakin kencang setiap kali otak ku memutar kembali apa yang baru saja sammy Katakan.
“Heyyy, I love youuu” ulang nya.
“I hate youuu” balas ku sambil tertawa kecil.
Keesokan harinya aku menemani mama pergi ke polrestabes. Mama juga membawakan sarapan dan juga air mineral untuk ayah. Aku tidak pernah berpikir akan datang ke tempat seperti itu untuk melihat ayahku. Aku masih membencinya.
Kami hanya pergi berdua dengan mama. Sammy tidak bisa ikut karna harus mengurus dokumen di kantor. Sebenarnya banyak yang harus di urus sebelum menjelang hari pertunangan kami. Tapi ayah benar-benar paling ahli nya membuat kekacauan.
Setelah sampai disana, kami tidak bisa menemui ayah karena ayah masih dalam proses penyidikan. Aku juga kurang paham, kenapa dia bisa terkena kasus seperti ini. Mama hanya menyebutkan ini semua karena permainan politik pejabat negara.
Kami menunggu sampai setengah hari disini. Tapi tetap saja ayah belum bisa di temui. Karna sudah waktunya makan siang, aku dan mama keluar sebentar untuk makan dan juga berbincang dengan seorang pengacara yang di kenalkan dengan teman ayah.
Apapun yang di lakukan ayah, semua nya sudah pasti menyulitkan kami. Mau dia di luar atau di dalam penjara. Dia akan mengeluarkan banyak uang untuk dirinya sendiri.
Setidaknya butuh uang 10 juta untuk membuat jaminan dengan pihak kepolisian agar menetapkan ayah sebagai tahanan kota.
Aku dan mama hanya bisa saling pandang. Uang segitu dari mana kita cari dalam waktu 1 hari kalau bukan bantuan dari sammy.
Aku sudah tidak mengerti, harus seberapa banyak lagi aku memiliki hutang budi dengannya.
Sammy yang janji akan bertemu siang ini di polrestabes tidak jadi datang karena harus mengurus WO dan persiapan lain.
Setelah makan siang, kami kembali lagi ke polrestabes bersama dengan seorang pengacara. Tidak berapa lama, seorang kepala penyidik memanggil kami untuk masuk tetapi aku memilih untuk tidak masuk dan menunggu di depan pintu.
Seorang ajudan keluar dari pintu itu dan memanggil ku masuk kedalam. Usaha yang di tawarkan pengacara sia-sia. Mau tidak Mau, ayah tetap wajib mengikuti protokol yang sudah ada. Tawaran untuk menjadi tahanan kota juga tidak bisa di lakukan dan besok ayah harus di terbangkan ke kota pandan dan menjadi tahanan di kota itu.
Langit ku lagi-lagi serasa ambruk, bintang-bintang berjatuhan mengenai diriku. Bahkan 1 permasalahan belum lagi selesai malah timbul masalah baru.
Tiga hari lagi acara pertunanganku. Tapi aku harus berpisah dengannya dalam waktu kurang dari 1 hari. Aku membencinya, iya. Tapi aku enggak bisa melihat dia seperti ini.
Setelah pembicaraan selesai, kami turun ke Lantai 1 untuk menemuinya. Mereka berbohong tentang ruang penyidikan. Aku pikir ruang penyidikan disini dan di televisi itu sama. Astaga, itu benar-benar jauh berbeda. Tidak ada yang namanya ruang penyidik. Tersangka di gabung kan seruangan dengan orang lain, bukan hanya 1 tapi ada banyak.
Ruangan sempit yang bahkan matahari tidak bisa menembusnya. Kurang lebih ada 10-15 orang di dalam ruangan yang berukuran 4X4 Meter. Sempit, sesak dan panas yang dapat kurasakan walaupun aku hanya dapat melihatnya dari lubang kecil itu.
Aku hanya melihat dari jauh, aku melihat wajah ayah ku dari kotak kecil. Matanya merah seperti seorang yang sedang menahan tangis. Dia mengeluarkan tangannya dari kotak kecil itu dan berjabat tangan dengan seorang kapolres kota pandan. Dia memohon untuk bisa membantunya.
It’s gonna be alright? No. It’s gonna broke my life!.
Aku harus menjalankan hidup yang seperti apalagi tuhan? Dari dulu kau terus mengujiku. Bahkan aku belum menyelesaikannya. Kau sudah menambahkan soal yang belum tentu bisa ku jawab. Apakah bisa aku mengikuti ujian susulan? Cause I just need a rest. I’m tired. Let me take a deep rest for a moment.
I hate shit this life!!!. Please somebody help me to throw away this fucking life.
Sebenci benci nya aku dengan ayahku. Tapi aku tidak bisa melihat nya jatuh sejatuh nya seperti ini. Apalagi direndahkan dengan orang lain.
Hati ku sakit. Sakit sekali. Bahkan aku tidak bisa lagi untuk tidak menahan air mataku yang sudah dari kemarin malam ku tahan. Aku tidak perduli lagi dengan orang disekitar ku. Ku biarkan air mata ku mengalir begitu saja. Aku ingin memeluk ayah. Tolong bukakan pintunya. Biarkan dia keluar untuk sebentar saja. Aku sudah lama tidak memeluknya Bahkan menatap wajahnya.
Aku tahu dia tidak bersalah. Tapi, apakah ini hukuman yang Kau beri untuknya? Sanggup kah aku? Mama? Menghadapi hidup hanya berdua?.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments