Matahari menyeruak melalui sela-sela gorden. Mataku pun mulai merasa tidak nyaman karna sinar pantulan itu dan memutuskan untuk menyadarkan diri.
Kejadian kemarin memang tidak bisa ku tahan. Itu keluar begitu saja. Aku sedikit merasa bersalah dengan sammy.
Dari awal memang aku yang salah. Aku sudah tahu dia memiliki pacar. Kenapa aku harus mengikuti keinginannya? Apa sebegitu ingin nya aku bahagia? Sampai harus merusak hubungan mereka? Kalau begitu, apa beda nya aku dengan wanita kurang ajar itu?
Apa yang harus ku katakan dengan sammy? Apa aku yang harus ter lebih dulu mengambil tindakan agar hubungan mereka tidak hancur?
Aku juga tidak mengerti dengan apa yang diinginkan sammy. Apakah karena terpaksa menikahi ku? Apa dia merasa kasihan denganku? Apa dia benar-benar mencintaiku? Aku tidak tahu akan semua itu. Aku akan berbicara kepadanya besok. Setelah dia pulang.
Tapi.. Itu semua akan terlambat. Aku tidak ingin dia mengakhiri hubungannya. Aku harus bicara dengan nya sekarang juga.
Aku menghubungi nya. Tapi nomor nya tidak aktif. Apakah dia sudah pergi?
Karena takut terlambat mengatakan apa yang harus ku katakan dengan sammy. Aku langsung siapan menuju kantor nya. Tapi, saat membuka pintu depan. Mobil sammy masih di dalam. Dia dirumah? Kenapa?
Aku langsung mengecek sammy di kamar nya. Dia sedang tertidur dengan tubuh di bungkus selimut. Aku mendekat, mengecek keadaannya. Lalu duduk di sudut pinggir tempat tidur nya sambil menggerakkan sedikit tubuhnya.
Tubuhnya berkeringat. Aku langsung membuka selimut nya dan memeriksa dahinya dengan telapak tangan.
“Sammy, kamu demam”. Dia hanya bergumam.
Ini pertama kalinya aku mengurus Sammy yang sedang sakit. Aku memasakkan nya bubur, menyuapi nya, menjaga nya dan memijit kaki nya.
Dia benar-benar seperti orang mati yang masih bernafas.
Siang ini sebenarnya ada jadwal di penerbitan. Tapi aku tidak tega meninggalkan nya tanpa ada yang menjaga nya. Dia masih tertidur. Aku harus membatalkan pertemuan di penerbitan. Tapi, aku tidak bisa membatalkannya begitu saja. Apakah aku harus menyuruh pacar nya datang?
“Samm” panggilku.
“Aku ada janji di penerbitan siang ini. Aku tidak bisa meninggalkan mu tanpa ada yang menjaga. Haruskah ku telfon pacarmu? Biar dia bisa merawatmu”
Sammy menggeleng. “Pergilah, aku tidak apa-apa sendiri”.
“Nanti kalau demam nya makin tinggi gimana?”
“Ini sudah agak lumayan kok. Aku cuman butuh tidur lebih lama”.
“Gimana kalau aku suruh brian atau kenzo kesini?”.
“Iya, gapapa. Suruh brian aja datang. Jam berapa ke penerbitan?”
“Setengah jam lagi”
“Yaudah, pergi saja”.
“Oke. Aku tidak akan lama-lama. Aku telfon brian dulu ya”.
“Iya, hati-hati. Terimakasih sudah merawatku”.
“Samm”.
“Ku mohon, jangan beritahu pacarmu tentang pertunangan kita”.
“Kenapa?”
“Aku hanya tidak tega menyakitinya”.
“Kebohongan yang di sembunyikan akan terungkap. Aku memang menyakitinya. Dan sekarang ingin mengakhirinya”.
“Kau tidak mencintainya?”.
“Dulu”.
“Dulu, ayahku juga mencintai mama ku. Sekarang dia mencintai perempuan lain, yang baru di kenalnya”.
“Aku lebih dulu mengenal mu dari pada dia. Aku lebih dulu mencintaimu dari pada dia. Aku yang meminta papa ku untuk menjodohkan kita”.
“Aku lebih menyayangimu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku sudah memikirkan ini semalam an sampai jadi seperti ini. Pikiranku sudah bulat. Aku harus memberitahunya sekarang, dari pada dia tahu belakangan”.
“Jadi, ku mohon. Dukung aku apapun ke putus an ku. Jangan menyulitkan pikiran ku lagi. Aku mohon”.
Aku manarik nafas ku lebih dalam. Omongan Sammy tadi benar-benar mengganggu pikiran ku. Bahkan saat rapat di penerbitan aku hanya bisa melamun sampai rapat selesai.
Sebenarnya selesai rapat di penerbitan aku sudah ada janji dengan jun, tapi melihat keadaan Sammy tadi siang, aku ga bisa ninggalin dia gitu aja karna jun.
Jun benar-benar ambis banget buat dapatin hati aku lagi. Dia benar-benar menebus semua dosa nya yang dulu ke aku. Tapi entah kenapa perasaan itu ga bisa muncul lagi. Aku tidak tertarik sama sekali dengan jun.
Aku membatalkan pertemuan dengan jun dan langsung pulang kerumah. Tapi setiba nya sampai dirumah. Mobil Sammy dan brian sudah tidak ada, lampu Rumah mati total. Tidak ada siapapun dirumah.
Karena memiliki pikiran yang buruk, aku langsung menghubungi brian dan menanyakan keadaan nya. Dia bilang dia sudah pulang sejak sore karena ada pertemuan yang tidak bisa dia tinggalkan.
Brian mengatakan kalau Sammy sudah lebih baik makanya dia bisa pergi. Dia tidak tahu menahu soal Sammy yang saat ini sedang tidak dirumah. Aku langsung paham, Sammy akan tetap pada tujuan utamanya. Dia tidak akan kembali sampai besok.
Seharusnya aku tidak pulang kerumah hari ini.
Aku ber niat menemui jun di tempat yang kami janjikan kemarin. Tidak tahu apalagi yang akan jun ungkapin hari ini. Setidaknya aku tidak merasa sepi malam ini.
Sewaktu pacaran jun adalah orang yang baik. Hanya saja waktu itu dia tidak memiliki uang dan merasa kalau dia tidak pantas denganku. Sekarang aku yang berpikiran seperti itu, entah itu terhadap sammy maupun jun.
Gila ya, ternyata ke hidup an setiap orang itu tidak akan terus menerus seperti itu. Dunia memang ber putar. Kita harus bersiap menghadapi risiko yang mungkin agak sulit kita hadapin.
“Ada masalah?” Tanya jun.
Aku menggeleng. “Tidak” sambil tersenyum.
“Aku mengunjungi mama mu kemarin”.
“Kapan?”
“Aku melihat mobil mu keluar dari gang saat mobil ayah mu masuk”
“Ngapain kamu kerumah ku?”
“Sebenarnya kemarin malam aku bertemu ayahmu. Mana tau ada kesempatan, aku ingin ambil kesempatan itu buat dapatin kamu lagi. Tapi ternyata udah tidak ada”.
“Jadi, sebelum kamu memiliki status dengan sammy, hari ini aku ingin menghabiskan waktu denganmu. Inshaallah aku ikhlas lahir batin”.
“Walaupun berat, aku juga tidak bisa ber buat apalagi. Ini juga keputusanmu. Aku bisa mengerti”.
“Jun, terimakasih”.
Jun mengangguk. “Apapun akan ku lakukan buat kebahagiaanmu. Walaupun akhirnya kita tidak bisa bersama”.
“Aku sudah beli tiket ini dari kemarin. Dan ini akan jadi film midnight terakhir kita”.
Terharu, terharu banget. Dan tanpa sadar air mata ku telah terjatuh. Aku langsung buru-buru menyeka nya.
Setelah menyelesaikan film tengah malam kami. Jun dari tadi tidak banyak bicara. Aku pun juga tidak tahu mau berkata apa. Aku tahu apa yang sekarang sedang dia rasakan. Aku pun juga sedang merasakannya.
Panggilan masuk dari mama memecahkan keheningan kami. Aku langsung menjawabnya. Mama menyuruhku untuk menemaninya tidur dirumah karena ayah sedang tidak dirumah.
Tibalah saat perpisahanku dengan jun. Dia menatapku seperti ingin mengetahui apa yang di bicarakan mama di telfon.
Aku menjelaskannya dan jun hanya mengangguk.
“Aku menyetir di belakang mu. Aku mau memastikan Kau sampai dengan selamat”.
Aku mengangguk mengiyakan permintaan nya.
Sesampainya dirumah. Banyak orang-orang yang tidak biasanya jam segini masih berada di luar. Seperti ada kejadian yang tidak biasa.
Mereka menatap ku semua sambil tersenyum. Aku tidak tahu ada apa dengan mereka. Saat sudah berada di depan halaman. Mobil sammy berada dirumah. Ada apa ini?
Aku buru-buru masuk kerumah. Sammy langsung menghampiri ku.
“Kamu dari mana? Dari tadi aku telfon kenapa nggak di angkat?”
“Maaf, tadi lagi nyetir. Hp nya di tas, kamu ngapain disini?”
“Nakkk”. Panggil mama.
“Besok pagi temani mama ke polrestabes”.
“Ngapain?”
“Tadi, ayah di bawa polisi ke polrestabes”.
Rasanya dunia ku serasa berhenti. Cobaan apa lagi ini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments