The Girl

Hari ini kami tidak melakukan apapun selain scroll tiktok di ponsel masing-masing. Syukur nya tiktok yang menemani kegabutan kami selama musim pandemi ini.

Sampai tidak terasa siang menjelang sore akhirnya tiba. Video selanjutnya muncul di beranda ku.

Back sound Adele - all I ask terputar saat video berjalan dan mengingatkan ku tentang jun pada masa itu.

Masa itu aku sedang mengantar jun ke airport dan kami sedang duduk di salah satu cafe disana.

Jun menggenggam tanganku sambil menyanyikan lagu itu. Itu kenangan terakhir dan yang paling indah yang tidak akan pernah ku lupakan. Nyaris air mataku terjatuh karena tersentuh dengan apa yang Jun lakukan.

Kali ini lagu ini lagi-lagi mengingatkanku tentang sosok jun yang dulu paling aku sayangi. Setiap lagu ini terputar, Jun yang paling utama muncul di kepalaku.

“Aissshhhhh” ucapku sambil menyeka air mata.

Sammy melirik ku.

“Kenapa?” Tanya nya.

“Gapapa”. Jawab ku singkat. “Dah yuk keluar jalan. Kemana aja deh”.

“COVID beb”.

“Pake masker lah. Keliling-keliling. Naik sepeda”.

“Enggak ah. Bahaya”.

“Yaudah. Aku aja sendiri”.

“Yaudah sana”.

Tumben ni sih sammy enggak ngikut. Pasti ada apa-apanya ni pasti. Yakin deh.

“Pulang kerumah langsung mandi!!”. Teriak nya saat aku beranjak keluar dari pintu kamar.

Males jawab. Dasar nyebelin banget.

Nih ya untung banget keluar sepedaan jam segini. Enggak terlalu panas. Lumayan juga sih buat ngilangin kegabutan selain nge scroll tiktok sama nonton drakor.

Memang kalau udah sendirian sepedaan gini enak banget kalau di tambah nge halu. Coba bayangi deh, sore-sore gini sepedaan sama dennies sambil ngobrol kegiatan di tambah bercanda an, duhhhh enak banget ya nge halu.

Drrrrttttt.... Drrrtttt...

“Apa Woy?”

“Dimana?”

“Rumah lahhhh”

“Main yuk. Suntuk niiii”.

“COVID gilaaaa ni anak”.

“Alah pakai masker lah. Aku jemput ya. Aku udah sama Kenzo ni”.

“Mau main kemana? Kalau mall skip”.

“Ngafe?”.

“Skip”.

“Jadi Mau kemana anj! Yaudah deh, siapan. Kita ke Rumah Reyna atau ga ke apartment Zia”.

“Oh Yaudah. Oke”.

“Suami mu dimana? Ngikut?”.

“Iya ngikut dia”.

“Kalau suami mu ngikut, ngapain kami jemput. Udah buru kami tunggu di Rumah Reyna. Bye. See you soon”.

Baru aja nge halu sampai Paris udah ada aja yang buyarin. Dah ah, pulang dulu abis itu siapan.

Baru aja sampai rumah. Sammy udah siapan, udah rapi. Apa Brian udah nelfon sammy deluan?.

“Beb....”.

“Tunggu-tunggu, aku mandi dulu. Bentar aja kok ga pakek dandan”.

“Beb, aku mau keluar bentar. Ada urusan. Kamu udah siap sepedaan nya?”.

“Urusan apa? Jadi aku pergi sama siapa?!”.

“Emang kamu mau kemana?”.

“Keluar sama .... Ahhh udah lah. Kalau mau pergi yaudah”.

“Kamu mau kemana?”.

“Bebbbb....”.

“Yaudah, aku antar kamu dulu yaaa”.

“Bebbbb...”. Sammy ngikutin aku ke kamar sambil ngeraih tangan aku.

“Apa sih sammmm. Yaudah kalau mau pergi ya pergi aja”.

“Iya, tapi jawab dulu. Kamu mau kemana? Kalau mau keluar biar bareng aku aja”.

“Enggak. Enggak jadi aku keluar. Udah enggak mood. Aku dirumah aja”.

“Yaudah, aku pergi bentar aja ya. Dua jam aja”.

“Giliran tadi di ajak keluar ga mau. Ternyata dia udah ada janji sama orang. Nyebelin banget”. Ucapku pelan sambil menepis tangan sammy.

“Iya sorry. Soalnya dadakan”.

“Aku pergi bentar ya beb”.

Masih ga ikhlas aku. Mau kemana sih si sammy hari ini?.

“Guys. Aku otw. Nanti kalau aku ngirim location. Kalian harus kesitu secepatnya”. Tutupku.

Awas aja ya Sam kalau kamu macem-macem di belakang aku. Abis kamu. Ga akan aku kasih kesempatan lagi.

Mau kemana sih ni anak sore-sore. Siapa coba yang mau dia jumpai? Ehhh ehhh dia berenti. Ngapain coba dia ke toko roti.

“Halooo. Dimana? Udah aku shareloc ni. Ikutin aku yaaa”.

“Mau kemana sih? Aku udah PW ni di rumah Rey”.

“Udah kemari aja. Buruan. Cepat ehh ehh sammy keluar bawa cake”.

“Maksudnya?”.

“Udah dulu. Ikutin shareloc yang aku kasih”.

“Kamu lagi ga sama sammy?”.

“Enggak. Udah dulu. Nanti aku kehilangan jejak sammy”. Putus ku.

Jaga jarak. Aduh. Tuh anak tau ga ya aku ikutin. Ehhh berenti lagi. Jemput siapa dia? Cewek? Poto dulu sebagai barang bukti perkelahian.

“Woy dimana kalian?”.

“Otw. Mau kemana sih? Katanya takut COVID”.

“Buru Woy. Ini sih sammy berenti di rumah sakit. Ngapain coba?”.

“Ya mana kita tau. Gila ya”.

“Ehhh mungkin jenguk kerabatnya kali Woy”.

“Ya kali jenguk kerabat si April kagak di ajak Zo. Logis dong”.

“Coba pantau terus pril”.

“Woy sammy bareng cewek. Kagak tau siapa”.

“Si Hani bukan?”.

“Bukan. Aku ga tau siapa. Apa ikutin lagi aja ya? Tapi aku takut COVID Woy”.

“Daripada penasaran udah sana masuk aja. Nanti semprot deh pakek sanitizer”.

“Jangan di matikan ehh. Aku lagi ngikut sammy ni”.

“Video call woy biar kami liat juga”.

“Kagak bisa. Aku lupa bawa earphone. Kalian udah sampai mana? Buru donggg”.

“Masih jauh anj. Sabar dongggg”.

“Ngebut dong Brian. Lu ngemil mulu dari tadi. Heran deh”.

“Ya sabar anj. Namanya laper”.

“Kan udah aku bilang tadi. Aku aja yang nyetir kamu ga mau”.

“Udah-udah. Zia aja yang bawa. Minggat lu sono”.

“Ehh ehh guys. Sammy jenguk Hani”.

“Hani yang sakit? Sakit apa? Tipes? Apa COVID?”.

“Ya kali COVID di jenguk. Terlalu Pinter otak lu Zo”.

“Ya manatau kannn”.

“Ehh pril. Coba telfon sammy. Tanya dia lagi dimana”.

“Males ahhh”.

“Ehh iya coba telfon dulu”.

“Enggak. Ga mau aku”.

“Yaudah kabarin kalau terjadi hal yang enak”.

“Aku matikan dulu ya. Aku mau fokus kesini”.

Ya ampun jadi disini aku yang jahat? Aku yang jadi perusak hubungan mereka? Aku juga ga mau kok kalau enggak karena terpaksa. Kalau sammy mau balikan lagi juga gapapa. Belum terlambat.

Kenapa juga sammy enggak ada ngejelasin semuanya? Omongan maaf dari seorang pria itu bakal buat pihak perempuan menjadi sosok yang merasa paling tersakiti. Emang sakit sih. Tapi dia juga enggak tau penyebab dari pertunangan kami itu karena apa.

Aku enggak perduli deh kalau kemarin-kemarin sammy pernah bilang dia sayang sama aku. Tapi kok rasanya enggak enak gitu. Ada yang ngeganjel. Nyangkut gitu di hati.

Kalau memang mereka mau kembali aku ikhlas kok. Aku bakal kembali in apa yang selama ini sammy dan keluarga nya kasih ke aku. Rasa sakit ku bisa cepat tertutupi hanya karena nge fangirlingin dennies. Aku gapapa. Aku kuat kok. Selama ini aku juga masih bisa bertahan.

Sudah hampir setengah jam aku berdiri di samping pintu. Sedikit ku intip dari sini. Sammy akhirnya bisa menenangkan Hani.

Aku buru-buru sembunyi saat sammy keluar dan langsung masuk ke ruangan Hani.

Dia terkejut melihat ku masuk dari pintu. Wajah nya berubah tidak senang saat melihatku.

“Aku datang kesini bukan untuk mencari keributan. Tapi menjelaskan hal yang belum kamu ketahui. Seharusnya nya aku mengembalikan ini secepat nya kepadamu”. Aku menyerah kan cincin pertunangan kami. Aku juga tidak melihat sammy memakai nya tadi.

“Pertunangan kami terjadi karena perjodohan orangtua. Bukan keinginan kami. Aku sudah mencoba menolaknya. Tapi, hal buruk terjadi kepada sammy setiap kali aku membatalkan kencan kami”.

“Aku tidak ingin menyulitkan orang lain karena diriku. Aku merasa bersalah kepada sammy. Ini bukan sepenuhnya kesalahan dia. Seharusnya aku terus menolak perjodohan ini”.

“Dari awal juga sammy sudah memberitahuku tentang hubungan kalian. Aku mengerti tentang perasaannya karena aku juga memiliki orang yang ku sayang. Dari awal sammy juga tidak pernah mencintaiku. Kami melakukan pertunangan ini karena desakan orangtua”.

“Dan maaf, tadi aku mendengar semua pembicaraan kalian dari luar. Aku bukan perempuan seperti yang kau bayangkan. Aku mengerti perasaanmu sebagai sesama perempuan”.

“Aku akan mengembalikanya seperti semula. Aku tidak akan muncul di hadapan kalian lagi. Aku janji”.

“Kau serius?”.

“Iya”.

“Kalau begitu. Mulai sekarang kau harus meninggalkan sammy. Aku dengar, kalian sudah satu rumah? Apa kalian sudah melakukannya? Bagaimana jika kau tiba-tiba hamil dan menghancurkan hubungan kami lagi?”.

“Aku tidak akan melakukannya. Aku ber janji”.

“Aku tidak percaya. Aku akan ngirimin kamu email surat perjanjian kita. Kau tidak boleh melanggarnya”.

“Kau mengancamku?”.

“Tidak. Itu hanya untuk berjaga-jaga”.

“Aku akan pergi hari ini juga dari hadapan sammy jika itu maumu. Kau tidak percaya sama ku?”.

“Kau hanya manusia. Aku akan lebih percaya kepada Tuhan”.

“Aku sudah mengembalikan cincin itu kepadamu. Apa itu kurang cukup untuk membuktikan ketulusanku?”

“Itu akan cukup jika sammy benar-benar sudah kembali denganku”.

“Prilll..? Kamu ngapain disini?”. Sammy kembali dengan sekantung plastik makanan.

“Pril... aprillll”. Sammy mengejarku.

“SAMMM!!! KAMU MAU KEMANA?”. Teriak Hani.

“Prill... Sayanggg”.

“Sayanggg. Please berhenti bentar”.

Sampai di parkiran akhirnya aku berhenti. Tarik nafas.

“Kemana cincin kamu?!”.

Sammy langsung melihat ke jarinya. “Aduh, aku lupa. Mungkin ketinggalan di rumah”.

“Oh iya? Cincinku udah aku balikin ke orang yang tepat. Mulai sekarang kamu balik aja lagi sama Hani”. Ucapku lalu ber jalan ninggalin sammy lagi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!