Tulang kepala

**Bruk

*Crack*

*Jder*

"ini benar benar memakan waktu" geraman Author yang masih memikirkan otak serigala itu. Sudah dia coba berkali kali benda dan senjata yang membuat tengkorak itu pecah tanpa mengambil kekuatan di dalamnya. Tapi masih tidak ada hasil yang memuaskan dirinya "Baiklah, mungkin aku perlu meja baru lagi" bahkan mejanya telah hancur lebur karena palu miliknya.

Satu kilogram emas dia ambil dari penyimpanan berangkas miliknya untuk membeli meja yang lebih kuat.

"Sayang aku mau keluar dulu"

"Baiklah, hati hati di luar sana ya"

Seperti biasa dia berjalan santai menuju toko mable. Jaraknya sekitar 15 meter dari rumah mansion nya. Dia berjalan di pinggir trotoar sambil menyaku kedua tangannya di bajunya.

Melihat seisi kota masih tidak ada yang berubah sama sekali. Bangunan sudah mulai sedikit lebih banyak daripada sebelumnya. Mungkin sebatas aturan kota itu di tinggalkan beberapa orang. Di dalam pikirannya bahwa percuma saja banyaknya penduduk atau tidak, kejahatan juga tidak akan pernah berakhir. Ini karena Author pernah mengalami beberapa hal buruk menimpanya di saat dia masih dalam keadaan manusia biasa dan seisi kota ada beberapa penduduk. Jadi dia masih berfikir hal yang sama.

Dua orang misterius dengan hoodie menutupi wajahnya datang mengikutinya diam diam. Sambil berjalan Author siaga tapi dia tidak tau apakah kedua orang yang di belakanya akan memberi niat buruk atau hanya kebetulan saja berjalan menuju ke tujuan yang lain selain dirinya. Kemudian di depan dekat mulut gang yang sempit ada seseorang yang menunggu, juga memiliki pakaian hoodie yang sama dengan kedua orang di belakang.

Saat Author berjalan melewatu satu orang itu di dekat gang sempit, ekornya tertarik oleh salah satorang di belakang dan menerkam masuk ke dalam gang itu karena tempatnya yang sepi. Dengan paksa mereka mendorong Author hingga ke tembok dinding bangunan, lalu mengancam dengan menarik dan menggenggam keras bulu dadanya "Ah, ternyata si manusia George sudah menjadi seekor bajing. Hehehehe... sudahlama tidak bertemu selama 20 tahun yang lalu, Gorgi!". Kemudian mendorongnya lagi ke dinding bangunan hingga menyakiti punggung dan dada Author "heh, pecundang. kamu masih lemah kayak dulu sama tukang cengeng" lalu memukul perutnya hingga jatuh ke bawah

"Yakin itu dia orangnya"

"iya nih, anthro hewan kek dia bisa makan orang"

"Hadehh... kalau si bangsat kek dia mana mungkin berani lawan" Author beranjak bangun "Lihat nih" tapi orang itu menendangnya hingga dirinya terjatuh lagi "Rasakan ini!" dan dia menginjaknya berkali kalu hingga darah di mulut Author keluar "Lah iya ya" Kemudian dengan mereka yang menyiksanya sampai dia tidak mampu untuk bangun lagi.

Emas yang di bawa Author pun mereka bawa "Nah, ini keberuntungan kita. akhirnya kembali juga" Senyuman darinya seakan bahagia tiada akhir "Awas kalau kamu melebihi kami lagi. Apapun bentuknya kamu masih terlihat pecundang yang bodoh" salah satu dari mereka meludahinya di kepalanya  "cuh dasar pelacur". Lalu mereka pergi meninggalkan Author begitu saja dengan gelak tawa bahagia

Tidak dia sangka mereka kembali lagi ke kota Modern karena sudah banyaknya penduduk. Juga tidak membawa buku pribadinya juga kesalahan besar bagi dirinya. Atau bahkan menyerang atau melukai, mengancam kepada manusia akan mendapatkan masalah lebih besar lagi(Karena seekor anthro lebih bahaya daripada manusia biasa. Jadi ada aturan yang lebih berat daripada manusia)

Perlahan-lahan dia bangkit. Kakinya terluka parah, sehingga dia kesusahan untuk berdiri. Saat dia berdiri dengan kakinya dia terjatuh lagi karena memarnya luka itu. Dia akan duduk dulu dan bersandar di tembok bangunan. Meludahi luka memarnya, lalu sembuh perlahan lahan

Setelah dia bangkit dari duduknya dia akan membuang bajunya ke tempat sampah karena sobek dan kotor "Bangsat". Kemudian melanjutkan perjalanannya menuju toko yang ingin dia tujui.

***

Sesampainya di toko, ternyata toko tersebut sudah tutup dengan catatan pemiliknya berhenti berbisnis Author hanya terdiam. Dia akan berjalan kembali ke rumah mansionnya sendiri.

Di tengah perjalanan dia terhenti sejenak karena dia mendengar sebuah bisikan dari sebuah gang yang tadi. Tidak lain lagi dia adalah William Static "ppsss... hey. George!". Author menengok ke arahnya lalu masuk ke dalam gang tersebut "dengar,dengar ya. aku tahu ini agak sedikit aneh.. hehe.. yeah. yeah... aku- aku- *mengusap tangannya lalu mengeluarkan sebuah emas 1 kg milik Author itu sendiri* Tadaaa..... Cukup menarik bukan? Lain kali kalau ada masalah bilang aja. Ternyata orang yang aku dengar itu adalah kau! Kenapa akau diam saja?"

"aku-"

"Jangan bilang kalau si pengatur membuatmu jadi gila. Lupakan saja! lakukan jika kau terpaksa. Iitu demi keselamatanmu hmm... George?"

"uhm, aku-"

"Ssshhhh..... Lupakan dan ambil emasmu ini dan beli apa sesukamu. Aku mau pergi dulu... Bye! *melompat dan memecahkan jendela bangunan\, lalu mencuri kucing untuk di makan olehnya*"

Di mansionnya dia duduk di sebuah kursinya dan memikirkan sesuatu. Sebuah hal yang mungkin dapat dia lakukan dengan emas yang dia pegang. Dari buku pribadinya dia menulis sebuah pesan kepada William soal tengkorak seekor rubah yang dia simpan. Seketika dia mengetuk pintu rumah Author. Mulut William masih memiliki bekas darah dari mangsa yang dia makan "Jadi aku memberimu yang segar saja. karena mereka yang sudah tua sangat rapuh" Author langsung mengambil tengkorak dari cakar William tanpa berkata apapun dan menutup pintunya

Author membawa tengkorak itu ke mejanya. Menyingkirkan kepala serigalanya agar dia bisa mendpatkan banyak ruang. Dia mengambil sebuah gulungan kertas yang di kunci dengan penanda warna abu-abu, lalu merematnya dengan keras hingga gulungan kertas tersebut menyerap ke dalam akar Author. "Sial!" baru sadar dia melihat tengkorak tersebut masih memiliki otak di dalamnya. Jadi efek dari gulungan itu tidak akan bekerja melainkan melukai cakar Author hingga membusuk sebagian "Arg! Harusnya aku melihatnya terlebih dahulu. Sialan kau William!". Sebuah batu terbuat dari nafas naga dia genggam di tangannya yang membusuk lalu menutupi seluruh cakarnya dengan sebuah kain perban beserta batu yang dia genggam. Batu itu akan menghentikan pembusukannya selama dia memegangnya.

***

Author duduk di ruang tamunya sambil lalu memikirkan bagaimana cara menyembuhkan tangannya yang sakit sambil di temani oleh Waverley "Jadi, George, waktu itu aku telah bilang padamu bahwa aku sadar kalau aku adalah bagian dari pikiranmu, jadi... aku akan selalu ada selama kau mengingat ku"

"aku ingin memberi tau soal itu di saat waktu yang tepat tapi kamu sudah tau lebih awal, ada apa?"

"tidak ada, aku hanya... kawatir di saat kamu sudah lupa"

"Wave, kau tau aku tinggal sendirian di sini. Jika kau tidak ada, siapa lagi yang akan menemani hidupku?"

Mereka berdua terdiam sementara dan Waverley mengangguk kecil kepalanya karena dia setuju untuk menemani Author sepanjang hidupnya. Kemudian dia mecium dahi Author "baiklah sayang, semoga cepat sembuh. Aku akan pergi merawat grup serigalaku. Berjanjilah kau tidak melupakanku"

Author tersenyum manis di hadapan Waverley "Tidak- tidak akan lupa. oh ya, kapan kamu kembali ke rumah?"

"Uh, entahlah, mungkin besok lusa. soalnya kami mau migrasi ke tempat lain. kunjungi saja aku jika kamu rindu" Waverley menjulurkan lidahnya sedikit dan juga ikut tersenyum.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!