Setelah kepergian Zahira dan kawan-kawannya, Adam dan Andi belum beranjak dari tempat duduk itu. Mereka masih asyik berbincang sejenak.
"Nggak nyangka kalo hari ini kita makan siang dengan Zahira juga." Andi terkekeh senang.
"Kalau aku biasa saja." Jawab Adam acuh.
"Kamu ini Dam, selalu saja seperti ini bila bertemu Zahira." Keluh Andi dengan sikap datarnya Adam. Kapan sahabatnya ini bisa ramah dengan Zahira.
"Terus aku harus gimana? Aku terlalu malas bicara dengannya." Sahut Adam.
Andi menghela nafas, dia kesal dengan sikap Adam.
"Sudah, ayo kita balik. Waktunya kita kerja lagi." Ajak Adam sambil berdiri lalu berjalan ke kasir untuk membayar tagihannya dan Andi juga.
Mereka pun berjalan keluar meninggalkan warung bakso, kembali ke tempat kerja. Yang jaraknya tidak terlalu jauh.
***
Hari sudah sore. Zahira dan kawan-kawannya beranjak pulang menuju ke rumah masing-masing.
"Aku duluan ya Ra.." Pamit Dini pada Zahira di area parkir.
Zahira mengangguk mengiyakan. Memasang helm dan mulai mengemudikan motor maticnya. Sampai di lampu merah Zahira berhenti, namun siapa sangka ternyata dia berhenti di samping Adam.
Zahira tidak tahu jika Adam di sisi kirinya. Zahira hanya fokus ke depan tidak menoleh ke kanan atau ke kiri. Adam yang mengetahui jika Zahira di sampingnya hanya menoleh saja. Lampu hijau sudah menyala semua kendaraan berjalan kembali. Adam mengendarai motornya di belakang Zahira tanpa berniat untuk menyalip.
"Hmm, beli Martabak dulu deh. Mumpung belum antri." Gumam Zahira melihat penjual Martabak sudah mangkal.
"Mas, beli Martabak manis rasa coklat ya." Ucap Zahira.
"Beli berapa bungkus Mbak?" Tanya si penjual Martabak itu dengan ramah.
"Satu bungkus aja Mas." Jawab Zahira. Dan di angguki oleh si penjualnya. Zahira duduk di kursi plastik yang sudah di sediakan.
Entah di sengaja atau tidak. Adam juga berhenti, turut membeli Martabak. Adam memesan dan di suruh menunggu juga oleh si penjual.
Zahira sibuk memainkan ponselnya belum menyadari jika Adam berdiri tegak di depannya. Karna ada pembeli lain yang juga ikut mengantri.
Saat Zahira memasukkan ponsel ke dalam tas, ia baru tahu jika ada Adam sudah berdiri di hadapannya. Membuatnya kaget dan salah tingkah.
"Eh, Kak Adam sudah dari tadi ya?" Tanya Zahira dengan sedikit gugup.
"Hmmm." Jawab Adam hanya dengan deheman.
"Ini Mbak pesanannya." Ucap si penjual mengulurkan Martabak kepada Zahira.
"Ah iya Mas, ini uangnya. Terima kasih ya Mas." Ucap Zahira.
"Sama-sama Mbak." Jawab si penjual senang.
"Kak Adam, aku duluan ya." Pamit Zahira mendahului Adam untuk pulang.
Adam tidak menjawab ucapan Zahira, bersikap acuh seolah tidak mendengar.
"Nyesel aku mencoba bertanya padanya." Batin Zahira kesal dengan sikap Adam.
Zahira sendiri tidak tahu, kenapa Adam seperti membenci dirinya. Apa karena Zahira yang tidak terlalu cantik atau apa. Karena setiap kali bertemu dengannya, Adam akan bersifat dingin dan hanya pada dirinya saja.
"Hufftt... sudah lah terserah dia saja mau bersikap apa padaku, aku nggak mau repot." Gumam Zahira menyemangati dirinya sendiri atas sikap dingin Adam.
Sampai di rumah, Zahira mengucapkan salam dan menyalami kedua orang tuanya, lalu memberikan Martabak yang dia beli.
"Wah, Martabak.. Mbak tahu aja kalau aku lagi laper!" Seru Akmal senang karena di belikan Martabak oleh kakaknya.
"Kalau laper ya makan Mal.. kayak nggak di masakin Emak aja kamu." Zahira geleng-geleng kepala dengan kelakuan Akmal.
"Kamu seperti nggak tahu adik kamu saja Nduk.." Jawab Ibu Zahira sambil meletakkan Martabak di meja, lalu memberikan kepada Akmal.
Zahira masuk ke dalam kamar untuk mandi, karena sudah gerah seharian bekerja. Untuk Sholat Ashar dia sudah melaksanakan kewajibannya itu di Musholla tempat kerjanya. Jadi dia tidak perlu terburu-buru untuk pulang ke rumah.
.
.
.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
meE😊😊
ad mslh ap emg adam ama zahira kok gtu amat sii??
2022-10-02
3
Yunisa
Wkwk.. mungkin Adam lagi sariawan🤣🤣
2022-08-12
0
Wa Japulina 99
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖❤❤❤❤❤❤❤❤
2022-06-17
2