Jam makan siang pun tiba. Sebagian karyawan bergantian menjaga Swalayan karena ada beberapa karyawan yang sedang keluar untuk membeli makanan. Termasuk Zahira, Dini dan Eko mereka juga berpamitan pada rekannya untuk makan siang di luar.
"Ra, naik motorku saja." Kata Dini saat mereka melangkah keluar menuju parkiran.
"Iya, tapi kamu yang nyetir ya, nanti kalau pulang gantian aku." Jawab Zahira sambil memasang helm.
"Ok." Ucap Dini singkat.
"Eh, tunggu-tunggu. Jangan di tinggal, aku ikut." Teriak Eko sambil berlari kecil menghampiri mereka.
"Ngapain kamu! Nggak usah ngikutin kita ya!" Dini melototkan matanya pada Eko. Tidak suka dengan Eko yang selalu menempel padanya.
"Galak amat Din, aku juga kan mau makan bakso." Jawab Eko memelas.
"Nggak boleh!" Marah Dini sambil berkacak pinggang.
"Udah Din, biarin Eko ikut. Keburu habis nanti waktu makan siang kita." Lerai Zahira agar Eko dan Dini berhenti berdebat.
"Baiklah, awas aja kalo kamu bikin rusuh." Ancam Dini mengacungkan jari telunjuknya di hadapan Eko.
Eko hanya mengangguk-angguk tanda mengerti. Mereka pun melajukan motor ke tempat yang dituju. Sampai di warung Bakso, mereka langsung mencari tempat duduk.
"Ramai banget ya Din yang makan bakso hari ini." Ucap Zahira menatap sekelilingnya.
"Iya Ra, untung aja kita masih dapat bangku kosong." Jawab Dini membenarkan.
Sementara Eko memesan bakso dan juga minumannya. Pramusaji langsung mengantarkan pesanan mereka setelah sudah jadi.
"Makasih Mas." Ucap mereka berbarengan.
"Hmm.. enak sekali Baksonya. Mantap emang." Eko menyeruput kuah bakso seraya memejamkan matanya.
Zahira tersenyum.
"Benar Ko, bagi aku bakso di sini nggak ada duanya." Sahut Zahira sambil mengacungkan jempolnya.
Dini hanya diam saja tanpa ikut nimbrung pembicaraan Eko dan Zahira. Saat mereka sedang asyik-asyiknya menikmati bakso. Tiba-tiba ada yang duduk di tempat duduk mereka. Karena kebetulan kursi di sebelah Eko masih ada bangku kosong yaitu dua.
"Maaf ya, kami tiba-tiba duduk di sini tanpa persetujuan kalian." Ucap salah satu pemuda dengan tidak enak hati.
Ternyata pemuda itu adalah Andi. Dia datang tidak sendiri melainkan bersama Adam untuk makan siang. Zahira yang tadinya menunduk karena menikmati makanannya. Langsung saja melihat siapa yang duduk di hadapannya. Dan ....
Degg..
"Kak Adam.." Ucap Zahira dalam hati.
Tak disangka ternyata hari ini dia bertemu dengan Adam yang juga makan siang di warung bakso langganannya.
Adam juga sama terkejutnya, melihat Zahira yang duduk tepat di depannya. Lamunan keduanya buyar saat Eko berbicara.
"Tidak apa-apa Mas, kami juga memaklumi karena saking ramainya tempat ini." Jawab Eko tersenyum.
Andi yang belum menyadari jika ada Zahira juga, langsung saja menyapa perempuan itu.
"Lho, Zahira.. kamu ada di sini juga." Ucap Andi kaget melihat Zahira duduk di depannya. "Maaf, tadi aku tidak lihat kamu." Sesal Andi.
Zahira tersenyum. "Tidak apa-apa Kak, santai aja." Jawabnya.
Adam hanya diam sambil menatap Zahira dengan muka datarnya. Membuat Zahira menjadi salah tingkah akan tatapan itu. Sedangkan Dini dan Eko bingung, ternyata pemuda yang duduk di sebelah mereka mengenal Zahira.
"Kamu kenal sama mereka Ra?" Tanya Dini.
Zahira mengangguk. "Iya Din, mereka ini kakak kelasku waktu sekolah dulu." Jawab Zahira lalu menunduk untuk menghindari tatapan datarnya Adam.
Dini dan Eko manggut-manggut. Tidak lama pesanan Adam dan Andi pun datang, mereka langsung makan. Karena perut mereka sudah keroncongan sedari tadi.
"Kamu sudah lama Ra di sini?" Tanya Andi di sela-sela makannya.
"Lumayan Kak." Jawab Zahira menunduk, masih tidak berani melihat Adam.
Adam terus saja menatap Zahira meski laki-laki itu menikmati baksonya.
"Oh ya, kita belum kenalan." Andi mengulurkan tangannya pada Dini dan Eko. "Saya Andi." Ucapnya ramah.
Disambut mereka dengan senang hati.
"Dini."
"Eko."
"Kenalin ini namanya Adam, dia emang irit bicara orangnya." Kekeh Andi seraya menepuk bahu sahabatnya. Memperkenalkan pada Dini dan Eko.
Yang hanya dibalas tawa renyah oleh Dini dan Eko. Bagaimana dengan Adam? Adam sama sekali tidak terganggu dengan suara tawa mereka.
"Kita duluan ya Kak." Pada akhirnya Zahira pamit pada Andi.
"Cepet amat Ra kamu baliknya?" Tanya Andi bingung bercampur heran. Baru juga ngobrol sebentar.
"Iya Kak, soalnya jam makan siang kita udah habis waktunya." Jawab Zahira.
Lalu beranjak dari duduknya bersama Dini dan Eko, meninggalkan Adam dan Andi setelah membayar ke kasir.
"Datar amat itu muka.." Batin Zahira sedih melirik sekilas ke arah Adam sebelum keluar dari warung bakso.
.
.
.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Inara Rizky Haky
sebenarnya adam kenpa si ma zahira
2022-11-03
1
Yunisa
Adam cuek amat sama Zahira. Kasian kan dia??
2022-08-12
2
Wa Japulina 99
maasyaAllah keren banget💖💖💖💖💖💖💖
2022-06-17
4