***
"Ya Allah.. kenapa dadaku sesak sekali mendengar ucapan Bapak yang menyuruh hamba untuk menikah. Hamba belum siap Ya Allah.. hamba juga takut.." Batin Zahira lirih.
"Nduk.. kita ini hidup di kampung, perempuan yang belum menikah di usia seperti kamu ini akan di sebut parawan tua. Kita ini juga ingin menimang cucu seperti orang-orang lainnya Nduk.. Bapak dan Emakmu ini sudah tua." Tutur sang ibu yang masih setia mengusap punggung Zahira.
Zahira tetap diam, menangis tanpa suara. Tidak tau apa yang harus ia katakan karena sejujurnya Zahira belum siap menjalani biduk rumah tangga.
Bapak hanya bisa menghela nafas melihat sang anak yang sedari tadi diam tergugu. Selalu saja seperti ini jika membahas masalah pernikahan, putrinya ini akan diam dan menangis. Tapi kali ini Bapak harus bertindak tegas dan keputusannya tidak bisa di ganggu gugat.
"Mau tidak mau kamu harus menikah Nduk, Bapak akan menjodohkan kamu dengan orang lain. Kamu tidak bisa menolak atau pun membantah, jadi persiapkan diri kamu!" Ucap Bapak tegas.
Tenggorokan Zahira rasanya tercekat, tidak tau harus menjawab apa. Juga tidak mungkin jika tetap membantah ataupun meminta waktu buat berfikir.
"Kamu tidak usah takut Nduk, dia itu pemuda sopan kamu juga sudah mengenalnya." Ucap Ibu sambil tersenyum, yang mana membuat Zahira mengernyit bingung.
"Sopan, siapa?" Batin Zahira bertanya-tanya.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, kedua orang tua Zahira menyudahi pembicaraan mereka. Menyuruh Zahira untuk tidur agar besok tidak bangun kesiangan saat berangkat bekerja.
Dengan langkah gontai Zahira masuk ke kamarnya. Merebahkan tubuh rampingnya di atas kasur lalu menatap genteng-genteng kamar. Zahira mengingat ucapan kedua orang tuanya. Tak mau ambil pusing, Zahira memutuskan keluar dari kamar untuk berwudhu ke kamar mandi yang letaknya berada di sebelah dapur.
Usai sholat Isya, Zahira memohon kepada Allah SWT agar memberi petunjuk kedepannya. Tidak lupa Zahira juga mengaji Al-Qur'an, setelah itu dia pun tidur dengan pikiran tenang.
~Di lain tempat~
Di rumah seorang pemuda, siapa lagi jika bukan di rumah Adam. Pemuda itu juga saat ini sedang berkumpul dengan keluarganya. Tapi kali ini ada yang berbeda, karena biasanya Ibunya Adam akan ikut berkumpul tapi malam ini beliau tidak ada. Ternyata Ibunya Adam tengah sakit, sakitnya kambuh. Hanya Adam dan ayahnya saja di ruang tengah itu.
"Dam.. Ayah ingin bicara sesuatu sama kamu." Ucap Ayah. Saat ini mereka menonton televisi sementara Adam lagi asik bermain game di ponselnya.
"Mau bicara apa Yah.. Adam akan dengarkan." Jawab Adam santai tanpa memandang sang Ayah.
"Ayah dan Ibu ingin kamu menikah!" Ucap Ayah.
"Adam belum kepikiran masalah itu Yah.." Sahut Adam sembari tersenyum tipis. Ada-ada saja pikirnya.
"Lalu kamu mau menikah di umur berapa? Ibumu saat ini sakit, sakitnya lebih dari yang kemarin-kemarin. Ayah juga tidak bisa jika setiap hari harus menjaga Ibumu karena Ayah juga harus mengajar." Tutur Ayah.
Ayah Adam bekerja sebagai seorang Guru, di samping itu juga sebagai petani menggarap sawah yang ia miliki meski sawahnya kebanyakan digarap oleh buruh yang ia bayar.
Adam menghela nafas. "Yah.. kan bisa kita minta bantuan Uwak Sari untuk merawat ibu di saat kita kerja. Uwak Sari kakak kandung Ibu, jadi dia tidak akan keberatan." Ucap Adam dingin.
"Tidak bisa setiap hari juga Nak.. Uwak kamu punya kesibukan lain. Dia punya anak dan suami, sebentar lagi juga waktunya Tandur (menanam padi)." Protes sang Ayah.
"Lalu baiknya gimana Yah?" Tanya Adam.
"Seperti yang Ayah bilang tadi, kamu harus menikah. Ayah sudah ada pilihan yang cocok untuk kamu." Jawab Ayah sambil tersenyum.
"Siapa?" Tanya Adam, alisnya bahkan sampai menyatu saking penasaran.
.
.
.
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
meE😊😊
akhir y nemu crta yg bkn CEO2an..
2022-10-02
6
Yunisa
Itu si Zahira, Dam..😄😄
2022-08-12
0
Nenk Jelita
wiikwik
sITI NuRBAYA
2022-07-03
1