Suasana kamar yang sudah dingin sejak awal, kini semakin bertambah dingin dan canggung setelah kejadian menegangkan sore tadi.
Hingga waktu masih menunjukkan pukul delapan malam, Audrey sudah membentang kasur tipisnya dan pura-pura tidur di balik selimutnya.
Sedangkan Byakta masih sibuk dengan berkas dan juga laptopnya entah mengerjakan apa, padahal sudah bekerja seharian, tapi tetap saja tidak bisa beristirahat ketika berada di rumah.
Satu hal yang Audrey tangkap dari seorang Byakta, bahwa laki-laki itu adalah tipe laki-laki pekerja keras.
Audrey yang awalnya hanya ingin berpura-pura tidur, kini sudah terlelap di bawah selimut, ia sudah tidak menyadari kapan Byakta selesai dengan pekerjaannya.
"Hei! Siapa yang menyuruhmu tidur, hah! Kau sudah lupa dengan pekerjaanmu?" teriak Byakta sambil membangunkan Audrey dengan kakinya.
Sontak Audrey terkejut dan langsung bangun dari tidurnya, ia mendudukkan dirinya, jantungnya berdebar karena kaget.
"Tuan, kenapa anda selalu berteriak? Anda pikir saya ini tuli?" Ketus Audrey tak terima.
"Tidak perlu berteriak, bikin orang kaget saja," sambung Audrey tanpa rasa bersalah. Lalu ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka agar kantuknya hilang.
Sedangkan Byakta terbengong melihat Audrey berani melawannya, ini tidak bisa dibiarkan, apa-apaan dia? Apa dia lupa siapa dirinya disini! Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya nanti. Byakta menggerutu di dalam hati melihat tingkah Audrey yang cukup berani berkata ketus padanya.
Pintu kamar mandi terbuka, Audrey mengernyit kaget melihat Byakta yang berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Tuan akan ke kamar mandi?" tanya Audrey polos.
Ia tidak mendapat jawaban dari Byakta, membuatnya semakin heran, sebenarnya laki-laki ini maunya apa?
"Tuan, anda baik-baik saja kan?" tanya Audrey lagi, "apa anda membutuhkan sesuatu?" Masih mencoba mencari jawaban.
'sebenarnya dia kenapa sih? Lihat tatapannya itu, menakutkan!'
Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Byakta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Audrey.
Tiba-tiba gadis itu membelalak dan menutup mulutnya "Tuan, Anda baik-baik saja kan? Anda tidak kerasukan jin kan? Sebentar saya panggilkan Bibi Lauren!"
Audrey ingin segera pergi memanggil Bibi Lauren, namun terhenti saat Byakta mencekal tangannya dan sedikit menariknya, hingga membuat Audrey berbenturan dengan dada bidang Byakta.
Suara degup jantung Audrey langsung tidak normal, ditambah lagi dengan ucapan Byakta yang mengatakan "Aku ingin kau melakukan pekerjaan mu sekarang juga,"
Byakta langsung menarik tangan Audrey yang sejak tadi belum dilepaskannya, ia langsung mendorong Audrey jatuh ke kasur king size miliknya.
"T-tuan," Audrey meremas seprai, dia belum siap, sungguh dia belum siap kehilangan semuanya.
"T-tuan, bukankah ada peraturan yang harus saya jalankan jika ingin tidur dengan anda," Audrey masih berusaha menghentikan Byakta yang seperti singa kelaparan.
Ia mulai melakukan apa yang ada di dalam otak liarnya tanpa peduli dengan Audrey yang ketakutan karena perbuatannya.
"T-tuan, saya mohon beri saya waktu untuk bersiap, saya belum siap tuan,"
Byakta seperti tuli, ia tidak mendengarkan semua yang dikatakan Audrey, ia terus melakukan apa yang dia mau, kini keduanya sudah setengah proses.
Hingga akhirnya gadis malang itu pasrah dengan semua yang dilakukan Byakta padanya, ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya lalu tangannya mencengkram kuat sprei saat Byakta melakukan penyatuannya.
Sedangkan Byakta sendiri terkejut dengan apa yang ia rasakan, sungguh ini berbeda dengan yang ia rasakan sebelumnya.
"K-kamu masih perawan?" tanya Byakta terkejut, nafasnya tersengal di tengah kegiatannya.
Ia tidak mendapat jawaban dari Audrey, tapi melihat gadis itu menahan sakit hingga menangis sudah membuat Byakta paham bahwa dugaannya benar.
"Tak masalah, Tuan. Saya sudah mengikhlaskan semuanya, lakukan yang ingin anda lakukan, bukankah untuk ini anda membayar saya," ada nada getir di setiap kalimat yang diucapkan Audrey.
Mendengar kalimat Audrey, Byakta melanjutkan kegiatannya hingga tuntas, bukan dia tak menangkap nada getir di setiap kalimat yang diucapkan Audrey hanya saja rasa ingin lebih besar dari rasa kasihannya.
Dia juga tidak tahu entah kenapa ia sangat ingin menyentuh Audrey, ia sadar ini semata-mata bukan hanya karena ingin memiliki keturunan, namun ada perasaan di hatinya yang mendorong ia untuk melakukan ini.
Setelah selesai dengan kegiatannya, Byakta memakai pakaiannya kembali dan langsung pergi meninggalkan Audrey yang masih terkulai lemas di kasur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Noor Sukabumi
awas kecanduan pak bos
2024-01-29
0
💥💚 Sany ❤💕
Liat ja...setelah ini kamu gak bakalan tenang By. Kamu pasti pingin miliki Audrey selamanya
2023-04-25
0
💥💚 Sany ❤💕
Waduh By...tega banget. Kasian Audrey...
2023-04-25
0