Denting yang berbunyi menyadarkan Audrey dari tidurnya, ternyata ia masih duduk di lantai seperti tadi dan masih mengenakan gaun pernikahannya tadi.
Gadis itu mengusap sisa air matanya lalu bangkit berdiri, sebenarnya ia akan pergi ke kamar mandi, namun langkahnya terhenti saat terdengar bunyi pintu kamar mandi terbuka.
Byakta keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil, laki-laki itu melewati Audrey begitu saja, jangankan bicara sesuatu, bahkan melirik pun tidak.
Audrey menarik nafasnya dalam untuk mengurangi sesak di dadanya, ia menyadarkan dirinya sendiri bahwa ia tidak perlu tersinggung ataupun sakit hati jika diperlakukan seperti itu, karena ia sadar ini bukan pernikahan sepasang kekasih yang saling mencintai.
Bahkan untuk merasa menjadi seorang istri seharusnya tidak ia rasakan, karena hakikatnya dia bukan istri, tapi hanya mesin pencetak anak yang disewa dengan bayaran tinggi.
Setelah dirasa Byakta sudah menjauh, ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lima belas menit berlalu akhirnya Audrey selesai dengan urusan mandinya.
Namun sial, ternyata ia melupakan pakaian gantinya, ia mencari sesuatu yang bisa digunakan keluar dari kamar mandi untuk mengambil pakaian ganti.
saat melihat sekeliling kamar mandi yang bahkan lebih luas dari kamarnya di rumah, Ia mendapatkan sebuah jubah mandi, walaupun terlihat sangat mini sehingga memperlihatkan setengah pahanya, gadis itu tidak punya pilihan lain, karena handuk yang ia pakai lebih pendek dari pada jubah mandi tersebut.
cepat ia memakai jubah tersebut, meski setengah pahanya terlihat, setidaknya bagian dadanya tertutup, begitu yang ia pikirkan.
Sebelum keluar Audrey mengintip sebentar untuk melihat Byakta sedang melakukan apa, ternyata laki-laki itu sedang duduk di sofa sambil fokus dengan kertas-kertas di hadapannya.
Audrey mengambil kesempatan itu untuk berjalan ke dekat travel bagnya, dengan gerakan cepat tanpa suara Audrey berusaha untuk mendapatkan pakaian gantinya.
Namun tanpa dia sadari ternyata Byakta memperhatikan setiap gerakan gadis itu, matanya tak berkedip saat melihat bagian kaki Audrey, jantungnya berdetak tak karuan, tanpa ia sadari inti dari tubuhnya pun ikut bereaksi.
Byakta berdehem untuk mengurangi detak jantungnya yang tidak karuan, sekali lagi ia merasakan keanehan dirinya saat melihat gadis itu.
Bahkan sekarang inti tubuhnya juga ikut bereaksi hanya karena melihat paha mulus gadis itu, padahal dengan wanita sebelumnya ia harus meminum berbagai pil hanya untuk menaikkan gairahnya.
'sebenarnya apa yang terjadi dengan diriku, kenapa tiba-tiba aku menginginkannya?' Gumam Byakta dalam hati.
Audrey yang tidak sadar sudah menjadi pemicu kegelisahan orang lain yang ada di kamar tersebut, berjalan santai menuju kamar mandi setelah mendapatkan apa yang dicarinya.
Sedangkan Byakta langsung membereskan berkas pekerjaannya dan membawanya kembali ke ruang kerja.
Saat ia akan menuruni anak tangga, tidak sengaja ia berpapasan dengan bibi Lauren yang akan memanggil mereka untuk makan malam.
"By, ada apa denganmu?" tanya bibi Lauren heran.
Byakta mengernyit mendapatkan pertanyaan aneh dari bibinya, "memangnya ada apa? Aku tidak apa-apa, Bi!"
"Wajahmu,"
"Hah! Memang kenapa dengan wajahku?" Byakta meraba wajahnya sendiri.
Ia tidak merasa ada yang aneh dengan wajahnya, tapi kenapa bibi Lauren seperti heran begitu.
"Wajahmu merah, apa kamu sedang demam, Nak?" Bibi Lauren memeriksa suhu tubuh keponakannya dengan punggung tangan yang di letakkan di kening Byakta.
"Tidak panas," ucapnya lirih.
Tiba-tiba Byakta mengingat kejadian sebelum ia keluar dari kamar, jantungnya kembali berdegup kencang, "Eh, itu, tadi aku nonton film penyiksaan, jadi karena masih terbayang makanya wajahku kayak gini, mungkin efek takut," Byakta memberi alasan.
Memang setiap melihat adegan penyiksaan baik di film atau di kehidupannya nyata bisa membuat Byakta berteriak histeris.
"Kalau gitu aku ke ruang kerja dulu, ya, Bi!" sambung Byakta sambil buru-buru menuruni anak tangga sebelum bibinya bertanya lagi.
Setelah kepergian Byakta bibi Lauren merasa ada yang aneh, kalau memang wajah keponakannya merah seperti kepiting rebus disebabkan menonton film kekerasan, kenapa anak itu tidak menjerit histeris seperti biasanya.
Namun saat ingin bertanya lagi, Byakta sudah menghilang dari pandangan bibi Lauren. Wanita paruh baya itu ingin mengejarnya, tapi ia ingat menantunya belum makan, jadi bibi Lauren memutuskan akan bertanya nanti saja, karena ia juga melihat Byakta sepertinya tidak apa-apa.
Sampai di ruang kerja, Byakta mengutuki gadis yang berada di kamarnya tersebut, "sial! Kenapa aku bisa begini hanya gara-gara gadis murahan itu,"
Hingga larut malam Byakta tidak keluar lagi dari ruang kerjanya, saat bibi Lauren memanggilnya untuk makan malam hingga berulang kali, namun laki-laki itu tetap tidak mau keluar dengan alasan pekerjaannya terlalu banyak.
Laki-laki itu hanya meminta pada bibi Lauren agar makan malamnya di antar saja oleh pelayan.
Kini laki-laki itu sedang sibuk sendiri, tampak ia mondar-mandir di ruang kerjanya sambil berpikir keras untuk mengambil keputusan kembali ke kamarnya saja atau tidur di ruang kerja saja.
"Kenapa jadi aku yang bingung? Itukan kamarku! Harusnya dia yang keluar kan? Baiklah, aku akan mengusirnya."
Byakta melangkah dengan pasti menuju kamarnya, ia berniat akan berteriak dengan gadis itu dan mengusirnya dari kamar.
Namun saat membuka pintu ia melihat Audrey yang sudah tertidur pulas di lantai beralaskan kasur tipis, lagi-lagi Byakta di suguhi pemandangan menyejukkan mata serta mendebarkan dada.
Audrey yang tertidur pulas dengan setelan piyama tidak sadar kalau satu kancing bajunya terlepas hingga membuat asetnya menyembul.
"Sial, apa dia sengaja menggodaku? Tapi, kalau aku melakukannya bukannya wajar saja, untuk itukan aku menikahinya?" Byakta sedang bicara pada dirinya sendiri, lupa sudah dengan niatnya tadi kembali kemarnya.
Ia menggelengkan kepalanya membuang pikiran kotor yang mulai menyerang akal sehatnya, lalu melangkah menuju tempat tidur, ia langsung berbaring dan memejamkan mata.
Namun bayangan paha mulus dan dada yang menyembul indah menari-nari di dalam pikirannya, membuat ia kembali membuka mata.
"Ada apa denganku sebenarnya?"
Pertanyaan yang tidak menemukan jawaban terus menemani Byakta sepanjang malam, meski mengantuk ia tidak bisa tidur disebabkan oleh gadis yang sedang bermimpi indah itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Noor Sukabumi
dasar om kulkas 12 pintu
2024-01-29
0
💥💚 Sany ❤💕
Dasar gengsian...dah cinta gak mo ngaku 😁😁😁
2023-04-25
1
💥💚 Sany ❤💕
🤣🤣🤣🤣 kamu sendiri yg tergoda...lah orang tidur pulas gemana mo goda.
2023-04-25
1