Setelah Audrey mengatakan kepada resepsionis bahwa ia sudah membuat janji dengan sekretaris Direktur utama perusahaan ini, ia disuruh menunggu di sebuah ruangan sampai Bastian datang.
"Mari saya antar ke ruang tunggu, Nona." Salah satu petugas resepsionis itu mempersilahkan Audrey untuk mengikutinya.
"Baik,"
Audrey bersyukur petugas resepsionis itu tidak ada yang sombong seperti kebanyakan di film, mereka justru sangat ramah dan berwibawa.
Saat Audrey dan petugas resepsionis itu baru akan memasuki lift, tampak dua orang sedang berjalan menuju lift khusus.
Tanpa basa-basi, Audrey langsung memanggil Bastian karena ia merasa mengenal laki-laki itu.
Mendengar panggilan Audrey, bukan hanya Bastian yang menghentikan langkahnya, akan tetapi orang yang berjalan bersamanya juga ikut berhenti.
Sebelum menghampiri gadis itu, Bastian melihat bosnya terlebih dahulu dan meminta izin untuk menemui gadis yang memanggilnya tadi.
"Apa dia orangnya?" tanya Byakta.
Bastian hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Saya meminta izin untuk mengurusnya, silahkan anda naik terlebih dahulu."
Bastian menekan lift supaya Byakta bisa pergi menuju ruangannya terlebih dahulu diikuti beberapa pengawal lainnya.
Tidak menjawab ucapan Bastian, Byakta langsung masuk ke dalam lift tersebut. Sebelum pintu lift tertutup sempurna, sekilas Byakta melihat gadis itu. Ada desir aneh di dalam dadanya ketika bersih tatap dengan mata gadis itu.
"Sudah lama, ya?" tanya Bastian ramah.
Lalu dengan isyarat tangan Bastian memerintahkan petugas resepsionis itu untuk meninggalkan mereka berdua.
"Belum, maafkan saya yang langsung memanggil anda tadi," jelas Audrey.
"Tidak masalah, lebih baik sekarang kita temui bos saya, mari." Bastian mempersilahkan Audrey untuk mengikutinya.
Dengan menggunakan lift khusus, keduanya naik ke lantai tertinggi gedung perusahaan yang berjalan di bidang busana ini.
Tidak berapa lama keduanya pun sampai di lantai tertinggi, Audrey terus mengikuti setiap langkah bastian hingga mereka berhenti di depan pintu sebuah ruangan dengan tulisan direktur utama.
Degup jantung Audrey mulai berdetak tak seirama, ada rasa takut yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.
Tidak pernah ada dalam bayangannya ia akan menikah dengan konglomerat di kota kelahiran ayahnya, bahkan kata menikah tidak pernah terlintas di pikirannya sekali pun.
Di usia yang seharusnya masih merasakan puber remaja, jatuh cinta atau sekedar pergi jalan-jalan dengan teman seusianya harus ia kubur dalam-dalam hanya karena seorang adik yang pesakitan.
Audrey tidak pernah mengeluh, karena ia sadar ini adalah kewajiban yang harus dijalani setelah kedua orang tuanya tiada.
"Ayo," Bastian mengajak Audrey untuk masuk.
Audrey menganggukkan kepala dan mengikuti Bastian masuk, ia berjalan di belakang laki-laki jangkung itu, hingga tubuhnya yang mungil tak terlihat oleh orang yang berada di hadapan Bastian.
"Dimana dia?" tanya Byakta, karena tidak melihat asistennya membawa gadis itu.
"Eh, siapa?" tanya Bastian bingung.
"Siapa lagi? Ya, gadis lusuh yang memanggilmu tadi, mana dia?" tanya Byakta meninggi.
Dia berpikir apa asistennya ini sudah pikun, bukankah gadis itu datang untuk bertemu dengannya? Kenapa masih bertanya.
Sedangkan Audrey semakin takut, karena laki-laki yang akan dinikahinya sepertinya berkepribadian dingin dan arogan.
'kalau bisa, aku ingin menghilang saja dari sini, kenapa dia sepertinya makhluk seram begitu' Gumam Audrey dalam hati.
Ia bergidik ngeri membayangkan saat mereka sudah menikah nanti, apakah salah sedikit ia akan di kuliti? Atau di buang ke hutan belantara?
"Oh, ini dia datang bersama saya," Bastian menggeser tubuhnya agar Byakta bisa melihat gadis yang akan dinikahi beberapa hari lagi.
Audrey yang masih memejamkan mata dan membayangkan kehidupan mengerikan bersama laki-laki yang ia sebut arogan tadi, harus membuka matanya segera karena sudah bisa lagi ia berlindung dibalik punggung Bastian.
"Selamat pagi tuan," ucap Audrey sambil membungkuk hormat.
Padahal dia bukan ingin memberi hormat, ia hanya tidak ingin bersih tatap dengan Byakta, karena sudah pasti laki-laki itu sedang melihatnya dengan pandangan mengintimidasi penuh penilaian.
"Kenapa kau bersedia menikah denganku?" Byakta langsung memberi pertanyaan inti.
Ia bukanlah tipe orang yang suka berbasa-basi, menurutnya itu hanya membuang waktu saja.
Audrey yang mendapatkan pertanyaan itu menjawab dengan gelagapan "Karena saya butuh uang, tuan," jawab Audrey jujur.
Byakta yang mendengar itu tersenyum meremehkan, harusnya dia sudah tahu kalau wanita yang mau menikah dengannya hanyalah wanita-wanita yang suka uang.
Tidak hanya yang suka berpenampilan glamor, bahkan yang penampilan sederhana seperti Audrey pun hanya ingin uang.
"Tiga hari lagi pernikahan akan berlangsung, kau tidak perlu menyiapkan apa pun, cukup siapkan dirimu, karena kau pasti sudah tahu untuk apa aku menikahimu," jelas Byakta tak basa-basi.
"Setelah menikah Bastian akan menjelaskan semuanya pada mu, kau tidak perlu menjalankan kewajiban sebagai seorang istri untukku, karena yang perlu kau lakukan adalah memastikan rahim mu bisa memberiku keturunan," sambung Byakta lagi tanpa perasaan.
Audrey hanya mengangguk, ia hanya bisa menahan pilu di dalam hatinya, dari semua penjelasan Byakta juga menjelaskan bahwa dia bukan siapa-siapa meski laki-laki itu menikahinya, kecuali hanya dianggap sebuah mesin pembuat anak.
Namun Audrey harus menahan itu semua demi keberlangsungan pengobatan adiknya. Tempo hari ia meminta pada Bastian untuk merahasiakan tentang adiknya, ia tidak ingin orang mengasihaninya hanya karena adiknya pesakitan.
Bastian pun menyetujui permintaan Audrey, karena gadis itu sampai memohon hingga mau bersujud di kakinya.
Setelah menandatangani surat perjanjian yang berisi peraturan selama menjadi istri Byakta, Audrey permisi untuk segera pergi. Karena ia akan pergi kerumah sakit untuk melihat dan menemani adiknya.
Mulai hari ini ia memutuskan untuk berhenti bekerja, karena ia hanya akan fokus dengan kesembuhan adiknya dan mempersiapkan diri menjadi istri mesin pencetak anak untuk orang kaya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Noor Sukabumi
miris bnget hidup Audrey,eh pak bos jg galak2 lah ntar kalau dah bucin mlh repot sendiri loh
2024-01-29
0
Rugun Sitanggang
kasihan thoor audrey nya.... 😌
2023-07-11
0
Rugun Sitanggang
sadis...
2023-07-11
0