Suara pecahan kaca yang berasal dari sebuah gelas mengagetkan Audrey, ia segera bangun dari tidur pulasnya.
"Ku pikir kau mati, ternyata masih hidup!" Byakta menyeringai melihat raut bingung Audrey.
"Eh, apa terjadi sesuatu, Tuan?" tanya Audrey polos.
Ia melihat pecahan beling yang berserakan di lantai tidak jauh dari tempatnya tidur tadi malam.
"Cepat bangun! Kau pikir sedang berlibur dan menginap di kamar hotel? Dasar tidak berguna!" Teriak Byakta dengan napas naik turun menahan emosi.
Membuat Audrey beringsut ketakutan, memang apa masalahnya sehingga laki-laki yang baru satu malam menjadi suaminya itu sudah berteriak padanya.
"Ba-baik, Tuan." Audrey segera mengemasi tilam dan selimutnya.
Sekilas ia melirik ke arah jam dinding, ternyata waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi. Ia tidak tahu kenapa suaminya itu memintanya untuk bangun sepagi ini.
Setelah selesai mengemas tilam dan selimutnya, Audrey pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, ia tak mungkin mandi sebab melihat raut tidak bersahabat suaminya saja sudah ketakutan.
Meski hatinya sesak, ia berusaha menahannya agar tidak menjadi bulir bening yang akan membasahi matanya.
'anggap saja kalau aku masih tinggal dengan Mama Charlotte, bahkan dia sering memperlakukan aku lebih dari sebuah bentakan' Gumam Audrey dalam hati.
Tidak masalah jika hanya di bentak, karena ia sudah menerima uang lebih dari cukup untuk mengobati adiknya. Anggap saja ini adalah bagian dari pekerjaannya, yaitu menahan sakit hati.
"Tuan, saya akan turun ke bawah, apa anda mau saya buatkan kopi?" tanya Audrey setelah keluar dari kamar mandi.
"Kau lupa siapa dirimu? Kau bukan istriku, jadi berhenti berlagak seolah-olah kau adalah istriku yang harus melayani semua kebutuhan ku. Ingat! Persiapkan dirimu untuk pekerjaanmu, aku akan memulainya besok malam, pastikan kau sudah membaca semua peraturan ketika tidur denganku,"
Setelah mengatakan itu, Byakta pergi meninggalkan Audrey yang masih terdiam mencerna semua yang dikatakan suaminya.
Ia ingat semua kertas-kertas yang diberikan oleh Bastian padanya, ia mengambil susunan kertas itu dari dalam travel bagnya, ia membaca ulang semua peraturan tertulis ketika tidur dengan Byakta.
Tidak boleh bersuara apalagi sampai mengeluarkan ******* ketika berhubungan. Pihak wanita harus menutup wajahnya dari saat akan memulai sampai Byakta selesai dengan urusannya. Dan masih banyak lagi peraturan tidak masuk akal yang tidak Audrey mengerti.
Meskipun bingung dengan semua peraturan yang mereka buat, Audrey juga enggan bertanya, ia hanya cukup melakukannya tanpa membantah, begitu tulisan terakhir yang ia baca dari kertas-kertas tersebut.
Gadis itu memegang dadanya, ada yang sakit di dalam sana, sekeras inikah hidup? Ia sampai harus menyewakan rahimnya hanya untuk dia dan adiknya bertahan hidup.
Pukul tujuh pagi, Audrey meminta izin kepada bibi Lauren untuk pulang ke rumahnya sebentar, untuk mengambil barang yang dia butuhkan, begitulah dia berpamitan.
Awalnya bibi Lauren mencegahnya dengan mengatakan kalau Audrey bisa membeli yang baru, namun dengan bujuk rayu akhirnya ia mengizinkan Audrey pergi.
Tidak ada yang tahu tentang Rayyan kecuali Bastian, jadi sebisa mungkin Audrey menciptakan alasan supaya bisa keluar dari rumah besar itu.
Hari ini selain pulang ke rumahnya, Audrey juga berniat mengunjungi adiknya di rumah sakit.
Setelah kepergian Audrey, Byakta keluar dari ruang kerjanya, ia sudah siap dengan setelan kantornya, seperti biasa ia akan terlihat sempurna.
Ia tampan dengan garis wajah tegas dan berkharisma, hidung mancung, bibir tipis yang tampak merah menggoda, siapapun tidak akan menolaknya walau hanya sekedar one night stand.
Namun, Byakta bukan laki-laki penjajah wanita, ia cukup menjaga itu semua, meski sebelum menikahi Audrey ia sudah tiga kali menduda, tapi tetap saja ia tidak pernah memanfaatkan keadaan untuk bermain puas dengan wanita-wanita itu.
Jangankan berpikir bisa menikmati mereka, bahkan setiap akan tidur bersama mereka, Byakta selalu meminum sesuatu terlebih dahulu untuk menaikkan gairahnya.
Selain itu ia sama sekali tidak berselera dengan wanita-wanita itu, sesuai kesepakatan jika wanita itu tidak hamil dalam waktu tiga bulan, ia akan langsung menceraikannya.
Berbeda dengan Audrey, gadis berwajah polos dengan tubuh yang kurus seperti kurang gizi, hanya saja punya kelebihan berkulit putih bersih itu, mampu membuat Byakta tak bisa tidur semalaman.
Mungkin laki-laki itu sudah bisa mencatatnya sebagai sejarah dalam hidupnya, padahal wanita-wanita sebelumnya adalah wanita-wanita berkelas yang memiliki tubuh bagus depan belakang.
Namun semua itu sama sekali tidak mempengaruhi kenormalan seorang Byakta, bahkan ia terkesan seperti laki-laki kurang normal dalam urusan intim.
"Pagi, Bibi. Apakah tidurmu nyenyak tadi malam?" Byakta menyapa bibi Lauren seperti biasa.
"Pagi, By. Tentu saja tidur bibi nyenyak, karena sekarang kamu sudah bersama gadis yang tepat," jawab bibi Lauren sambil tersenyum.
Byakta hanya diam tidak lagi menimpali ucapan bibi Lauren barusan, menurutnya Bibi Lauren terlalu mempercayai wajah polos gadis itu, sedangkan dia tidak sepolos itu.
"Tadi dia izin pergi ke rumahnya, untuk mengambil beberapa barang miliknya, bibi sudah melarang dan akan membelikannya yang baru, tapi tetap saja dia ingin pergi," jelas bibi Lauren.
"Terserah dia mau melakukan apa, aku tidak peduli. Tapi, begitu dia mengandung anakku nanti, tolong bibi pastikan dia tidak keluar rumah sampai anakku lahir," sahut Byakta acuh. Dia memang tidak peduli dengan gadis itu, dia hanya fokus dengan tujuannya yaitu mendapatkan keturunan lalu segera menceraikannya dan hidup bahagia bersama anaknya nanti.
Bibi Lauren hanya bisa menghela nafas tidak lagi menimpali ucapan Byakta, namun di otaknya sudah tersusun beribu cara untuk menyadarkan keponakannya itu bahwa semua wanita tidaklah sama.
Jika yang satu jahat, belum tentu yang lain jahat juga, begitulah manusia ada sisi buruk dan baiknya masing-masing, kita juga sebagai manusia tidak boleh menjudge bahwa semua sama, tanpa mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Noor Sukabumi
pak bos awas ntar bucin loh jg dingin2 bos ntar beku loh eh emang dasarnya kulkas 12 pintu
2024-01-29
0
Arbellbela
kalu aq akn ubayangkan Wang Yibo Aja yg dinginya sprti es ...😁😁😁
2023-05-16
1
Ida Ida
trs ibu byikta kmna thor
2023-02-26
0