Suara pecahan benda yang terbuat dari kaca terus menggema di sebuah rumah sederhana.
Sesekali terdengar jerit tangis seorang anak kecil, terkadang juga meraung meminta ampun.
"Dasar anak pembawa sial! Mati saja kau!" hardik wanita itu, yang tidak lain adalah ibunya sendiri. Sekali lagi benda kaca itu pecah entah membentur apa.
Diikuti dengan jeritan seorang anak berumur enam tahun, ia hanya bisa meraung dan menangis.
"Ampun!" pekik anak tersebut.
Suaranya terdengar pilu, entah rasa sakit seperti apa yang ia rasakan di dalam sana, membuat iba jika orang mendengarnya.
"Maryam, hentikan! Kau bisa membunuh anakmu sendiri!" teriak Lauren dari luar rumah sambil menggedor-gedor pintu rumah sederhana tersebut.
"Sial, pintunya di kunci!" Gerutu Lauren kesal.
"Pergilah, jangan ikut campur! mau dia mati atau tidak, itu bukan urusanmu!" sahut seorang wanita dari dalam rumah tersebut.
Nada bicaranya penuh dengan emosi, entah apa yang membuatnya seperti itu, semua dimulai sejak kematian sang suami tiga tahun lalu. Wanita itu terus menyiksa anak kandungnya sendiri tanpa belas kasih sedikit pun.
"Kau jangan bodoh, Maryam! Dia itu anakmu, apa kau tidak menyayanginya?" pekik Lauren emosi, ia tak habis pikir bagaimana seorang ibu tidak memiliki belas kasih sedikit pun pada putra satu-satunya.
"Bibi aku mau keluar, tolong aku bi!" teriak bocah berumur enam tahun itu.
Suaranya menyiratkan betapa ia ketakutan dan kesakitan, Lauren benar-benar tidak tahu harus melakukan apa saat ini.
Ia tidak menjawab ucapan bocah itu, karena terdengar kembali wanita yang bernama Maryam itu memukulnya lagi.
Lauren berlari ke rumah tetangga terdekat untuk meminta bantuan, syukur masih ada yang mau membantu di tengah malam.
Guyuran hujan yang begitu deras, membuat suara gaduh di rumah sederhana itu, tidak dapat didengar oleh tetangga sekitar.
Masih beruntung Lauren datang tepat waktu, entah mengapa hatinya tiba-tiba menjadi tak enak saat mengingat keponakannya.
Untung saja masih ada tetangga yang terjaga di waktu tengah malam itu, setelah memberi tahu apa yang terjadi. Mereka bergegas menuju rumah tadi untuk menyelamatkan bocah yang sedang dianiaya ibunya sendiri.
Tanpa basa-basi lagi mereka segera mendobrak pintu itu, tampaklah bocah berumur enam tahun itu terkapar dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
Dahinya berlumur darah, tubuhnya penuh luka lebam, entah apa yang sudah ibunya lakukan hingga ia menjadi kritis seperti itu.
Tanpa menunggu lagi, Lauren dan beberapa warga yang menolongnya segera membawa bocah itu ke rumah sakit supaya mendapat pertolongan.
Sedangkan sebagian lagi mengamankan wanita yang menganiaya anaknya sendiri dan menyerahkannya kepada pihak yang berwajib.
_________________
Hingga saat ini semua masih begitu jelas, pukulan dan amukan wanita yang bernama Maryam itu di benak Byakta.
Segera ia membuka laci nakas dan mengambil obat-obatan yang membantunya menenangkan diri jikalau masa kelam itu kembali menghantuinya.
"By, ada apa?" tanya wanita paruh baya itu khawatir.
Wanita paruh baya itu langsung berlari dari kamarnya, saat mendengar teriakan keponakannya yang begitu kuat.
Tidak hanya Laure, beberapa penjaga dan asisten rumah tangga yang belum tidur pun, ikut panik saat mendengar tuan mereka berteriak sangat kencang di dalam kamar.
Byakta yang masih mengatur napas dan debaran jantungnya hanya menggeleng, bayangan itu selalu datang setiap kali ia terlalu stres akan satu hal.
Setelah meminum obat yang ia ambil dari dalam laci nakas, Byakta merasa sedikit tenang, keringat yang tadi mengucur membasahi tubuhnya perlahan hilang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Borahe 🍉🧡
pernah baca tapi lupa jln ceritanya
2025-02-13
0
Noor Sukabumi
oh gitu toh cerita masa lalunya byakta
2024-01-29
0
Rugun Sitanggang
keseleo lidah nyebut nama namanya.... 😂
2023-07-10
0