Merindukan orang-orang yang sudah kembali pada yang maha kuasa adalah rindu yang paling sakit.
Dimana saat kau merindukannya tapi kau tak bisa melihat wajahnya, memeluknya atau hanya sekedar mendengar suaranya lewat sambungan telepon mu.
Itulah yang Audrey rasakan saat ini, ingin rasanya ia menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya, namun saat ini yang bisa ia lakukan hanya mengusap nisannya.
Gadis itu duduk setengah bersandar di nisan makam ayahnya, seperti ingin memperlihatkan kepada ayahnya betapa dia rapuh dan butuh sandaran.
Sekuat dan setegar apapun ia berusaha untuk tidak terlihat rapuh, pada akhirnya ia akan lemah jika sudah merasa di dekat ayahnya.
"Ayah, aku kuatkan? Ayah selalu mengatakan itu padaku dulu. Tapi, bolehkah sekali saja aku mengeluh? Setelah itu aku akan kuat kembali untuk melindungi adik, sekali saja ayah!"
Tetes demi tetes bulir itu jatuh bersamaan dengan sesak yang teramat sangat "ayah, Rayyan koma saat ini, aku sendiri ayah. Maaf, kalau aku lemah dan menangis, tolong jangan katakan pada Rayyan kalau aku adalah kakak yang lemah dan cengeng, dia pasti akan mengejekku nanti,"
Gadis itu sesenggukan di makam ayahnya, menumpahkan semua sesak yang menghimpit dadanya.
Ia mengingat semua yang sudah terjadi akhir-akhir ini, adiknya yang kritis membutuhkan biaya cepat untuk operasi, hingga ia tidak punya pilihan lain, selain mengikat janji yang tidak masuk akal kepada orang kaya raya dengan cara menikah.
Ia juga ingat ucapan Byakta tadi pagi, bahwa malam ini pekerjaannya akan dimulai, berhasil atau tidak dia hamil semua harus dijalankan sesuai perjanjian.
"Ayah, sudah cukupkah aku berkorban? Apakah sekarang ayah masih bangga padaku, setelah semua yang sudah aku lakukan?"
'Menyewakan rahimku untuk mendapatkan uang'
Gadis itu bergumam di dalam hati, ia tidak ingin mengatakan semua itu meski hanya di hadapan makan ayahnya.
Di sebuah pohon besar yang tidak jauh dari tempat makam ayahnya Audrey, ada seseorang yang sejak tadi mendengarkan semua keluh kesah Audrey.
Ada rasa iba di dalam hatinya melihat gadis malang itu menangis sesenggukan di makam ayahnya.
Setelah kepergian Byakta tadi pagi, Bibi Lauren menghubungi Bastian untuk menjaga Audrey dari jarak jauh, ia sengaja memerintahkan Bastian langsung karena ia percaya kalau laki-laki itu bisa melakukannya dengan baik tanpa sepengetahuan Byakta.
Dan disinilah dia saat ini, berdiri di balik pohon besar itu tanpa di sadari gadis itu sejak tadi, bahkan Bastian sudah mengikutinya saat gadis itu berada di rumah sakit.
Bastian juga baru menemukan fakta baru bahwa Audrey adalah yatim piatu, ada rasa bersalah di dalam hatinya telah menjerumuskannya dalam kehidupan bos sekaligus sahabatnya yang hatinya sudah mengeras itu.
Kini ia tahu, seberapa rapuhnya gadis malang itu, bahkan tangisnya kali ini lebih memilukan dan menyayat hati daripada yang di rumah sakit waktu itu.
"Ayah, aku akan kembali lain hari, aku akan kembali bersama Rayyan nanti, ayah jangan khawatir, ya. Aku adalah anak perempuan ayah yang paling kuat, aku tidak akan mengecewakan ayah, aku akan menjaga Rayyan seperti janjiku dulu, selamat tinggal ayah,"
Audrey bergegas pergi keluar dari area pemakaman, ada sedikit lega di hatinya setelah menangis cukup lama di makan ayahnya.
Ia akan kembali ke rumah besar itu lagi, dan menjadi dirinya yang lain lagi, ia berharap semua berjalan dengan baik, satu tahun saja kan? Begitu ia menyemangati hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Rhmad Flash
visaual ya tor
2024-05-02
0
Noor Sukabumi
nyesek bnget thor rasanya😭😭😭😭😭
2024-01-29
0
Emn Sc
pilu x rasa NY .. nyesek...
2023-07-22
0