Brakkk ...
"Ada apa Sat? Kenapa kau mengerem mendadak?" tanya Damar heran saat mobilnya berhenti mendadak. Bahkan kepalanya hampir membentur sandaran kursi pengemudi kalau saja tangannya tidak reflek menahan.
"Ada mobil yang melaju kencang hampir menabrak kita tuan. Tapi untung saja dia segera membanting stir jadi mobil itu tidak menabrak kita. Tapi ... "
"Tapi apa?" tanya Damar yang tangannya kembali sibuk di atas layar tablet miliknya.
"Mobil itu menabrak pembatas jalan tuan," ucap asisten sekaligus sopir pribadi Damar dengan wajah pias saat melihat asap mulai mengepul dari kap mobil yang tadi menabrak pembatas jalan.
Damar yang mendengar hal tersebut lantas mendongak dan menoleh ke luar jendela mobilnya. Matanya membulat saat melihat asap tebal keluar dari kap mobil tersebut.
Tanpa banyak bicara, Damar segera membuka pintu mobilnya lalu berlari menuju mobil tersebut. Tampak beberapa pengguna jalan juga menepikan kendaraan mereka dan berlari ingin membantu korban kecelakaan itu.
Pintu yang terkunci dari dalam membuat pintu mobil tersebut sulit dibuka. Dapat Damar lihat, pemilik mobil itu sudah dalam keadaan pingsan. Asap pun sudah mulai memenuhi bagian dalam mobil. Pikirnya, ia harus segera mengeluarkan perempuan itu kalau tidak ia bisa mati kesulitan bernafas. Damar lantas mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memecahkan kaca jendela mobil itu. Namun, ia tidak menemukan apapun. Lantas ia merogoh saku jas bagian dalam dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Kemudian ia arahkan moncong benda tersebut ke arah lubang kunci dan dalam sekali tarikan, kunci itu terbuka atau lebih tepatnya rusak sehingga Damar bisa membuka pintu mobil itu dengan mudah tanpa menimbulkan kebisingan sama sekali.
Setelah pintu mobil terbuka, ia kembali menyimpan benda tersebut ke dalam saku jasnya. Asisten pribadinya hanya bisa menelan ludah saat melihat atasannya sudah seperti seorang mafia yang memiliki senjata api di balik saku jasnya.
Brakkk ...
Damar membuka kasar pintu mobil itu sehingga asap mulai keluar dari dalam mobil. Lalu Damar melepaskan seat belt yang membelit perempuan itu dan menggendongnya keluar dari dalam mobil.
Saat ia sudah berjalan cukup jauh, percikan api mulai keluar dari dalam kap mobil dan perlahan menjalar kemudian berubah menjadi kobaran yang cukup besar.
"Sat, segera ke rumah sakit," seru Damar saat ia telah membawa perempuan itu ke dalam mobil miliknya.
Patuh pada atasannya, Sat pun segera memacu mobil itu dengan kecepatan yang cukup tinggi meninggalkan kerumunan yang masih tampak heboh akibat kebakaran mobil itu.
Sepanjang perjalanan, Damar menatap ke wajah perempuan itu. Dahinya terluka cukup serius sehingga darah mengalir begitu deras. Damar mengernyitkan keningnya saat melihat kelopak mata perempuan itu yang terlihat sembab dengan hidung memerah. Disentuhnya pipi perempuan itu yang terasa basah.
'Dia ... baru saja menangis. Apa kecelakaan ini memang disengajanya? Ah, tidak mungkin. Mana mungkin dia tega meninggalkan kedua buah hatinya yang begitu lucu-lucu," batin Danar bermonolog.
Setibanya di rumah sakit, Damar pun segera meminta pihak rumah sakit untuk menangani keadaan perempuan yang ternyata adalah Oryza itu. Damar tersenyum simpul saat melihat nama yang tertera di kartu tanda pengenal milik Oryza.
'Oryza Sativa ... Nama yang unik.," monolog Damar lagi.
...***...
Plakkk ...
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri Hendrik. Hendrik bergeming di tempatnya, seolah telah siap menerima segala caci maki dari ibunya.
"Jadi ini kerjaanmu selama ini, hah? Meeting di luar kota? Begitu? Di saat anak dan istrimu sakit, kau malah sulit dihubungi? Ternyata kau sedang bermesraan, hah?" seru Oma Neni dengan wajah memerah di luar ruang rawat inap Oryza.
Ya, setibanya di rumah sakit, Damar meminta Sat segera menghubungi keluarga Oryza. Dengan berbekal ponsel milik Oryza, Sat mendapatkan nomor Hendrik. Beruntung ponsel itu dikunci menggunakan sensor sidik jari jadi Sat bisa membukanya setelah menempelkan jari telunjuk Oryza di tempatnya. Namun setelah mencoba menghubungi beberapa kali, panggilan itu tak kunjung diangkat jadi Sat berinisiatif menghubungi nomor lain yang sering dihubungi Oryza yang ternyata itu nomor ibu mertuanya.
Oma Neni benar-benar terkejut saat mengetahui kalau menantunya mengalami kecelakaan hingga mobilnya terbakar.
Setibanya di rumah sakit, Oma Neni tak henti-henti mencoba menghubungi Hendrik tapi panggilannya tak satupun diangkat. Hingga ia melihat video kiriman tetangga lamanya. Matanya membulat sempurna saat melihat video putra dan selingkuhannya .
'Apakah video itu yang membuat menantuku jadi kacau hingga berakhir kecelakaan? Bener-bener keterlaluan si Hendrik. Dasar, anak nggak berguna," umpat Oma Neni geram.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
kebiri aja kalau doyan cuci botol. biar anak org ngk jadi korban lepehan
2024-10-17
0
himmy pratama
kapok lu drik
2024-09-15
0
Raufaya Raisa Putri
bang sat... NM panjang ny satria fu bkn y?!
2024-06-14
0