Fragmen 15 : Yang Kai Tunggu
Tubuh Kai tampak berpendar sesaat sebelum seluruh pakaian usangnya berganti menjadi pakaian yang baru.
Kai tersenyum karena Sistem telah menunjukkan padanya begitu banyak keajaiban. Bahkan kini dia bisa berganti pakaian dengan sangat praktis bagaikan seorang pesulap ternama.
'Saatnya untuk melanjutkan perjalananku ke Cijagung,' pikir Kai dalam hati.
Ceklek!
Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Kai terkesiap. Dia lupa kalau masih ada satu orang lagi yang berada di dalam kamar motel ini.
"Katanya kamu mau nyusul aku buat mandi bareng?" tanya suara merdu wanita berkimono handuk seksi yang keluar dari dalam kamar mandi.
"Eh!" wanita itu terdiam dalam keterkejutan saat melihat sosok Kai yang tengah berada di dalam kamarnya.
Kai yang sadar kalau wanita cantik tersebut hendak berteriak minta tolong dengan cepat melesat untuk membekap mulut wanita tersebut agar tidak bisa berteriak.
'Tol... HMPH!'
BRAK!
Gerakan Kai sangatlah kasar. Membuat tubuh wanita tersebut terdorong hingga membentur dinding.
'Eh...! Apa ini?!'
Kai melihat sebuah icon hologram berbentuk dollar melayang di atas kepala sang bidadari. Kai memfokuskan konsentrasinya pada icon hologram itu hingga sebuah panel keterangan hologram muncul di sebelahnya.
[Scavenging Source]
[Pleasure Money]
[Setiap kenikmatan yang Host berikan akan dikonversikan menjadi uang. Semakin besar kenikmatan yang diberikan, semakin besar pula uang yang didapatkan.]
'Inilah yang kutunggu-tunggu. Sumber penghasilanku,' gumam Kai senang.
Kai yang senang dengan kemunculan Scavenging Source pertamanya, semakin senang saat dia tahu kalau sumber penghasilan pertamanya berhubungan dengan kegiatan esek-esek.
'Untung saja barusan aku memasang Sexual Intercourse dan Moan Merchant ke dalam Activation Field,' ujar Kai bangga akan keputusannya yang tepat.
Kai perhatikan wajah wanita cantik setengah baya yang dibekapnya itu memerah. Ada ekspresi takut yang tampak di wajahnya.
Namun...
Kai juga melihat sepertinya ada segurat ekspresi penuh gairah yang tercitra di wajah wanita tersebut.
'Dia tampak begitu bergairah. Apakah ini adalah efek dari skill Moan Merchant?'
[Benar Tuan. Setiap sentuhan yang Tuan berikan. Besar ataupun kecil, lembut ataupun kasar, sengaja ataupun tidak. Dapat meningkatkan gairah dari lawan main Tuan.]
'Luar biasa. Bahkan bekapan kasarku dapat membuat seorang wanita menjadi gila begini,' Kai terkagum atas efek luar biasa dari skill yang dia miliki.
Walaupun sudah berada di atas angin karena sang wanita sudah hanyut oleh arus libidonya sendiri, Kai tetap bersikap hati-hati dengan membuka toko Sistem untuk membeli sebuah pisau lipat yang berkualitas.
"Hmph!" wanita berkimono memekik ketakutan saat pisau lipat Kai menyentuh batang kerongkongannya.
"Sssst... Jangan teriak kalau kau masih ingin hidup!" bisik Kai dengan nada dingin.
Kai menunjukkan dominasinya. Menegaskan pada sang wanita kalau lelaki yang dihadapinya saat ini bukanlah lelaki yang biasa saja.
'Mari kita lihat... Sebesar apakah uang yang bisa kudapatkan dari Sistem,' bisik Kai penasaran.
...— Bersambung —...
Fragmen 16 : Pria Pengganti
Tanpa sengaja kutatap sinar mata milik bocah yang tengah membekapku tersebut. Sinar mata itu sangat dingin, tenang, namun juga begitu menghanyutkan.
Sang pemuda berhasil membuatku lemas lunglai. Pasrah tak berdaya. Aku heran. Kok bisa-bisanya seluruh pengalaman dan pengetahuanku sebagai wanita panggilan seakan tak berguna ketika berhadapan dengan si bocah kurang ajar.
"Hmph!" aku terhenyak ketakutan saat pemuda itu tiba-tiba menyilangkan sebilah pisau lipat ke arah leher jenjangku.
"Sssst... Jangan teriak kalau kau masih mau hidup!" ancamnya tanpa meninggikan suara.
Aku mengangguk dalam rasa takut setelah kurasakan dominasi yang begitu luar biasa.
Melihatku menurut pasrah, sang pemuda akhirnya membuka bekapannya secara perlahan. Membebaskan suaraku. Tapi tidak dengan pisau di leherku.
Setelah bekapan terlepas, nafasku perlahan mulai teratur. Secara aneh hasrat birahiku langsung mengendur hingga aku berhasil mendapatkan akal sehatku kembali.
"Si... Siapa kamu? Kenapa kamu bisa ada di sini? Dan kemanakah gerangan...?" tanyaku sambil berusaha mencari sosok si Kakek tua yang seharusnya masih berada di sini.
"Kau pikir aku akan menjawab pertanyaanmu?"
Dia benar. Bodohnya aku berpikir kalau dia akan memberitahukan segalanya padaku.
"A... Apakah kamu ingin uang? Kamu bisa mengambil uang yang ada di dompetku. Asalkan kau bersedia untuk melepaskanku," ujarku bernegosiasi.
"Aku tidak membutuhkan uang," jawabnya singkat.
"Ka... Kalau begitu apa maumu?" tanyaku gemetar.
"Apa mauku?" tanyanya balik sambil tersenyum mengejek.
"Awh!"
Brug!
Aku sontak berteriak saat dia dengan kasar mencengkram tanganku lalu melemparkanku ke atas permukaan ranjang.
Cklek!
Kuteguk ludahku ketakutan saat kulihat bocah itu kini tak lagi bersenjatakan pisau. Dia berdiri sambil menodongkan handgun pistol berjenis revolver.
Gila! Bocah ini memiliki senjata yang lengkap.
"Siapa namamu?" tanyanya padaku.
"Namaku... Lae... Laela. Laela Ramlan," jawabku gelagapan.
"Kau pasti sudah tahu apa yang ku mau," dengan menggerakkan ujung pistolnya dia berisyarat memintaku untuk menanggalkan kimono yang tengah kukenakan.
"Se... Sekarang?" tanyaku gemetaran.
Sang pemuda tak berkata apa-apa. Hanya tatapan matanya saja yang dengan tajam mengintimidasiku.
"Ba... Baiklah..." jawabku gemetaran.
Aku berdiri lalu berbalik badan memunggungi bocah tersebut. Sulur jubah kimono yang menali kutarik hingga terbuka. Tanpa berusaha kutahan, kimono handuk yang kukenakan jatuh ke atas permukaan lantai.
Aku sebenarnya tak rela saat pria ini dapat dengan jelas melihat garis tulang seksi yang membagi punggungku. Tapi mau bagaimana lagi. Semua ini kulakukan demi keselamatanku sendiri.
Greb...
Pemuda tersebut melingkarkan kedua lengannya dari belakang punggungku. Ujung selongsong pisau revolver yang dingin menempel di mulut guaku. Sementara tangannya yang lain merambat naik untuk membelai lembut dada bulatku.
"Laela..."
"Hmmh..." jawabku setengah mendesah.
Bocah ini belum melakukan pergerakan yang serius. Namun gerbang surgaku sudah bergetar dengan begitu hebat ingin segera dimasuki.
"Namaku Kai," pemuda tersebut akhirnya memperkenalkan dirinya sambil terus bergerak menikmati permukaan halus kulitku.
Entah nama asli ataukah nama samaran. Tapi kalau begini terus, maka malam ini aku akan banyak meneriakkan nama tersebut.
"Sesuai dugaanku. Walaupun kau sudah tak muda lagi. Tapi tubuhmu begitu mempesona." Kai memujiku sambil meremas lembut bongkah bulat di dada kiriku. Dan bangsatnya aku pun tersipu.
"Kau siap?" tanya Kai sambil menghisap dalam aroma leherku sebelum mulai bergerak mencium, memijat dan membelai seluruh tubuhku.
Revolver di tangan Kai kini sudah menghilang. Kai sudah tidak bersenjata lagi. Sebenarnya ini adalah kesempatanku untuk teriak meminta pertolongan.
Tapi...
Bukannya meminta tolong. Aku malah melenguh dan melolong.
Dari belakang punggungku Kai mengarahkan kepalaku agar sedikit mendongak. Kai memagut bibirku dengan penuh nafsu. Pagutan yang tidak kasar dan juga tidak terlampau lembut. Ini adalah pagutan ternikmat yang pernah kurasakan seumur hidupku.
Aku mulai lupa kalau di sini aku adalah korban dan Kai adalah pemerkosa. Seluruh milidetik yang terlewati terasa begitu memabukkan. Membuatku merasa sedang berada di dalam Surga dunia.
Ah...
Susahnya hidup menjadi wanita binal. Bahkan diperkosa pun aku malah keenakan.
Tapi ya sudahlah... Toh inilah aku. Seorang bidadari binal yang berharap garukan pada dinding kenikmatan.
Lagipula...
Selama Kai bisa memberikanku kenikmatan yang sedahsyat ini, seharusnya aku tak merasa keberatan. Bahkan seharusnya aku merasa bersyukur karenanya.
...— Bersambung —...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Sutardi Sutardi
lanjut
2022-08-06
2
Kaylha✌️✌️
wow...
lanjut
2022-06-04
2
Jimmy Avolution
Ayo...ayo...
2022-05-02
2