Fragmen 27 : Dibayar Mahal
Laela keluar dari dalam kamar mandi terbalut kimono hitam berbahan satin dengan aksen bordir emas.
Pasca menyeduh kopi, Laela menemui Kai yang sedang bersantai di balkon lantai lima.
"Kopi Kai?" Laela mengangkat gelas kopinya.
"Duduk La," jawab Kai sambil mengangkat botol mirasnya.
Setelah sempat hening sesaat. Kai akhirnya membuka percakapan.
"La..."
"Hmm?"
"Aku rencananya mau berlatih beladiri secara intensif selama 40 harian di pegunungan."
"Apakah kau memintaku untuk tidak menghubungimu selama 40 hari ke depan?"
"Sebaliknya. Aku ingin menyewamu agar menemaniku selama aku berlatih."
"Menyewaku?"
Bila itu untuk menemani Kai, Laela sebenarnya rela jika tidak dibayar. Tapi sebagai escort profesional, Laela pun tidak akan menolak jika Kai berniat untuk membayar jasanya.
"Ya. Ini 300 ribu Haipur. Terimalah!"
Laela terkesiap. Jika ditambahkan dengan 200 ribu yang diberikan Kai sebelumnya. Maka bisa dikatakan Kai sudah membayarnya 500 ribu Haipur. Ini sangat besar bila dibandingkan dengan tarif Laela yang hanya 5.000 Haipur per malam.
"Ini baru DP. 2,5 juta lagi akan kubayar kemudian," janji Kai.
Laela kembali terhenyak. 3 juta Haipur untuk sewa satu bulan.
'Sekaya apakah Kai ini?' tanya Laela di dalam hati.
"A... Aku bersedia..." Laela tergagap karena bahagia.
"Baguslah," jawab Kai sambil memperbaiki posisi duduknya. Dia kembali asyik menikmati cerutu dan mirasnya.
Karena akan pergi dalam jangka waktu yang lama, Laela harus mengabari putrinya terlebih dahulu.
Tuut... Tuut... Tuut...
Ckrek.
"Halo De?"
"Haloh... Iyah... Ah... Mah... Auh... Ada... Apah..." Laela seketika itu juga ingin membanting handphone nya saat dia dengar putri semata wayangnya menjawab sambil diiringi dengan bunyi tabrakan kulit.
'Sialan!' Laela langsung menutup teleponnya.
Sebejat apapun akhlaq seorang Ibu, tetap saja mereka akan sedih bila anak yang dicintainya adalah seorang maniak.
Tapi Mau bagaimana lagi...
Laela telah memberikan contoh buruk bagi sang anak sejak dia lahir ke dunia. Sehingga mau nggak mau Laela harus mendukung kelainan anaknya tersebut agar sang anak tidak kabur meninggalkan dirinya.
...— Bersambung —...
Fragmen 28 : Malaikat Agung
16 tahun yang lalu aku bukanlah seorang escort. Aku adalah seorang Mahasiswi semester akhir yang cukup berprestasi.
Sayangnya...
Dibalik diriku yang berprestasi, aku tidak cukup bijak dalam mengambil keputusan dalam hidup. Yang akhirnya membuatku berada dalam masalah yang cukup besar.
...— x —...
Hari itu di kantin fakultas aku sedang maksi dengan kekasihku. Namanya Agung. Usianya 10 tahun lebih tua dariku. Dia adalah salah satu dosenku di kampus. Kami saat itu baru berpacaran selama satu semester.
Agung memang berpenampilan nerdy dan juga tidak rupawan. Tapi Agung yang setia memburu perhatianku sejak semester pertama adalah orang yang selalu tulus membantuku. Terutama untuk urusan perkuliahan.
...— x —...
"Kenapa La...? Kayak yang mumet banget," tebak Agung.
"Gung... Kalau kamu tak membantuku dalam melobi kampus di awal semester kemarin. Pasti aku sudah tidak akan kuliah di sini lagi."
"Apaan sih La..." Agung bersikap tak acuh padaku.
"Beneran Gung... Aku berterima kasih padamu soal itu," Agung tak menjawab.
"Tapi Gung... Masih ada yang belum kuceritakan padamu," ucapku serius. Waktu itu aku merasa kalau kami sudah berpacaran cukup lama. Dan sudah saatnya Agung mengetahui seluruh masalah hidupku.
Agung meletakkan sendok makannya. Dia tahu kalau yang akan kukatakan adalah perkara yang sangat serius.
"Kamu tahu kan kalau aku yang terlahir miskin dan bekerja serabutan ini tidak mungkin bisa mencukupi kehidupanku sehari-hari. Apalagi kalau harus ditambah dengan berbagai beban kuliahku yang nggak masuk akal," Agung diam menyimak.
"Jadi agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar kuliah. Aku memutuskan untuk rutin berhutang ke koperasi."
"Jangan-jangan koperasi yang kau maksud?"
"Ya Gung... Ternyata mereka adalah rentenir."
"Seingatku aku hanya memiliki hutang 100 ribu. Adapun bila ditambahkan bunga, hutangku maksimal paling hanya 110 ribu. Tapi karena aku tak pernah bisa membayar cicilan secara penuh. Mereka mengatakan kalau hutangku saat ini sudah mencpai 300 ribu Haipur."
Agung menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan kecerobohanku dalam mengambil keputusan.
"Yang jadi masalah... Mereka kini mengancamku akan menjualku ke pasar budak jika aku tidak kunjung dapat membayar cicilan dengan rutin."
"Berapa cicilan yang mereka minta?"
"25 ribu per bulan. Mereka ingin aku melunasi hutangku dalam 13 bulan."
"Akh... Laela..." Agung sedikit menggebrak meja. Dia telah kehilangan selera makannya.
"Kapankah deadline yang mereka minta?"
"Sekitar dua puluhan hari lagi."
Agung berdiri lalu berjalan mondar mandir dengan cepat. Dia tampak mengerutkan wajahnya karena sedang berpikir keras.
"Aku takut Gung..." bisikku pada Agung.
Perdagangan budak adalah hal yang legal di dunia ini. Dan bila seseorang telah menjadi budak. Maka seumur hidupnya dia tidak akan naik derajat. Bukan hanya dirinya, bahkan statusnya sebagai budak akan juga diturunkan kepada anak cucu mereka.
"Gung... Kalau aku tiba-tiba menghilang. Itu berarti..." ujarku pasrah pada nasibku.
"Cukup La! Kita akan temukan sosusinya!"
"Gung..."
"Serahkan padaku. Sekarang sebaiknya kita makan saja dulu... Gak baik kalau kamu jadi sakit gara-gara kurang makan," Agung yang sudah kembali duduk di kursinya mencoba memenangkanku.
"Ma... Makasih Gung..."
"Makan. Makan," kata Agung dengan nada bercanda.
Aku mungkin bukan orang kaya. Tapi aku berharap kalau nasibku dapat berubah jika aku bisa menyelesaikan kuliahku dengan baik. Dan jika aku telah menjadi budak. Maka seluruh impianku itu akan sirna untuk selamanya.
Untungnya aku memiliki Agung yang bijaksana dan selalu siap untuk membantuku.
...— x —...
Beberapa hari kemudian Aku dan Agung terlihat saling berdekapan di atas sofa tanpa busana. Tubuhku naik turun secara teratur. Membiarkan rudal besar itu mengobok liang kawinku. Sebuah kegiatan rutin yang wajar untuk dilakukan oleh sepasang kekasih.
Kami kini sedang beradu kenikmatan di ruang tamu Agung yang mewah.
Agung memang hidup sendiri di Jakarta. Selain menjadi dosen, Agung sebenarnya tidak bekerja apa-apa lagi. Fakta yang sukar dipercaya bila kita melihat bagaimana Agung hidup dalam balutan kemewahan dan juga kenyamanan.
Warisan. Itulah yang Agung bilang saat aku mempertanyakan hal tersebut.
...— x —...
Pasca bercinta dan menggantungkan pakaian sekenanya, kamipun duduk berdekapan sambil mengatur nafas yang masih tersengal.
"La... aku sudah menemukan pekerjaan yang cocok untukmu. Bayarannya 25 ribu per bulan. Pas untuk membayar cicilan hutangmu. Jadi kalau kamu mau, untuk ke depannya biar aku yang memenuhi kebutuhanmu sehari-hari. Kamu cukup fokus untuk membayar hutang," Agung berkata setelah menegak sekaleng bir di atas meja.
"Benarkah?" ujarku tak percaya.
"Tapi pekerjaan ini akan cukup sulit untuk kau lakukan?"
"Aku siap Gung! Sesulit apapun akan kulakukan asal hutangku bisa lunas."
"Baiklah. Aku sudah menuliskan data dirimu di aplikasi ini. Kamu cukup tanda tangan di ini," ujar Agung sambil menyerahkan tabletnya yang berisi kontrak kerja digital.
Aku langsung membubuhkan tanda tanganku bersama dengan berjuta rasa syukur.
Kepercayaanku pada Agung ternyata tak salah. Untung saja beberapa hari yang lalu aku memberanikan diri untuk mencurhatkan segalanya kepada Agung.
Betapa beruntungnya aku bisa mendapatkan pria yang solutif seperti Agung.
...— Bersambung —...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Izhar Assakar
kbnyakan cerita ke belakang,,amburadul jdi kita baca
2023-05-22
0
Sutardi Sutardi
jadi dewa judi aja kai,, gag usah jadi pemulung 🤣🤣🤣
2022-08-06
1
Harman LokeST
bisa bisa jadi dewa judi
2022-07-12
1