Fragmen 17 : Pleasure Money
Kai berbaring di atas ranjang. Terengah tanpa mengenakan sehelaipun pakaian. Kai menoleh ke sebelah kanan. Dia lihat tubuh polos Laela terbaring di sana.
Laela memejamkan matanya. Tubuhnya penuh keringat dan nafasnya ngos-ngosan. Wajah Laela yang berwarna merah jambu menampakkan segurat kebahagiaan karena kenikmatan yang baru saja dirasakan.
Satu jam sudah mereka bertempur di atas ranjang. Bergulat saling berusaha menghantarkan kenikmatan.
Namun tetap saja...
Kai lebih unggul segala-galanya. Sehingga yang bisa Laela lakukan hanya meneriakkan nama Kai sambil menikmati setiap getar luar biasa yang dirasakan olehnya.
Srek...
Laela menarik lengan Kai untuk dijadikan bantalan. Dia dekap erat tubuh kurus Kai sang pemberi kenikmatan.
Cup...
Kai cium ubun-ubun Laela mesra. Membuat Laela tersenyum sambil memejamkan matanya.
'Aneh...' bisik Laela dalam hati.
Jangankan saat Kai beraksi menghantarkan kenikmatan. Sekedar memeluk Kai mesra begini saja sudah membuat libido Laela bangkit ingin bergoyang lagi.
'Sudahlah La... Nikmati saja...' bisik Laela menyadarkan dirinya sendiri.
Kai biarkan Laela merabai dada dan perut legamnya sambil sesekali membelai si Dino yang tengah menjuntai kelelahan.
Saat ini Kai ingin memeriksa Bank Sistem. Dia begitu penasaran dengan seberapa banyak uang yang dia dapatkan.
'Gila! Ini gila!' ujar Kai ketika melihat uangnya telah bertambah lebih dari 800 ribu Haipur. Setara dengan dua puluhan merek motor matic kenamaan.
Dan kalau memang hasilnya begini, maka dalam tiga jam beradu nafsu saja, Kai dapat membeli mobil sport baru yang serupa dengan kepunyaan si Kakek tua.
Kai memandangi Laela yang wajahnya semakin memerah.
'Ah... Ternyata menyentuhku saja bisa membuatmu semakin bernafsu ya La...' simpul Kai dalam hati.
Kai mengintip ke arah bawah perutnya. Ternyata si Dino sudah kembali tegak berdiri. Siap untuk bertempur.
"Laela..."
"Hmm...?"
"Si Dino udah siap tuh," goda Kai sambil menunjuk si Dino dengan delikan matanya.
Laela terhenyak sesaat ketika melihat tongkat panjang hitam berdiri di pangkal paha Kai.
"Nakal!" goda Laela sambil memukul dada Kai dengan manja.
Memang si Dino termasuk ke dalam jajaran singkong jantan terbesar yang pernah Laela rasakan. Tapi berbeda dengan singkong raksasa pada umumnya. Singkong Kai sama sekali tidak menyiksa ataupun menyakitinya.
"Yuk... Lagi... Lagipula ini masih sore," bujuk Kai kembali.
Mendengar ajakan Kai, Laela tanpa sengaja melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Walaupun kata sore terdengar konyol, tapi Laela memilih untuk diam tidak menjawab. Cukup merah di wajahnya yang memberikan jawaban.
Kai yang mengerti kemudian bangkit berdiri.
"Katanya mau lanjut?" protes Laela pada Kai yang sedang mengumpulkan pakaian.
"Kita tidak akan melakukannya di sini. Kita akan pindah hotel."
"Kenapa?"
"Ikuti saja aku... Kamu nggak akan menyesal."
"Kalau begitu aku mau mandi dulu," jawab Laela yang segera bangkit untuk menuju ke kamar mandi.
"Betul juga," jawab Kai setuju.
"Hei! Kau mau kemana?" hardik Laela saat Kai berjalan mengikuti dirinya.
"Mau mandi juga."
"Ish... Nakal!" Laela cubit pipi kurus milik Kai sebelum masuk ke dalam kamar mandi dan membiarkan Kai mengikuti tepat di belakangnya.
...— Bersambung —...
Fragmen 18 : Mobil Baru
Mandi yang pada awalnya diniatkan hanya sebentar akhirnya baru selesai setelah satu jam. Dan berkat hal tersebut, uangku kembali bertambah hingga hampir mencapai satu juta Haipur.
Aku duduk memandangi Laela yang sedang mengenakan make up. Walaupun make up nya bisa dibilang sederhana, tapi tetap saja bagi para pria kegiatan itu terasa begitu lama.
Jenuh. Aku pun kembali membuka toko Sistem.
'Aku ingin membeli sebuah mobil,' ujarku pada Sistem.
[Mobil yang mana Tuan?]
Tanya Sistem sambil menunjukkan daftar berbagai jenis mobil yang bisa kubeli.
'Yang ini,' jawabku.
Aku memilih mobil Honda Civic putih edisi terbaru dengan harga lebih dari 500 ribu Haipur.
Dengan begini aku nggak perlu lagi pergi kemana-mana dengan berjalan kaki ataupun naik Taksi Online.
[Barang sudah dibeli.]
[Mobil sudah tersimpan di dalam Bank Sistem.]
'Ok. Bisakah kau pindahkan mobilku ke lapangan parkir?'
[Mobil sudah terparkir di lapangan parkir Motel.]
'Thanks Sistem,' ujarku merasa puas dengan berbagai kemudahan yang diberikan toko Sistem. Ini jauh lebih praktis daripada online shop manapun.
...— Bersambung —...
Fragmen 19 : Lebih Baik Bersamanya
Kumenoleh ke arah Kai yang sedang duduk di ambang ranjang.
"Bentar lagi ya Say..." ujarku sambil mengenakan lipstik berwarna natural.
"Santuy..." jawabnya teduh.
Selesai mengaplikasikan make up sederhana. Kupakai stilettoku dan kugendong tasku.
"Yuk!" ajakku pada Kai.
"Tak ada yang tertinggal lagi kan?" tanya Kai padaku.
"Tidak ada," jawabku.
"Sini!" ujar Kai sambil menawarkan diri untuk membawakan tasku. Aku terkesima. Mungkin dia adalah sosok Iblis berhati Malaikat yang sesungguhnya.
...— x —...
"Kok udahan lagi Mbak?" tanya mas-mas resepsionis saat aku melakukan check out dari Motel.
"Iya..." jawabku yang bingung harus menjawab apa.
"Kakekku mendadak ada urusan bisnis. Jadi aku ditugasin Kakek buat jemput Tanteku di sini," Kai membual sambil memandangi resepsionis dengan tatapan predator yang begitu tenang.
Masih ada raut bertanya-tanya di wajah sang resepsionis pria. Tapi wajah Kai yang dingin membuatnya tak berani berkata apa-apa lagi.
Selesai check out dari Motel, Kai langsung mengajakku untuk mendekati sebuah mobil Honda Civic putih yang ada di parkiran Motel.
Tit tit. Jeglek.
"Masuk!" ujar Kai sambil membukakan pintu mobil.
Bocah ini punya pisau, punya revolver, dan juga mobil yang cukup mahal. Pantas saja barusan dia menolak uang yang kutawarkan.
Aku menjadi yakin kalau bocah ini bukanlah penjahat biasa. Pasti dia adalah anggota dari sebuah kelompok mafia yang cukup besar dan terkemuka.
Kudengar para mafia memang gemar merampok orang-orang kaya. Mengingat betapa kayanya si Kakek tua. Wajar saja kalau dia menjadi target operasi para gembong mafia.
...— x —...
Mobil ini memang tidak semewah mobil sport milik Pak Tua. Tapi menurutku, mobil milik Kai ini sudah cukup nyaman untuk digunakan.
'Loh... Hotel ini kan...?' bisikku sedikit terkejut saat mobil Honda Civic putih yang kami gunakan berbelok memasuki area parkiran sebuah hotel.
Kai ternyata membawaku menuju hotel yang paling mewah dan juga mahal yang ada di area pariwisata ini.
Ah... Tidak salah lagi!
Bocah ini memang benar-benar kaya. Aku pikir mungkin kekayaannya hanya sedikit berada di bawah kekayaan si Kakek Tua.
Tapi kalau diperkenankan untuk memilih antara Kai dan si Kakek Tua. Aku jelas akan memilih untuk lanjut bersama Kai.
Selain karena kekayaannya akan membuat hidupku lebih nyaman. Kai juga bisa menghantarkan padaku berjuta kenikmatan. Tidak seperti Kakek tua yang tiba-tiba menghilang itu.
Untung saja tadi aku kena ghosting. Kalau tidak. Mungkin pemerkosaan yang indah ini tidak akan pernah terjadi.
...— Bersambung —...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Hades Riyadi
lanjut Thor 👍👍👍
2022-10-23
1
Sutardi Sutardi
somplak juga nih si kai🤣🤣🤣🤣
2022-08-06
1
RAYxy
Jangkreeek... 🤣🤣🤣🤣
mengucap kata Pulung kok lihatnya ke situ sih Kai
sakit perut nih nahan ketawanya...
2022-07-19
1